Cari

Arrahmah.Com

Berita Dunia Islam dan Berita Jihad Terdepan

Kategori

Lokal

Wahid Institute Mengaitkan Perda Syariah Penyebab Suburnya Ideologi “Teror”

Wahid Institute Mengaitkan Perda Syariah Penyebab Suburnya Ideologi “Teror”JAKARTA (Arrahmah.com) – Wahid Institute Jumat (21/8) mengeluarkan Monthly Report on Religious Issues (MRORI 21 Agustus 2009). Dalam laporannya, LSM berhaluan liberal ini mengangkat peristiwa bom di Hotel JW Marriott – Ritz Carlton sebagai topik utama dalam laporan bulan Agustus 2009.

Di samping bom, beberapa peristiwa akhir-akhir ini juga menunjukkan tren lanjutan, yang juga patut dikritik. Jika selama setengah tahun terakhir, dinamika keberagamaan sepi dari peraturan diskriminatif, namun nampaknya saat ini mulai merebak dan menjamur di berbagai daerah di Indonesia.

Beberapa di antaranya, DPRD Tasikmalaya yang saat ini tengah membahas perda bernuansa syariah, sementara Cianjur telah lebih dulu, bahkan telah merancang Gerbang Marhamah (Gerakan Pembangunan Berakhlakul Karimah) empat tahun lalu.

Di Konawe, Kendari (Sultra) melakukan pembahasan mengenai raperda zakat, sedangkan Kabupaten Bulukumba (Sulsel) bahkan telah merancang perda zakat enam tahun lalu. Demikian juga soal usulan memasukkan kewajiban memakai busana muslimah untuk siswa di Bangkalan, terkait raperda soal pendidikan yang sedang dibahas DPRD setempat.

Di Aceh, Qanun Jinayat akan menjadikan hukum pidana Islam sebagai hukum positif. Sementara pada beberapa bulan lalu Bogor berencana mencanangkan kota Bogor sebagai Kota Halal, dengan alasan selaras dengan semboyan kota tersebut sebagai kota beriman.

Dari serangkaian peristiwa yang terjadi belakangan, yang berhasil dicermati dan dihimpun Wahid Institute dalam laporan bulanannya dapat ditarik beberapa analisa antara lain; bahwa serangan di Hotel JW Marriott dan Ritz

NU: “SMS Premium Call” Ramadhan adalah Judi

NU: “SMS Premium Call” Ramadhan adalah Judi

SURABAYA (Arrahmah.com) – Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur menilai kuis berhadiah melaui SMS atau “SMS Premium Call” di televisi selama Ramadhan adalah judi.

“Itu karena harga normal SMS hanya Rp150, tapi dijual Rp2.000, lalu kelebihannya dijadikan hadiah,” kata Rais Syuriah PWNU Jatim, KH Miftachul Akhyar kepada ANTARA News di Surabaya, Senin (24/8).

Menurut pengasuh Pesantren Miftachussunnah, Kedungtarukan, Surabaya itu, hadiah yang menggiurkan seperti mobil atau haji membuat banyak orang yang tertarik dengan keberuntungan itu.

“Cara seperti itu merupakan judi, karena ada unsur untung-untungan dan ada unsur tipuan, karena pengelola SMS itu pasti untung lebih besar lagi hingga miliaran rupiah,” katanya.

Bahkan, katanya, bila fasilitas “premium call” itu digunakan menjawab kuis, maka ada uang yang masuk ke penyelenggara kuis, karena untuk menjawab kuis dibutuhkan waktu tiga menit.

Ia menilai televisi selama Ramadhan merupakan media massa yang patut disikapi secara hati-hati, karena bila tidak mampu menahan diri, akan membuat orang yang berpuasa tidak berzikir.

“Kalau kita seharian tidak tidur dan hanya nonton televisi, maka kita mungkin akan tergolong orang yang berpuasa, tapi tidak mendapatkan apa-apa, kecuali lapar dan haus,” katanya.

Ditanya cara mengantisipasi keinginan menonton televisi, ia mengatakan televisi tidak harus dimatikan, asalkan umat Islam yang berpuasa dapat mengendalikan diri.

“Kita harus tahu batas dengan menonton televisi yang berkaitan dengan tayangan yang menambah ilmu agama kita, sedangkan sisanya tetap digunakan untuk bekerja dan beribadah, termasuk membaca Al Quran,” katanya.

Ia mengatakan cara menonton televisi dengan tahu batas itu merupakan hal yang penting, mengingat Ramadhan merupakan bulan “obral” pahala dari Allah SWT.

“Kalau kita menonton televisi terus, kita akan rugi besar, karena pahala benar-benar diobral Allah SWT selama ramadhan, misalnya ibadah wajib dihitung hingga 70 kali lipat, sedangkan ibadah sunah dihitung sebagai ibadah wajib,” katanya.

Namun, katanya, orang yang berpuasa dengan mengendalikan diri dalam keseharian merupakan kelompok minoritas, karena mayoritas orang yang berpuasa justru hanya mendapatkan lapar dan haus. (antara/arrahmah.com)

Syahrir Keluar dari Partai Keadilan karena Beda Pandangan

Syahrir Keluar dari Partai Keadilan karena Beda Pandangan

JAKARTA (Arrahmah.com) – Polisi masih terus mencari keberadaan M Syahrir alias Aing yang diduga ikut terlibat dalam peledakan di daerah Mega Kuningan. Di masa reformasi, diketahui Syahrir sempat aktif di dunia politik.

“Dulu waktu masih PK (Partai Keadilan), Syahrir masuk, tapi nggak lama antara tahun 1998-1999,” kata Humas PKS Mabruri saat berbincang melalui telepon, Senin (24/8).

Mabruri melanjutkan, salah satu alasan yang membuat Syahrir akhirnya keluar adalah karena perbedaan pandangan. Syahrir kurang setuju dengan cara-cara perjuangan yang dilakukan organisasi yang kemudian bernama PKS tersebut.

“Kalau Syahrir mungkin pinginnya cepat, kalau kami mengikuti prosedur yang ada,” ungkapnya.

Akhirnya hanya sang kakak, Drs Anugerah, saja yang masih setia di partai tersebut. Anugerah kini duduk sebagai salah satu anggota DPRD Tangerang dari PKS.

Apakah seluruh keluarga Syahrir pernah berkecimpung di PKS? “Oh saya nggak tahu itu,” jawab Mabruri.

Anugerah adalah kakak kandung dari dua DPO Saifuddin Zuhri dan M Syahrir alias Aing. Anugerah juga merupakan kakak ipar dari Ibrohim.
(detiknews/arrahmah.com)

Siapa Habib (Palsu) Abdurrahman Assegaf ?

Siapa Habib (Palsu) Abdurrahman Assegaf ?Pamulang (arrahmah.com) – Siapakah sebenarnya Habib (Palsu) Abdurrahman Assegaf ? Setelah membuat kontroversi dengan menuduh Nur Hasbi, alumnus Pondok Pesantren Ngruki sebagai sebagai pelaku peledakan di hotel JW Marriot dan Ritz Carlton (yang terbukti ngawur), dia kembali membuat ulah dengan upaya teror di Masjid Al Munawarrah, Pamulang, dan fitnah kepada Ustadz Abu Jibril. Siapakah sebenarnya Abdurrahman Assegaf ?

Habib (Palsu) Dari Mardani

Sebelumnya, Ustadz Abu Bakar Baasyir pernah menyatakan bahwa Abdurrahman Assegaf merupakan habib palsu yang disewa oleh aparat serta Amerika Serikat atau CIA dengan imbalan uang. Bahkan secara tegas Ustadz Abu Bakar Baasyir pernah mengatakan :

“Abdurrahman Assegaf itu bukan habib, dia itu preman. Semua habib sudah bilang kepada saya kalau dia bukan seorang habib,” kata Baasyir usai mengisi pengajian di Masjid Al Ikhlas di Semarang, Sabtu (25/7) malam.

Santernya berita bahwa Abdurrahman Assegaf adalah habib palsu sebenarnya sudah beredar luas di dunia maya. Disebut-sebut, Abdurrahman Assegaf bernama asli Abdul Haris Umarella bin Ismail Umarella, putera Tulehu, Ambon.

Bahkan menurut sumber terpercaya arrahmah.com, yang juga merupakan temannya sewaktu bersekolah di SMPN 2, Mardani Raya, daerah Percetakan Negara, Jakarta Pusat, dia dikenal dengan nama Amsari Omarella. Ibunya berasal dari Ambon, dan ayahnya dari Makasar. Dari sini, gelar habib semakin jauh dari Abdurrahman Assegaf alias Abdul Haris, alias Amsari.

Selepas SMP 2, habib palsu ini melanjutkan pendidikan ke SMAN 68 (angkatan 85) dan kuliah di UnKris, Pondok Gede. Masih menurut sumber yang terpercaya, kali ini kawan dia semasa bersekolah di SMAN 68, di  Jalan Salemba Raya, Jakarta Pusat, bahwa Abdurrahman Assegaf ini siswa SMAN 68, jurusan IPS. Menurut sumber tersebut habib palsu alias Abdurrahmah Assegaf, alias Amsar terlihat biasa-biasa saja ketika di SMAN 68. Hanya saja menurut sumber tersebut, dia sudah tidak begitu suka dengan kegiatan rohis dan tidak mendukung pemakaian jilbab pada masa itu.

Tidak diketahui sejak kapan gelar habib bercokol di depan namanya. Menurut kawannya di SMPN 2, Abdurrahman pernah menunjukkan sertifikat yang menyatakan bahwa kini dirinya sudah resmi menjadi seorang habib. Tambah aneh, apakah gelar habib harus dikeluarkan melalui sebuah sertifikat?

Waspadai Habib Palsu

Kini, semua berpaling kepada ummat, untuk menilai dan bersikap terhadap habib palsu ini. Masalahnya, gelar habib di negeri ini begitu tinggi dan mulia, yang bahkan terkadang sudah di luar koridor syariat Islam. Dikhawatirkan, oknum semacam habib (palsu) Abdurrahman Assegaf ini memanfaatkan dan memanipulasi gelar habib palsunya tersebut untuk kepentingan pribadi, keluarga, maupun kelompoknya. Nama atau para ulama yang memang bergelar habib tentunya akan tercoreng dengan ulah oknum yang mengaku-ngaku habib ini.

Bukan tidak mungkin, ummat akan terpedaya, ikut begitu saja, tanpa kritis melihat dan mempertimbangkan ucapan si habib palsu ini dari sisi Al Qur’an dan As Sunnah. Hal itulah yang saat ini diperlihatkan oleh habib (palsu) Abdurrahman Assegaf, dan harus segera dihentikan.  Semoga hal ini bisa menjadi pelajaran berharga untuk ummat, agar tidak mudah tertipu oleh gelar-gelar, dan penampilan, sebagaimana Abdurrahman Assegaf, si habib palsu.

Wallahu’alam bis showab!  (M.Fachry/POJ/arrahmah.com)

FPI Kecam Operasi Cipta Kondisi Polri

FPI Kecam Operasi Cipta Kondisi Polri

SAMARINDA (Arrahmah.com) – Front Pembela Islam (FPI) mengecam rencana Polri menggelar Operasi Cipta Kondisi untuk mengawasi dakwah selama bulan suci Ramadan.

“Operasi Cipta Kondisi Polri guna meminimalisir dakwah yang dianggap provokatif merupakan bentuk teror dan intimidasi yang melecehkan dakwah dan itu adalah gaya Orde Baru yang melanggar HAM (Hak Asasi Manusia) dan konstitusi terkait kebebasan menjalankan ibadah,” ungkap Ketua FPI, Habib Rizieq Shihab, kepada ANTARA melalui pesan singkat (SMS) di Samarinda, Sabtu malam (22/8).

Dakwah adalah bagian ibadah yang dilindungi UUD 1945. Lagi pula, Polri tidak punya tolok ukur terkait dakwah motivatif dengan dakwah yang dianggap provokatif, katanya.

“Jika hal ini dibiarkan terus, maka Polri terkesan semakin sewenang-wenang. Apalagi, selama ini Polri banyak melakukan penangkapan terhadap Jamaah Tabligh lalu mendeportasi jamaah asing. Mereka itu merupakan kelompok dakwah yang selalu mengedepankan kelembutan dan kesantunan,” ujar Ketua FPI tersebut.

“Mestinya, yang dideportasi itu turis asing yang suka memakai ‘kancut dan kutang’ di depan umum karena merusak moral,” ungkap Habib Rizieq Shihab.

Polri dan TNI semestinya menjadi pengayom, bukan justru sebagai musuh umat. FPI akan selalu berada di garis terdepan untuk membela, membantu dan menjaga ulama, ustadz dan da`i dari sikap arogansi TNI dan Polri, katanya.

Habib Rizieq Shihab menyarankan, agar Polri segera diletakkan di bawah Departemen Dalam Negeri (Depdagri).

“Kami meminta agar Polri berada di bawah Depdagri, seperti TNI yang berada di bawah Departemen Pertahanan. Hal ini didasarkan agar Polri bisa menjalankan tugasnya secara terkontrol dan tetap menjadi pengayom masyarakat,” ujar Ketua FPI tersebut.

Ia juga menyayangkan pernyataan Pangdam IV Diponegoro, Mayjen TNI Haryadi Soetanto yang menyerukan agar semua orang asing berjubah, bersurban dan berjenggot segera dilaporkan ke aparat keamanan. (antara/arrahmah.com)

Polda Jateng Dianggap Ngawur Terkait Penangkapan Anggota Jamaah Tabligh

Polda Jateng Dianggap Ngawur Terkait Penangkapan Anggota Jamaah TablighPURWOKERTO (Arrahmah.com) – Sebanyak 17 anggota Jamaah Tabligh berkewarganegaraan Filipina yang sedang melakukan khuruj (perjalanan dakwah dari masjid ke masjid), hingga kemarin, masih ditahan di Markas Polda (Mapolda) Jawa Tengah.

“Sembilan orang ditangkap di Purbalingga dan delapan orang di Solo,” kata Kepala Polda Jawa Tengah, Irjen Alex Bambang Riatmojo, di Purwokerto, Jawa Tengah, kemarin.

Mereka ditahan, ungkap Alex, karena menyalahi izin visa yang semestinya. Sesuai visa, mereka berada di Indonesia untuk kunjungan wisata. Tapi, selama di Tanah Air, mereka melakukan kegiatan keagamaan yang butuh visa khusus.

Mereka tiba di Jakarta pada 3 Agustus 2009. Setelah itu, mereka menuju Purbalingga dan Solo pada 6 Agustus 2009. “Mereka kami tahan untuk dimintai keterangan,” jelasnya.

Mengomentari pengusiran dan penangkapan anggota Jamaah Tabligh yang sedang khuruj, Alex mengaku, pihaknya sedang berkoordinasi dengan Departemen Agama (Depag). ”Yang tahu kan Depag. Kami sedang meminta penjelasan, mana ajaran yang boleh dan mana yang tidak boleh.”

Pengurus Pesantren Ubay bin Kaab (markas Jamaah Tabligh di Jawa Tengah),  Tufail, menilai, tak pada tempatnya khawatir berlebihan terhadap khuruj anggotanya. Apalagi jika dikait-kaitkan dengan kegiatan teroris.

“Kalau tak percaya, silakan dengarkan pengajian-pengajian kami. Materinya hanya mengajak umat Islam memperbanyak ibadah. Sama sekali tak menyinggung politik,” paparnya.

Soal paham Islam yang dianut Jamaah Tabligh, Tufail memastikan tak beda jauh dengan kalangan NU dan Muhammadiyah. Tapi, jika khuruj mereka tak diterima warga, Tufail mengaku pasrah. “Kami ikhlas. Kalau memang tidak boleh berdakwah di satu masjid, kami akan pindah ke masjid lainnya yang diizinkan warga.”

Sesalkan Polisi

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Ma’ruf Amin, menyesalkan kecenderungan polisi menangkap tersangka teroris atas dasar kecurigaan semata. Terlebih, kecurigaan itu tidak didasari bukti kuat, tapi hanya tampilan fisik luar, seperti berjenggot, bersorban, dan berperilaku rajin ibadah.

“Aparat harusnya rasional, jangan ngawur,” katanya. Menurut Kiai Ma’ruf, tak ada yang salah dengan berjenggot, bersorban, atau rajin ibadah. Itu merupakan hak beribadah sebagai warga negara Indonesia, bahkan dianjurkan dalam Islam.

“Jenggot itu masuk sunah Nabi. Tidak ada yang salah dengan ibadah memelihara jenggot,” ujar Kiai Ma’ruf menegaskan.

Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), Usman Hamid, menilai, telah terjadi kesalahpahaman oleh aparat polisi, TNI, ataupun masyarakat dalam mengatasi aksi terorisme.

Bahkan, kesalahpengertian itu telah menyebabkan stigmatisasi terhadap sebagian masyarakat karena menggunakan simbol agama tertentu. Simbol itu dianggap identik dengan pelaku terorisme.

Padahal, kata Usman, penggunaan simbol, seperti berjenggot, mengenakan gamis, atau celana panjang menggantung, adalah hak sipil yang harus dihormati dan dilindungi negara. “Saya mau pakai baju gamis, mau berjenggot, itu kan hak saya,” ujar Usman, Rabu (19/8).

Pemberantasan terorisme, ungkap Usman, tetap harus menghormati tiga aspek penting. Pertama, tidak menimbulkan diskriminasi kelompok atas dasar agama atau ras tertentu.

Kedua, dilakukan secara tepat dan tak berlebihan sehingga tidak melanggar hak sipil. Ketiga,persoalan terorisme masuk wilayah hukum. “Karena itu, tidak perlu melibatkan militer karena polisi masih bisa bekerja maksimal,” katanya. (md/arrahmah.com)

Masjid Al Munawwaroh Diteror, Ustadz Abu Jibril Difitnah

Masjid Al Munawwaroh Diteror, Ustadz Abu Jibril DifitnahPamulang (Arrahmah.Com) – Perang melawan terorisme arahan Amerika (the war against terrorism) yang pada hakikatnya adalah perang melawan Islam dan kaum Muslimin mulai menampakkan wajah aslinya. Setelah teror dan tindakan tidak mengenakkan dilancarkan kepada akhwat (wanita muslimah) bercadar, pria berjenggot dan bercelana ngantung, kini, masjid diteror dan ustadz pun difitnah.

Kamis malam (20/8) masjid Al Munawaroh yang sedang mengadakan pengajian rutin, diteror sekelompok massa. Ratusan polisi, petugas dalmas bersenjata lengkap ikut diturunkan. Ustadz Abu Jibril yang selama ini aktif mengajar di masjid Al Munawaroh pun difitnah. Gejala apa ini ?

Kronologis Persitiwa

Sebuah surat berkop Majelis Ta’lim “Nurul Munawwar”, yang beralamat di Jalan Arjuna, no: 70, Komplek Witana Harja Blok C, Pamulang, disebarkan kepada masyarakat, terutama pengurus masjid, musholla & Majlis Ta’lim, di komplek Witana Harja. Dalam surat undangan tersebut tercantum bahwa acaranya adalah Undangan Silaturahmi dalam Rangka Mencegah Berkembangnya Faham Wahabi Radikal sebagai Antisipasi Terorisme.

Menurut sumber Arrahmah.com yang mengikuti acara yang dilaksanakan pada Selasa Malam (18/8) tersebut, Ustadz Abdurrahmah Assegaf (yang namanya mencuat karena menunjuk Nur Hasbi, alumni Pesantren Ngruki, sebagai orang yang melakukan peledakan di Hotel JW Marriot & Ritz Carlton, Jum’at, 17 Juli 2009, dan teryata tidak terbukti) banyak memfitnah Ustadz Abu Jibril. Bukan silaturahmi yang dikedepankan melainkan luapan kebencian dan dendam pribadi tendensius yang dialamatkan ke Ustad Abu Jibril


Abdurrahman Segaf sedang Ngotot didepan Polisi

Menurut sumber Arrahmah.com, Ustadz Abdurrahman Assegaf, di dalam forum pertemuan tersebut sudah mengancam akan menyerbu masjid Al Munawaroh untuk kemudian mengambil alih. Dia juga mengerahkan para peserta yang hadir untuk mempersiapkan diri. “Ane udah engga sabar nih mau yasinan di masjid Al Munawaroh. Ente-ente semua siap-siap deh, kita mau nyerang Munawaroh.” Begitu ungkapnya.

Ustadz Abdurrahman Assegaf yang mengaku dan sering dipanggil habib ini juga secara khusus mendiskriditkan dan menfitnah Ustad Abu Jibril. Mulai dari asal usul beliau yang bukan asli Pamulang, menyuruh lurah untuk mencabut KTP beliau, hingga menghina jenggot beliau yang katanya Cuma 7 lembar itu. Ustdadz Abdurrahman ini juga memfitnah Pesantren Ngruki sebagai pesantren yang lulusannya adalah ahli bom, lalu mengatakan bahwa cadar itu harusnya hanya untuk wanita-wanita di Arab saja, bukan di sini, karena untuk menutup dari debu. Singkatnya dalam forum tersebut Ustadz Abdurrahman Assegaf hanya berbuat kebohongan dan memfitnah Ustdaz Abu Jibril.

Ustad Abu Jibril : Itu Kebohongan & Fitnah

Hari Ini, Jum’at (21/8), Arrahmah.com mengklarifikasi masalah ini langsung ke Ustadz Abu Jibril. Beliau yang baru pulang dari berdakwah ke Padang mengatakan bahwa semua ucapan Ustadz Abdurrahman Assegaf adalah kebohongan dan fitnah. Kita tidak pernah mencerca tahlil dan yasin. Kalau ada yang mau tahlil dan yasin, silahkan dia menjalankannya, kalau dia menyakininya. Maka isu yang dilemparkan ini adalah fitnah dan kebohongan.


Ustaz Abu Jibriel (hafizahullah)

Perlu juga diketahui, sambung Ustadz Abu Jibril, masalah ini tidak pernah muncul sebelumnya. Pengurus masjid Al Munawaroh pernah duduk bersama dia (Ustadz Abdurrahman) dan dia berjanji untuk menjaga terlaksananya ibadah di masjid Al Munawaroh, mengikuti sunnah Rosul di dalam masjid. Tetapi dia sengaja mencari dan memanfaatkan isu terorisme, dengan mengatakan atau beralasan mau membasmi teroris yang sudah mulai bersarang di witana harja, sebagaimana yang dia ungkapkan sehari sesudah ledakan di Hotel JW Marriot dan Ritz Carlton. Jadi isu tahlil  dan yasinan, sebagaimana yang beredar, hanya merupakan kedok untuk memojokkan kita.

Ustad Abu Jibril melanjutkan, mungkin juga ada demdam atau kebencian pribadi kepada masjid Al Munawaroh, atau kepada Ustad Abu Jibril. Menurut pengurus masjid, sudah lama Ustadz Abdurrahman ini berkehendak untuk ‘masuk’ ke masjid Al Munawaroh, tetapi ditolak oleh pengurus masjid. Sementara itu, Ustadz Abu Jibril yang memang merupakan pendatang di Witana Harja malah dapat diterima pengurus masjid dan warga.

Jadi, apa yang dilakukan ini, adalah satu bentuk rekayasa untuk menyingkirkan kita dari masjid, agar dia leluasa untuk menyampaikan bid’ahnya di masjid. Hubungan kita selama ini baik, di hari raya, kita silaturrahim, ke rumah dia, namun nampaknya dia memanfaatkan momentum, di saat ini, untuk kembali menguasai masjid, lanjut Ustadz Abu Jibril.

Disamping itu, Arrahmah.com juga memiliki rekaman ceramah Ustadz Abdurrahman Assegaf ketika menemui gerombolan dari BMB (Barisan Muda Betawi) persis di samping Masjid Al Munawaroh. Dalam ceramah singkat itu, terlihat banyak fitnah dan juga kebohongan yang direkayasa dengan memanfaatkan momen perang melawan terorisme, yang akhirnya malah terror kepada masjid dan fitnah kepada Ustad Abu Jibril. Ironis! (M.Fachry/POJ/arrahmah.com)

*Gambar: Abdurrahmah Asegaf bersama Grombolan BMB di cegah Polisi dari Membuat Anarkis Di Masjid Al Munawwarah

Salimah: Pemerintah Sering Membiarkan Gadis Indonesia di Ajang Miss Universe

Salimah: Pemerintah Sering Membiarkan Gadis Indonesia di Ajang Miss Universe

JAKARTA (Arrahmah.com) – Diamnya sikap pemerintah atas kritikan masyarakat terhadap pengiriman Putri Indonesia ke ajang Miss Universe, mendapat tanggapan aktivis wanita Islam. Ketua Umum PP Persaudaraan Muslimah (Salimah), Dra.Wirianingsih, kecewa pemerintah tak menanggapi berbagai kritik masyarakat.

“Sebenarnya, sejak dulu, kita sudah mengritik berkali-kali pengiriman putri Indonesia mengikuti ajang perlombaan Miss Universe, tapi karena berbagai alasan pemerintah, maka tetap saja terjadi,” ujar Wirianingsih.

Pernyataan kekecewaan Wirianingsih itu terkait keikutsertaan gadis Indonesia bernama Zivanna Letisha Siregar dalam ajang Miss Universe di Nassau, Bahamas.

Seperti diketahui, Zizi, demikian panggilan Zivanna Letisha Siregar, baru saja merampungkan sesi fashion show dengan baju buka-bukaan dan semi telanjang. Yakni kostum swimsuit, dan gaun malam. Dalam sesi itu, Zizi mengenakan

Temui Ba’asyir, Majelis Dzikir SBY Bahas Israel

Temui Ba’asyir, Majelis Dzikir SBY Bahas Israel

JAKARTA (Arrahmah.com) – Majelis Dzikir Nurussalam yang selama ini dikenal sebagai majelis dzikir pendukung Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mendatangi Pondok Pesantren Ngruki, Solo. Pertemuan itu salah satunya membahas isu kamar dagang Israel di Jakarta.

“Kemarin kami bertemu Ustaz Abubakar Ba’asyir dan mengklarifikasi bahwa Kantor Dagang Israel di Jakarta itu tidak ada. Hanya isu yang dihembuskan sekelompok orang untuk memecah belah umat Islam,” ujar Ketua Umum Majelis Dzikir Haris Thahir dalam rilis yang diterima okezone, Jumat (21/8).

Menurutnya, SBY tidak pernah mengeluarkan izin soal kamar dagang Israel di Indonesia. SBY tetap bersikap sama seperti sebelumnya yakni mendukung kemerdekaan Palestina dan mengutuk serangan Israel.

“Di era SBY, tidak pernah ada penandatanganan MoU dengan Israel maupun pihak yang terkait dengan isu pendirian Kantor Dagang Israel di Jakarta. Kalau tadi Ustaz Ba’asyir menyatakan SK itu diteken pada 2001, berarti SBY tidak terlibat,” tandas Haris yang mengaku tidak menemukan SK tersebut.

Selain mengklarifikasi soal isu tersebut, kedatangan Majelis Dzikir ke Ponpes Ngruki juga untuk bersilaturahmi sesama muslim. Terlebih, saat ini menjelang bulan Ramadan. “Pak SBY juga titip salam untuk Ustaz Ba’asyir,” tukas Haris.

Sebagaimana diketahui, beberapa waktu lalu sempat berembus kabar bahwa Kamar Dagang Israel akan didirikan di Jakarta. Sontak saja, kabar ini membuat berang sejumlah pihak salah satunya Ustaz Abubakar Ba’asyir. Mereka menolak Israel membuka kamar dagang di Indonesia. (okz/arrahmah.com)

Atas ↑