Cari

Arrahmah.Com

Berita Dunia Islam dan Berita Jihad Terdepan

Kategori

International

Duet Pemerintah-Kelompok ‘Islam Moderat’ Melawan Al Shabaab

MOGADISHU (Arrahmah.com) – Pemerintah Somalia dan kelompok ‘Islam moderat’ Ahlu Sunnah yang selama ini mengkonfrontasi Harakah Al Shabaab Mujahidin, pada hari Sabtu (6/3) menegaskan tekad mereka untuk mengencangkan kerja sama dalam perang melawan ‘pemberontak’.

Dalam pertemuan tingkat tinggi antara gerakan Ahlu Sunah dan pemerintahan transisi Somalia, kedua belah pihak mengulangi rencana mereka untuk menyatukan kekuatan mereka dalam memerangi Al Shabaab, kata Syaikh Omar Syaikh Mohamed Farah, Kepala Operasi untuk Ahli Sunnah.

Syaikh Mohamed menambahkan setelah pertemuan yang diadakan di istana presiden di Mogadishu bahwa kedua belah pihak juga sepakat bahwa mereka sepenuhnya mendukung kesepakatan yang baru-baru ini dicapai oleh kedua belah pihak pada perundingan di ibukota Ethiopia, Adis Ababa.

Perjanjian tersebut menetapkan bahwa kelompok Ahlu Sunnah akan dimasukkan ke dalam pembagian kekuasaan pemerintah, termasuk pemberian beberapa jabatan menteri untuk Ahlu Sunnah.

Pejabat pemerintah Somalia dan kepemimpinan kelompok moderat ini berterima kasih kepada komunitas internasional atas dukungan terhadap rakyat Somalia dalam mewujudkan perdamaian dan stabilitas pada negaranya.

Pertemuan yang dihadiri oleh Presiden Somalia Sheikh Sharif Sheikh Ahmed, dan ketua parlemen Somalia serta pimpinan tinggi Ahlu Sunnah ini muncul bersamaan dengan munculnya spekulasi media bahwa pemerintah akan melakukan operasi ofensif untuk merebut kembali sejumlah wilayah dari Al Shabab. (althaf/xnh/arrahmah.com)

Geert Wilders-Parlemen Inggris, ‘Nonton Bareng’ Film Fitna

LONDON (Arrahmah.com) – Politisi Belanda yang sangat anti-Islam, Geert Wilders, tiba di Inggris pada hari Jumat (5/3) di tengah-tengah pesta kemenangan pemilu yang akan membuatnya kembali memasuki pemerintahan dalam hitungan bulan.

Setelah dilarang untuk datang beberapa waktu lalu oleh Jacqui Smith, mantan Sekretaris Negara, kali ini sebaliknya, dia diundang untuk datang ke parlemen Inggris oleh Lord Pearson dari Rannoch, para pemimpin UKIP, untuk mempertontonkan film kontroversial Fitna. Hal ini telah memicu kemarahan meluas karena Wilders benar-benar melakukan pelecehan terhadap isi Al Quran.

Film yang yang dirilis pada tahun 2008 itu disaksikan oleh lebih dari 60 orang, termasuk empat orang anggota majelis tinggi Inggris.

Sesaat kemudian, di hadapan para wartawan, WIlders memaparkan bahwa Islam adalah ideologi totalitarian dan membuat pernyataan yang isinya menghina Rasulullaah Muhammad SAW.

Pada saat yang sama, dia mengatakan dia berharap untuk menjadi perdana menteri setelah pemilu 9 Juni mendatang, meskipun para analis politik Belanda mengatakan ini harapannya itu sulit untuk diwujudkan.

Jika terpilih, Wilders mengatakan berjanji akan menutup semua sekolah-sekolah Islam, melarang pembangunan masjid baru, dan mengusir muslim Belanda jika mereka memiliki kewarganegaraan ganda. (althaf/daily/alj/arrahmah.com).

Holbrook Ragukan Komitmen Pakistan

WASHINGTON (Arrahmah.com) – Utusan khusus AS, Richard Holbrooke, mengatakan dalam sebuah wawancara dengan Financial times bahwa ia ragu apakah Pakistan benar-benar melawan mujahidin di Afghanistan.

Komentar ini diungkapkan Holbrooke sehubungan dengan isu penangkapan komandan mujahidin Afganistan Mullah Abdul Ghani Baradar.

Dia mengatakan tidak siap untuk menilai apakah hubungan antara Amerika Serikat dan Pakistan telah memburuk setelah penangkapan Baradar.

Holbrooke menolak mengatakan apakah AS semakin memperoleh informasi intelejen yang lebih baik dari interogasi bersama (AS-Pakistan) terhadap Mullah Baradar. Tapi dia mengatakan dia tidak memiliki masalah dengan penolakan Pengadilan Tinggi Lahore atas permintaannya pekan lalu untuk mentransfer Baradar ke Afghanistan.

Mengenai operasi militer di Afghanistan, Holbrooke mengatakan Amerika dan sekutu-sekutunya menghadapi tugas “menakutkan” di Afghanistan dan menurutnya terlalu dini untuk memprediksi bagaimana situasi akan berubah. (althaf/dawn/arrahmah.com)

Asisten Menlu AS Akan Kunjungi Asia

WASHINGTON (Arrahmah.com) – Asisten Menteri Luar Negeri AS untuk urusan Asia Timur dan Pasifik Kurt Campbell akan mengunjungi Singapura, Malaysia, Laos, Indonesia, Thailand dan Jepang, Departemen Luar Negeri AS mengumumkan pada hari Jumat (5/3).

Campbell akan berangkat terlebih dahulu ke Singapura pada hari Minggu dan mengakhiri ‘tur’-nya di Asia pada 17 Maret mendatang. Memperkuat aliansi dengan Jepang dan mengembangkan kemitraan dengan lima negara anggota ASEAN merupakan agenda utama Campbell.

Sementara itu, Presiden Barack Obama direncanakan akan mengunjungi Indonesia bulan ini dan meluncurkan kemitraan yang komprehensif dengan negara yang penduduk muslimnya paling padat, tempat dia menghabiskan sebagian masa kecilnya.

Menjelang tur, pada hari Rabu Campbell mengatakan menurut hasil sidang yang diselenggarakan oleh Dewan Komite Luar Negeri bahwa kebijakan AS terhadap kawasan Asia-Pasifik adalah untuk memastikan AS bertindak sebagai “kekuatan penduduk setempat”, bukan lagi kekuatan asing.

“Asia-Pasifik merupakan wilayah vital dan penting bagi Amerika Serikat dan jelas bahwa negara-negara di kawasan ini menginginkan Amerika Serikat untuk mempertahankan kehadiran kami. Kebijakan kami akan memastikan bahwa Amerika Serikat bertindak sebagai kekuatan penduduk setempat dan bukan hanya sebagai pengunjung, karena apa yang terjadi di wilayah ini memiliki dampak langsung terhadap keamanan dan kesejahteraan ekonomi kami,” katanya.

Menurut Campbell, tantangan global yang paling signifikan, seperti perubahan iklim, proliferasi senjata pemusnah massal, dan merebaknya kemiskinan akan menjadi “sangat akut” di Asia dalam beberapa dekade mendatang. Dan hal inilah yang mendorong Amerika Serikat harus memainkan peran utama dengan memperkuat dan memperluas aliansinya, membangun kemitraan baru, dan meningkatkan kapasitas organisasi multilateral di kawasan ini. (althaf/xnh/arrahmah.com)

Penasihat Obama Akan Ajukan Pengadilan Militer Untuk Sidangkan Tersangka 11 September

WASHINGTON (Arrahmah.com) – Penasihat Gedung Putih siap untuk merekomendasikan pada presiden agar menyidang tersangka insiden 11 September, Khalid Sheik Mohammed, melalui pengadilan militer, bukan pengadilan sipil, Washington Post melaporkan pada hari Jumat (5/3).

Penasihat Presiden Barrack Obama mengklaim saat ini berada di bawah tekanan dari Kongres tentang di mana dan bagaimana untuk menuntut tersangka, kutip Washington Post dari sumber-sumber resmi yang tidak ingin disebutkan identitasnya.

Jaksa Agung Eric Holder mengumumkan November lalu bahwa Khalid Sheik Mohammed dan empat tersangka lainnya harus dipindahkan dari penjara militer AS di Guantanamo Bay, Kuba, ke New York untuk melakukan persidangan di pengadilan federal sipil.

Obama memilih untuk menyidangkan beberapa tersangka ‘terorisme’ di pengadilan sipil sebagai simbol komitmennya terhadap supremasi hukum, namun para pengkritik berpendapat bahwa Muhammad bisa saja menggunakan pengadilan untuk mempengaruhi orang lain dengan pandangan politiknya dan New York mengungkapkan kekhawatiran mereka mengenai risiko keamanan di gedung pengadilan yang hanya terletak beberapa blok dari gedung World Trade Center.

Muhammad dituduh mendalangi serangan 11 September 2001 terhadap New York dan Washington yang kemudian dijadikan dalih oleh AS untuk menginvasi di Afghanistan dan Irak di bawah bendera perang melawan terorisme yang digongkan oleh mantan Presiden George W. Bush. Muhammad ditangkap di Pakistan pada tahun 2003. (althaf/xnh/arrahmah.com)

Israel Geram Soal Artikel, Menlu Swedia Batalkan Kunjungannya

Menlu Swedia, Carl Bildt

STOCKHOLM (Arrahmah.com) – Menteri luar negeri Swedia, Carl Bildt, membatalkan kunjungannya ke Israel, untuk menyelesaikan ketegangan negara Yahudi tersbut yang muncul dari sebuah artikel dalam harian Swedia.

Bildt mengumumkan bahwa kunjungan yang dijadwalkan pada 11 September dibatalkan karena menurut Bildt tanggal itu bukan waktu yang tepat baginya, sembari menambahkan bahwa ia tidak ingin mengganggu pembicaraan yang tengah berlangsung antara AS dan Israel mengenai proses perdamaian Timur Tengah.

Namun, sumber kementrian luar negeri Swedia, sebagaimana yang dikutip oleh Haaretz, menghubungkan dibatalkannya perjalanan Bildt dengan krisis politik antara Tel Aviv dengan Stockholm.

Bulan Agustus lalu, sebuah artikel kontroversial yang membeberkan mengenai skandal pencurian organ oleh Israel diterbitkan oleh harian Swedia, Aftonladet.

Artikel dengan judul “Mereka Rampas Organ Anak-Anak Kami” yang ditulis oleh jurnalis lepas Donald Bostrom, memicu kemarahan para pejabat Israel.

Bostrom dalam artikelnya mengungkapkan kejahatan para tentara Israel yang telah menculik dan membunuhi remaja muslim Palestina dan menjual organ mereka di pasar gelap.

Pemerintah Swedia menolak untuk mengecam laporan tersebut, dengan mengatakan bahwa tindakan tersebut akan melanggar kebebasn pers. (althaf/arrahmah.com)

Gilani Desak Kelanjutan Pembicaraan ‘Penting’ Dengan India

Munafikin Raza Gilani, Perdana Menteri Pakistan

ISLAMABAD (Arrahmah.com) – Perdana menteri Pakistan, Yousaf Raza Gilani mendesak kelanjutan pembicaraan antara Islamabad dengan New Delhi dan meminta prasyarat untuk mewujudkan perdamaian dan kemajuan di kedua belah pihak.

“Terganggunya dialog antara India-Pakistan akan memudahkan ‘teroris’ yang tidak lain adalah musuh utama kedua negara,” tutur Gilani pada wartawan pada hari Sabtu (5/9) di Karachi.

“Dialog ini sangat penting.”

“Kami ingin hubungan yang setara dengan India dan hal ini merupakan solusi yang tidak pernah mengizinkan ‘terorisme’ tumbuh subur di negeri kami dan, oleh karena itu, kami ingin melanjutkan dialog yang tepat, karena berkaca dari situasi sebelumnya ‘terorisme’-lah yang diuntungkan,” kata Gilani.

Sedangkan India sendiri terkesan sengaja mengulur-ulur pembicaraan dengan Pakistan dalam beberapa isu utama, termasuk isu Kashmir juga serangkaian penyerangan teroris di Mumbai akhir November yang disinyalir menewaskan 166 orang.

Pakistan mengklaim telah menangkap anggota Lashkar-e-Taiba atas serangan tersebut, namun pemerintah India menyatakan bahwa langkah itu belumlah cukup dan meminta Pakistan mengekstradisi mereka ke pengadilan India. (althaf/prtv/arrahmah.com)

Rusia Dan Amerika Serikat Menyusun Kembali Kesepakatan Kerjasama Senjata Pemusnah Masal

Barack Obama Dan Dmitry Medvedev

MOSKOW (Arrahmah.com) – Rusia dan Amerika Serikat sudah mulai menyusun perjanjian baru ‘reduksi’ persenjataan nuklir, sebagaimana yang dilaporkan dalam pernyataan kementrian luar negeri Rusia pada hari Sabtu (5/9).

“Kedua belah pihak sudah mulai mengerjakan poin-poin spesifik untuk perjanjian yang akan datang, dan keduanya bersepakat kerja sama kali ini akan dilakukan oleh tim khusus,” ungkap pernyataan yang dikeluarkan oleh kementrian luar negeriitu.

Kedua negara menutup putaran kelima percakapan mereka dengan perjanjian ‘reduksi’ persenjataan di Genewa 2 September lalu.

Juru bicara kementrian luar negeri, Andrei Nesterenko, mengatakan pada Kamis (3/9) bahwa percakapan selanjutnya akan diadakan di Genewa pada 21 September mendatang.

Selama pertemuan, negosiator dari kedua negara mendiskusikan parameter atas perjanjian yang baru serta memformulasikan diksi yang tepat agar kedua presiden AS dan Rusia dengan mudah menyepakatinya, kata Nesterenko.

Presiden Rusia, Dmitry Medvedev, dan Barack Obama, sebelumnya pada bulan Juli lalu di Moskow, sepakat untuk memperbaiki perjanjian pengurangan persenjataan strategis (START I).

START I, yang ditandatangani pada tahun 1991 dan berakhir pada bulan Desember tahun ini, membatasi sedikitnya 6.000 unit senjata nuklir strategis yang dimiliki AS dan Rusia dan membolehkan masing-masing negara untuk saling memeriksa persenjataan satu sama lain.

Hingga saat ini belum jelas kata ‘reduksi’ yang dipakai untuk menamai perjanjian tersebut akan dibawa ke arah yang mana, mengingat di samping berseberangan secara ideologi, baik AS maupun Rusia merupakan negara yang sangat ambisius dengan kepentingannya masing-masing, dan tentunya sama-sama merupakan negara yang terang-terangan menjajah negeri-negeri muslim. (althaf/xinhua/arrahmah.com)

Lagi, Zionis Ganas Bunuhi Bocah Palestina

Tentara Zionis Israel dan Bocah Palestina

BEIT HANOUN (Arrahmah.com) – Seorang bocah Palestina tewas setelah harus menderita akibat luka tembakan peluru yang dilepaskan oleh tentara Zionis Israel (la’natullah ‘alayh) di utara Jalur Gaza, kata petugas medis.

Bocah laki-laki berusia 13 tahun dengan nama Ghazi Maher Al Zaanen, ditembak di bagian kepala oleh tentara Israel dari posnya di timur kota Beit Hanoun.

Ia segera dilarikan ke rumah sakit al-Shifa, dan dimasukkan ke ruang operasi darurat. Ghazi bertahan hidup dengan kondisi yang sangat kritis selama beberapa jam, sebagaimana dilaporkan International Middle East Media Center.

Senin lalu, Israel pun menembak seorang remaja Palestina di Tepi Barat.

Remaja 17 tahun yang bernama Muhammad Nayef itu pun menderita luka serius dan dilarikan ke rumah sakit Hadassah di al-Quds, dan meninggal beberapa jam kemudian.

Sementara itu, pada hari Jumat (4/9), pasukan Yahudi itupun melukai para demonstran Palestina di desa Bil’in dan Nil’in, Tepi Barat, dalam aksi damai mingguan menentang Benteng Pemisah. Puluhan muslim Palestina serta aktivis internasional lainnya juga harus menderita akibat tembakan gas air mata. (althaf/rtrs/prtv/arrahmah.com)

Atas ↑