Cari

Arrahmah.Com

Berita Dunia Islam dan Berita Jihad Terdepan

Kategori

Featured

Kekerasan Dan Ketidakmanusiaan Pun Kami Rasakan Di Penjara Negeri Muslim, Arab Saudi

Penjara Di Negeri Muslim Tidak Lebih Baik Dari Penjara Yang Ada Di Bawah Kekuasaan Amerika Serikat Dan Negeri-Negeri Kufur Lainnya

Kabul jatuh, dan serangkaian fitnah dan perselisihan mulai muncul di antara berbagai faksi mujahidin.

Kami berusaha untuk mencegah dan menghindari diri dari keterlibatan dalam aksi saling kecam dan fitnah semacam itu. Saya kembali ke Arab Saudi, mencari perlindungan dan ketenangan. Saya berusaha untuk mengobati kaki saya yang hilang dalam pertempuran di Afghanistan. Saya tinggal di Jeddah, dekat sebuah rumah sakit.

Paska pemboman di Riyadh, tepatnya di sebuah fasilitas pelatihan militer Amerika Serikat pada November 2006, saya terbangun karena pintu tempat saya digedor oleh sekelompok orang tak dikenal. Saya bangkit dari tempat tidur dan menghampiri pintu dengan bantuan tongkat.

Orang-orang itu memaksa masuk ke dalam apartemen saya. Saya sempat mengira mereka adalah perampok. Saya berteriak, “Siapa kalian? Apa yang kalian inginkan?”

Mereka bersebelas, ternyata anggota dari Mabaheth, pihak keamanan Saudi. Ternyata mereka mengincar saya, menggeledah apartemen saya dan memborgol saya selama dua jam.

Selama itu mereka menggeledah isi apartemen yang saya tinggali, mengobrak-abrik semua sudut rumah, termasuk toilet. Kemudian, mereka mengambil semua buku, rekaman, dan membawa saya bersama mereka, dalam keadaan terikat. Perjalanan kesengsaraan dan penderitaan pun dimulai. Continue reading “Kekerasan Dan Ketidakmanusiaan Pun Kami Rasakan Di Penjara Negeri Muslim, Arab Saudi”

“Aku Baru Berumur 12 Tahun Saat Dikirim ke Guantanamo”

Jawad
Mohammad Jawad

Mohammad Jawad masih terus berjuang menata kembali hidupnya, hilangnya masa kanak-kanak dan remaja setelah selama tujuh tahun berada di Guantanamo, tempat yang terkenal paling “biadab” sedunia.

“Aku tidak melakukan apapun, mereka menangkapku tanpa alasan jelas,” ujar pemuda Afghan yang baru keluar dari Guantanamo beberapa waktu lalu.

Jawad ditangkap pada 2002 silam ketika ia berumur 12 tahun dengan tuduhan telah melemparkan granat ke arah konvoy tentara penjajah AS di Afghanistan. Continue reading ““Aku Baru Berumur 12 Tahun Saat Dikirim ke Guantanamo””

“Ramadhan Sangat Berat Tanpa Mereka”

“Ramadhan Sangat Berat Tanpa Mereka”Almaza Samuni selalu menunggu-nunggu datangya bulan suci Ramadhan, waktu favoritnya di setiap tahunnya.  Namun tahun ini Ramadhan sangat berbeda.

“Aku sedih karena ibuku tidak lagi disampingku untuk membuat makanan santap sahur dan berbuka,” ujar anak piatu tersebut.

Samuni, 13, biasanya membantu ibunya memasak untuk persiapan berbuka untuk dirinya dan enam saudaranya, kini mereka semua telah tiada, mereka gugur dalam serangan brutal tentara zionis Israel pada Desember silam.

Samuni kini hidup di kamp-kamp pengungsian di Jalur Gaza. Setiap harinya selama Ramadhan ini, yang dimulai pada hari Sabtu di Gaza, ia menghabiskan masa hanya bersama ayahnya, yang masih terbaring sakit akibat luka-luka yang dialaminya sejak Israel menyerang.

“Ramadhan sangat berat tanpa mereka,” ujar Samuni dengan nada rendah.

Ayahnya, Ibrahim, berkata sambil berbaring di tempat tidurnya di kamp pengungsian, Ramadhan membuka luka hatinya dan mengingatkannya akan peristiwa yang telah merenggut nyawa istri dan enam orang anaknya.

“Istriku, anakku, saudara kandungku dan pamanku seluruhnya telah tiada,” ujarnya sambil terisak.

Lebih dari 1.400 Muslim sipil Gaza termasuk ratusan anak-anak mejadi korban kebiadaban tentara zionis Israel dan lebih dari 5.450 mengalami luka-luka dalam serangan kurang lebih tiga pekan tersebut, yang dilakukan dari arah darat, laut dan udara.

Tidak jauh dari tenda Samuni, terdapat tenda dimana Dalal Abu Aisha hidup, ia juga mengalami hal yang serupa.

Gadis berumur 14 tahun ini satu-satunya yang selamat ketika tank Israel menghantam rumahnya.

Ia sendirian melewati waktu sahur dan berbuka yang biasanya dilakukan di sebuah meja bundar yang dikelilingi oleh ibu dan tiga saudaranya.

Sejak penyerangan yang dilakukan zionis Israel, Dalal menjadi pemurung, ia tidak mengeluarkan kata-kata apapun dari mulutnya.

“Dia selalu terlihat menggagu,” ujar Umm Adel, bibi Dalal yang kini memeliharanya.

“Kehidupan Dalal sangat berat,sama seperti anak-anak lainnya yang kehilangan saudara dan orang tua mereka.” (haninmazaya/IOL/arrahmah.com)

Kegembiraan Ramadhan Yang Terenggut Di Jalur Gaza

Kegembiraan Ramadhan Yang Terenggut Di Jalur Gaza

Ihab Al-Ashqar, seorang remaja Gaza berusia 14 tahun, tersenyum pahit saat menjelaskan mengapa ia tidak merasakan kegembiraan menyambut datangnya bulan suci Ramadhan.

“Semua perbatasan ditutup. Mereka (Israel) sedang membunuh kami perlahan,” katanya Ihab pedih.

Sebagaimana hampir 1,6 juta orang di Gaza, Ashqar kehilangan kegembiraan bahwa Ramadhan adalah bulan istimewa bagi seluruh muslim tiap tahunnya.

Tahun ini, bulan suci Ramadhan mendatangi Gaza yang sedang dilingkupi oleh barbarisme perang Israel dan tercekik oleh pengepungan bangsa Zionis.

“Hati kami dan rumah kami disesaki duka dan kesedihan,” kata Huda Al-Astal membatin.

“Hidup kami merana. Kami hampir tidak dapat bernafas.”

Israel telah mengisolasi wilayah Gaza dan penduduknya dari dunia sejak Hamas terpilih untuk berkuasa pada tahun 2006, serta menutup semua perbatasan.

Israel juga menghalangi bantuan kemanusiaan yang terdiri dari barang-barang yang sangat jauh dari membahayakan seperti keju, sikat gigi, pasta gigi, sabun, dan tisu toilet.

Bahkan warga Palestina di Jalur Gaza harus rela menikmati shaumnya di bawah bayang-bayang kegelapan karena Israel terus-menerus memblokir pengiriman bahan bakar.

“Bahkan kami tidak memiliki penerangan,” salah seorang ibu menggerutu.

“Kami mungkin tidak akan bisa bertahan.”

Kejadian ini sungguh mengharukan seharusnya bagi kaum muslimin di negeri-negeri lainnya.

“Biasanya menjelang Ramadhan, orang-orang pergi ke pasar untuk membeli seluruh kebutuhan mereka satu bulan penuh,” ujar Mohammed Farag, salah seorang pedagang.

“Namun tahun ini, kami memiliki sedikit sekali persediaan barang untuk dijual, dan orang-orang pun tidak memiliki uang untuk membelinya.”

Seperti yang dialami oleh Abu Mohamed Al-Shawwa. Ia berjalan menyusuri pasar untuk mencari keperluan yang akan dibeli untuk keluarganya dengan uang seadanya.

“Harga-harga semakin membubung tinggi,” katanya putus asa.

“Bahkan yang saya berikan pada keluarga saya tahun lalu, sepertinya tidak dapat saya berikan pada Ramadhan tahun ini.”

Jumlah pengangguran di Jalur Gaza saat ini melebihi 60% dan Bank Dunia memperkirakan bahwa dua per tiga populasi di wilayah ini harus hidup di bawah garis kemiskinan. Lebih dari satu juta orang bertahan dengan pasokan makanan dari PBB.

Nihad Al-Helw, ibu delapan orang anak yang suaminya kehilangan pekerjaan akibat penjajahan Israel mengatakan bahwa dirinya yakin akan mendapatkan makanan untuk berbuka.

“Saya hanya berharap anak saya memperoleh satu jenis makanan saja untuk disantap.”

Anaknya, We’aam, sudah mengerti bahwa ia tidak mungkin menemukan daging, ikan, dan buah dalam menu makannya.

Namun yang paling menyakitkan baginya adalah bahwa ia tidak akan mendapat lampu warna-warni yang biasa dibelikan ayahnya tiap kali Ramadhan tiba.

“Ini akan menjadi Ramadhan yang paling menyedihkan seumur hidup saya.” kata We’aam sambil menangis. (Althaf/IOL/arrahmah.com)

Atas ↑