Robert Gates dan Mike Mullen

WASHINGTON (Arrahmah.com) – Di tengah-tengah keraguan warga AS mengenai misi negaranya di Afganistan, orang nomor satu di Pentagon mengatakan bahwa dia sama sekali tidak berpikir untuk memerintahkan tentaranya meninggalkan negara yang rusak karena peperangan itu.

“Kami sadar akan hal tersebut, kami mengerti bagaimana keprihatinan banyak warga Amerika di negara tersebut, tetapi kami kira kami memiliki sumber daya dan pendekatan yang benar untuk mulai membuat kemajuan,” kata Robert Gates pada konferensi pers di Pentagon hari Kamis (3/9) bersama dengan panglima tinggi militer Laksamana Michael Mullen.

“Wajar jika warga Amerika enggan membiarkan anak-anaknya ada di tengah-tengah pertempuran yang penuh dengan resiko,” lanjutnya.

“Namun sedikitpun saya tidak pernah berpikir sekarang bukan saat yang tepat untuk keluar dari Afghanistan.”

Gates menyatakan bahwa AS tidak akan dapat mengalahkan al Qaidah tanpa peranan dan keterlibatan tentara asing lainnya di Afganistan, mengindikasikan bahwa keberadaan AS kecenderungan akan diperpanjang di negara yang bertetangga dengan Pakistan tersebut.

Namun, Gates mengingatkan pihaknya memiliki waktu yang tidak banyak untuk mewujudkan keberhasilan strategi perang baru Barack Obama di Afghanistan.

Sikap ini dimunculkan oleh para petinggi AS seiring dengan hasil jajak pendapat yang dilakukan oleh Washington Post-ABC News yang menemukan bahwa 60 persen warga Amerika tidak menyepakati kebijakan perang Obama di Afghanistan.

Gates pun menekankan saat ini AS memiliki cukup sumber daya di lapangan untuk mengimplementasikan strategi baru Obama terhadap Afghanistan.

Ungkapannya pun muncul seiring dengan meningkatnya perlawanan mujahidin di provinsi timur dan selatan yang telah menyebabkan tentara salibis asing kehilangan banyak basisnya di Afghanistan.

Ada sekitar lebih dari 101.000 personil angkatan perang internasional di Afghanistan. Dan selama bulan Agustus lalu, mereka harus kehilangan 77 pasukannya. Jumlah tersebut adalah jumlah kematian terbanyak selama satu bulan sejak AS memulai invasinya tahun 2001.

Kiprah negara adidaya yang berdalih “perang melawan terorisme” serta mewujudkan stabilitas keamanan ini ternyata tidak terbukti sedikit pun. Bahkan yang terjadi justru sebaliknya. Rakyat Afghan malah merasakan keberadaan para tentara salibis itu semakin memunculkan banyak teror dan menyebabkan mereka selalu terancam. (althaf/prtv/arrahmah.com)