Cari

Arrahmah.Com

Berita Dunia Islam dan Berita Jihad Terdepan

bulan

September 2009

Israel Geram Soal Artikel, Menlu Swedia Batalkan Kunjungannya

Menlu Swedia, Carl Bildt

STOCKHOLM (Arrahmah.com) – Menteri luar negeri Swedia, Carl Bildt, membatalkan kunjungannya ke Israel, untuk menyelesaikan ketegangan negara Yahudi tersbut yang muncul dari sebuah artikel dalam harian Swedia.

Bildt mengumumkan bahwa kunjungan yang dijadwalkan pada 11 September dibatalkan karena menurut Bildt tanggal itu bukan waktu yang tepat baginya, sembari menambahkan bahwa ia tidak ingin mengganggu pembicaraan yang tengah berlangsung antara AS dan Israel mengenai proses perdamaian Timur Tengah.

Namun, sumber kementrian luar negeri Swedia, sebagaimana yang dikutip oleh Haaretz, menghubungkan dibatalkannya perjalanan Bildt dengan krisis politik antara Tel Aviv dengan Stockholm.

Bulan Agustus lalu, sebuah artikel kontroversial yang membeberkan mengenai skandal pencurian organ oleh Israel diterbitkan oleh harian Swedia, Aftonladet.

Artikel dengan judul “Mereka Rampas Organ Anak-Anak Kami” yang ditulis oleh jurnalis lepas Donald Bostrom, memicu kemarahan para pejabat Israel.

Bostrom dalam artikelnya mengungkapkan kejahatan para tentara Israel yang telah menculik dan membunuhi remaja muslim Palestina dan menjual organ mereka di pasar gelap.

Pemerintah Swedia menolak untuk mengecam laporan tersebut, dengan mengatakan bahwa tindakan tersebut akan melanggar kebebasn pers. (althaf/arrahmah.com)

Iklan

Gilani Desak Kelanjutan Pembicaraan ‘Penting’ Dengan India

Munafikin Raza Gilani, Perdana Menteri Pakistan

ISLAMABAD (Arrahmah.com) – Perdana menteri Pakistan, Yousaf Raza Gilani mendesak kelanjutan pembicaraan antara Islamabad dengan New Delhi dan meminta prasyarat untuk mewujudkan perdamaian dan kemajuan di kedua belah pihak.

“Terganggunya dialog antara India-Pakistan akan memudahkan ‘teroris’ yang tidak lain adalah musuh utama kedua negara,” tutur Gilani pada wartawan pada hari Sabtu (5/9) di Karachi.

“Dialog ini sangat penting.”

“Kami ingin hubungan yang setara dengan India dan hal ini merupakan solusi yang tidak pernah mengizinkan ‘terorisme’ tumbuh subur di negeri kami dan, oleh karena itu, kami ingin melanjutkan dialog yang tepat, karena berkaca dari situasi sebelumnya ‘terorisme’-lah yang diuntungkan,” kata Gilani.

Sedangkan India sendiri terkesan sengaja mengulur-ulur pembicaraan dengan Pakistan dalam beberapa isu utama, termasuk isu Kashmir juga serangkaian penyerangan teroris di Mumbai akhir November yang disinyalir menewaskan 166 orang.

Pakistan mengklaim telah menangkap anggota Lashkar-e-Taiba atas serangan tersebut, namun pemerintah India menyatakan bahwa langkah itu belumlah cukup dan meminta Pakistan mengekstradisi mereka ke pengadilan India. (althaf/prtv/arrahmah.com)

Rusia Dan Amerika Serikat Menyusun Kembali Kesepakatan Kerjasama Senjata Pemusnah Masal

Barack Obama Dan Dmitry Medvedev

MOSKOW (Arrahmah.com) – Rusia dan Amerika Serikat sudah mulai menyusun perjanjian baru ‘reduksi’ persenjataan nuklir, sebagaimana yang dilaporkan dalam pernyataan kementrian luar negeri Rusia pada hari Sabtu (5/9).

“Kedua belah pihak sudah mulai mengerjakan poin-poin spesifik untuk perjanjian yang akan datang, dan keduanya bersepakat kerja sama kali ini akan dilakukan oleh tim khusus,” ungkap pernyataan yang dikeluarkan oleh kementrian luar negeriitu.

Kedua negara menutup putaran kelima percakapan mereka dengan perjanjian ‘reduksi’ persenjataan di Genewa 2 September lalu.

Juru bicara kementrian luar negeri, Andrei Nesterenko, mengatakan pada Kamis (3/9) bahwa percakapan selanjutnya akan diadakan di Genewa pada 21 September mendatang.

Selama pertemuan, negosiator dari kedua negara mendiskusikan parameter atas perjanjian yang baru serta memformulasikan diksi yang tepat agar kedua presiden AS dan Rusia dengan mudah menyepakatinya, kata Nesterenko.

Presiden Rusia, Dmitry Medvedev, dan Barack Obama, sebelumnya pada bulan Juli lalu di Moskow, sepakat untuk memperbaiki perjanjian pengurangan persenjataan strategis (START I).

START I, yang ditandatangani pada tahun 1991 dan berakhir pada bulan Desember tahun ini, membatasi sedikitnya 6.000 unit senjata nuklir strategis yang dimiliki AS dan Rusia dan membolehkan masing-masing negara untuk saling memeriksa persenjataan satu sama lain.

Hingga saat ini belum jelas kata ‘reduksi’ yang dipakai untuk menamai perjanjian tersebut akan dibawa ke arah yang mana, mengingat di samping berseberangan secara ideologi, baik AS maupun Rusia merupakan negara yang sangat ambisius dengan kepentingannya masing-masing, dan tentunya sama-sama merupakan negara yang terang-terangan menjajah negeri-negeri muslim. (althaf/xinhua/arrahmah.com)

Lagi, Zionis Ganas Bunuhi Bocah Palestina

Tentara Zionis Israel dan Bocah Palestina

BEIT HANOUN (Arrahmah.com) – Seorang bocah Palestina tewas setelah harus menderita akibat luka tembakan peluru yang dilepaskan oleh tentara Zionis Israel (la’natullah ‘alayh) di utara Jalur Gaza, kata petugas medis.

Bocah laki-laki berusia 13 tahun dengan nama Ghazi Maher Al Zaanen, ditembak di bagian kepala oleh tentara Israel dari posnya di timur kota Beit Hanoun.

Ia segera dilarikan ke rumah sakit al-Shifa, dan dimasukkan ke ruang operasi darurat. Ghazi bertahan hidup dengan kondisi yang sangat kritis selama beberapa jam, sebagaimana dilaporkan International Middle East Media Center.

Senin lalu, Israel pun menembak seorang remaja Palestina di Tepi Barat.

Remaja 17 tahun yang bernama Muhammad Nayef itu pun menderita luka serius dan dilarikan ke rumah sakit Hadassah di al-Quds, dan meninggal beberapa jam kemudian.

Sementara itu, pada hari Jumat (4/9), pasukan Yahudi itupun melukai para demonstran Palestina di desa Bil’in dan Nil’in, Tepi Barat, dalam aksi damai mingguan menentang Benteng Pemisah. Puluhan muslim Palestina serta aktivis internasional lainnya juga harus menderita akibat tembakan gas air mata. (althaf/rtrs/prtv/arrahmah.com)

Islamabad Sangkal Keberadaan Blackwater Di Pakistan

Untitled-1
Rehman Malik Sangkal Blackwater Yang Kembali Ke Islamabad Dengan Visa Dari Kedubes Pakistan Di AS

ISLAMABAD (Arrahmah.com) – Islamabad menolak laporan bahwa kontraktor perusahaan militer AS Blackwater, yang terkenal akibat kejahatannya dalam membunuh warga sipil di Irak, saat ini sudah memperluas jaringannya ke Pakistan.

“Blackwater tidak beroperasi di Pakistan, kami mempunyai sistem, aturan, dan regulasi tersendiri dan tidak akan pernah mengizinkan siapapun beroperasi di sini,” kata menteri dalam negeri Rehman Malik pada Jumat (5/9).

Komentar Malik ini muncul setelah beberapa sumber dari agen intelejen, warganegara dan partai politik Pakistan melaporkan bahwa Blackwater USA hadir di negaranya.

Analis Pertahanan Pakistan, Sheerain Mizari, mengatakan bahwa perusahaan militer yang terkenal keburukannya itu tidak hanya beroperasi di Provinsi Batas Barat Laut tetapi juga di ibu kota Islamabad.

Mizari percaya bahwa ada banyak personil Blackwater lainnya di Peshawar dan Quetta. Menurutnya, dua orang karyawan Blackwater tewas dalam serangan terbaru di Hotel Pearl Continental di Peshawar.

Namun, kedutaan besar AS enggan berkomentar atas isu yang tengah menghangat di Pakistan ini.

“Kami tidak ingin membicarakannya. Persoalan ini terkaitan dengan pihak-pihak yang menandatangani kontrak,” kilah juru bicara Richard W. Snelsire.

Laporan mengenai keberadaan perusahaan tersebut di Pakistan memuat bahwa Islamabad ternyata telah membuat keputusan kontroversial dengan membolehkan seorang personil Blackwater, Craig Davis, yang sebelumnya dipulangkan karena diklaim melakukan kontak ilegal dengan mujahidin pro-Taliban, kembali ke Pakistan.

Davis divonis bersalah karena melibatkan diri dalam diskusi rahasia dengan pemimpin pro-Taliban dengan tanpa izin dari pemerintah. Kemudian ia dipulangkan oleh Kementerian Intelejen pada minggu pertama bulan Agustus, sebagaimana dikutip dalam surat kabar Business Recorder pada Jumat (4/9).

“Davis kembali ke Pakistan dengan visa yang dikeluarkan oleh Kedutaan Besar Pakistan di AS. Ia ditugaskan lagi di Pakistan dan kembali bergabung dengan timnya di Peshawar dan tinggal di rumah yang sama,” kata reporter dalam surat kabar tersebut.
Walaupun tetap meneruskan kontrak kerja samanya untuk pemerintah AS di Irak dengan nama Xe Services LLC, Blackwater masih ada di bawah pemeriksaan atas pembunuhan 17 orang penduduk sipil di Baghdad, Irak, sekitar dua tahun yang lalu. (althaf/prtv/arrahmah.com)

12 Tentara Jerman Tewas Akibat Serangan Balasan Atas Kekejian NATO Di Kunduz

Tentara Salibis Jerman Dan Tank Militernya Jadi Santapan Bom Tepi Jalan Mujahidin Afghanistan

KABUL (Arrahmah.com) – Dua belas tentara salibis Jerman tewas akibat sebuah ledakan bom tepi jalan di Afghanistan, satu hari setelah NATO, lagi-lagi, melakukan aksi brutalnya menyerang penduduk sipil dari udara dan menyebabkan 150 orang tewas.

Serangan yang menimpa konvoi tentara salibis internasional itu terjadi di wilayah yang sama di utara Afghanistan dimana sebelumnya tentara Jerman melakukan pemboman atas dua truk bahan bakar yang mereka klaim telah dibajak mujahidin Taliban.

Ada sekitar 150 penduduk sipil, kebanyakan adalah anak-anak dan remaja, yang menjadi korban insiden yang terjadi di dekat basis militer Jerman, di desa Haji Abdur Rahman, distrik Ali Abad, provinsi Kunduz, pada hari Jumat (4/9) malam.

Saksi mengatakan penduduk desa sedang berlarian mengambil bahan bakar dari truk tak berpemilik yang terletak di dekat tempat tinggal mereka. Mereka sedang sibuk mengambil bahan bakar, saat ‘pasukan penjaga keamanan dunia’ itu mengarahkan serangan besar-besarannya ke arah truk.

Serangan itu tentu saja memicu munculnya protes baru atas jatuhnya korban dari kalangan sipil di tangan tentara Barat selama delapan tahun peperangan di Afganistan. Namun hal itu tidak pernah membuat angkatan perang salibis jera. Selama mereka dibiarkan melancarkan invasinya, tidak akan pernah terwujud sedikitpun ‘ketenangan’ dan ‘keamanan’ bagi Afghanistan.

Dalam sebuah surat yang dilayangkan di salah satu website pada hari Sabtu (5/9), Imarah Islam Afghanistan mengutuk serangan tersebut dan menegaskan bahwa rezim pemerintahan boneka Afghan terlibat.

“Insiden provinsi Kunduz ini terjadi ketika menteri pertahanan boneka Afghan memfitnah Mujahidin telah membunuh ratusan orang bulan lalu. Dia juga memfitnah Mujahidin terlibat dalam beberapa ledakan dan peristiwa yang direncanakan sebelumnya, yang sebenarnya dilakukan oleh tangan-tangan para agen intelejen mereka sendiri.”

“Sebelumnya para penguasa munafik ini mengklaim peristiwa Kunduz diakibatkan oleh truk tangki yang meledak karena pertengkaran antar para penduduk yang berebut bahan bakar. Namun usaha kerasnya untuk menyembunyikan peristiwa ini gagal ketika juru bicara NATO menegaskan berita pemboman dilakukan oleh pihaknya.”

Imarah Islam Afghanistan pun menegaskan insiden Kunduz ini sebagai kejahatan yang terang-terangan dan rangkaian dari genosida yang sering dilakukan oleh pasukan internasional, serta tidak bisa sama sekali dijustifikasi sebagai sebuah bentuk kekhilafan dari mereka.

“Kami mengingatkan para pelaku peristiwa ini: pemerintahan Obama, pimpinan NATO, serta rezim Kabul pasca pemilihan bahwa anda tidak akan pernah dapat melemahkan keputusan siapapun yang sudah memutuskan untuk meneruskan perjuangan mereka demi tegaknya sistem Islam dan kemerdekaan Afghan. Berbagai macam kejahatan mereka yang muncul akhir-akhir ini (termasuk dibeberkannya perilaku layaknya hewan yang dilakukan oleh tentara bayaran penjaga kedubes AS di Kabul) hanya membuka selubung ketidakmanusiawian yang sudah mereka simpan dan sembunyikan dari mata dunia internasional hingga saat ini.” (althaf/sky/tum/arrahmah.com)

Tentara AS Pelaku Pemerkosaan Dan Pembunuhan Muslimah Irak Lolos Dari Hukuman Mati

Steven Dale Green (Semoga Allah memberikan azab yang setimpal atasnya), Tentara AS Yang Memperkosa Muslimah Irak dan Membantai Keluarganya

BAGHDAD (Arrahmah.com) – Salah seorang tentara AS harus melewatkan sisa hidupnya di dalam penjara sebagai hukuman atas tindakan perkosaan dan pembunuhan seorang muslimah Irak dan pembantaian terhadap keluarga muslimah tersebut.

Steven Dale Green dijatuhi hukuman pada Mei 2006 karena kasus perkosaan dan pembunuhan Abeer al-Janabi, gadis berusia 14 tahun, dan pembunuhan ayah, ibu, dan adiknya yang baru berumur enam tahun dalam rumah mereka di selatan Baghdad.

Dale Green merupakan pemimpin lima orang tentara AS yang melakukan kejahatannya saat sedang ada dalam kondisi mabuk di pos pengawasan di Mahmudiyah.

Tiga tentara lainnya divonis hukuman 10 tahun penjara karena mencoba melawan pengadilan militer. Sedangkan satu orang tentara lainnya dijatuhi hukuman 27 bulan penjara karena atas tuduhan sebagai pengintai.

Green disidangkan di pengadilan sipil setelah dipecat dari statusnya sebagai tentara karena ‘kelainan kepribadian’ sebelum kejahatannya diketahui.

Jaksa penuntut umum telah memohon hukuman mati pada para anggota persidangan, namun mereka tak mengabulkan permintaan tersebut. (althaf/prtv/arrahmah.com)

Personil Blackwater Kembali Ke Pakistan

Blackwater, Perusahaan Militer Kontroversial AS

ISLAMABAD (Arrahmah.com) – Seorang personil Blackwater Amerika Serikat kembali ke Pakistan, meskipun menuai kecaman dari agen intelejen, masyarakat, dan berbagai partai politik.

Craig Davis divonis bersalah karena melibatkan diri dalam diskusi rahasia dengan pemimpin pro-Taliban dengan tanpa izin dari pemerintah. Kemudian ia dipulangkan oleh Kementerian Intelejen pada minggu pertama bulan Agustus, sebagaimana dikutip dalam surat kabar Business Recorder pada Jumat (4/9).

“Davis kembali ke Pakistan dengan visa yang dikeluarkan oleh Kedutaan Besar Pakistan di AS. Ia ditugaskan lagi di Pakistan dan kembali bergabung dengan timnya di Peshawar dan tinggal di rumah yang sama,” kata reporter dalam surat kabar tersebut.

Kementrian Dalam Negeri Pakistan memperingatkan agen intelejen negaranya dan meminta mereka untuk tetap waspada juga mengawasi aktivitas Davis di Pakistan. (althaf/prtv/arrahmah.com)

AS Dukung Israel Lawan Harian Swedia

Anggota Kongres AS, Benjamin L. Cardin, Pembela Israel

WASHINGTON (Arrahmah.com) – Anggota Kongres AS mendukung Israel dalam mengajukan keberatan negara Yahudi tersebut atas sebuah artikel yang diterbitkan oleh harian Swedia Aftonbladet mengenai skandal pencurian organ oleh tentara Israel.

Senator AS Ben Cardin, salah seorang anggota Demokrat dari Maryland, yang juga menjabat sebagai kepala Komisi Keamanan dan Kerja Sama Eropa, menuduh harian tersebut menyertakan isu rasisme di balik diterbitkannya artikel yang mengungkapkan kekejaman tentara Israel mencuri organ dari muslim Palestina yang dibunuhnya.

“… Jika pelaku pers itu lalai bertanggung jawab atas apa yang mereka publikasikan, atau malahan meninggikan isu rasisme atau antisemitisme, maka wajib bagi pihak berwenang untuk berbicara dan dengan terang-terangan kebohongan semacam itu,” kutip harian Haaretz dari ucapan Cardin.

Selain itu, langkah lain yang dilakukan pejabat AS untuk membela Israel adalah dengan mengirimkan surat untuk perdana menteri Swedia pada Kamis (3/9) dan mengungkapkan kritiknya dalam menolak tuduhan artikel yang menurutnya bernada anti-semitis.

Artikel yang berjudul “Mereka Rampas organ Anak-Anak Kami”, ditulis oleh seorang wartawan lepas Donald Bostrom, yang ternyata membuat para pejabat Israel gerah dan geram dan segera menyeru Swedia untuk mengutuk laporan tersebut.

Perdana Menteri Swedia Fredrik Reinfeldt, meskipun ada di pihak yang mengutuk isi artikel Bostrom tersebut, menyatakan bahwa kebebasan pers merupakan bagian tak terpisahkan dari ‘demokrasi’ di negaranya. (althaf/hrtz/prtv/arrahmah.com)

Atas ↑