Cari

Arrahmah.Com

Berita Dunia Islam dan Berita Jihad Terdepan

Tanggal

31/08/2009

Brown Akan Melakukan Rekonsiliasi Dengan Taliban?

Gordon Brown dan Pasukan Inggris Di Afghanistan

KABUL (Arrahmah.com) – Perdana menteri Inggris, Gordon Brown, mengungkapkan strategi barunya dalam perang Afghanistan pada hari Sabtu (29/8), termasuk proses rekonsiliasi yang kontroversial dengan mujahidin Taliban dan mempercepat pelatihan angkatan perang Afghan agar bisa menggantikan pasukan NATO.

Di tengah-tengah surutnya dukungan publik terhadap perang Afghanistan, Brown memanfaatkan kunjungannya ke basis militer Inggris di provinsi Helmand untuk memberikan informasi pembuka mengenai strateginya itu yang diklaim akan mampu meminimalisasi jumlah korban dari pihak Inggris.

Salah satu sumber terdekat Brown mengusulkan negosiasi dengan mujahidin Taliban dan membujuk mereka agar mengubah keberpihakan menjadi salah satu komponen kunci bagi usaha perang Inggris. Ia menambahkan, “Semakin banyak rekonsiliasi, semakin baik.”

Brown pun menyarankan agar pelatihan angkatan perang Afghan dipercepat dalam satu tahun untuk mengambil alih tugas dari pasukan NATO yang kemungkinan besar akan pulang dalam waktu dekat. (althaf/guard/arrahmah.com)

Iklan

Tak Jera, Wilders Kembali Beraksi Lecehkan Nabi Muhammad dan Islam

Geert Wilderz (la'natullaah 'alayh) Yang Tak Pernah Puas Lecehkan Islam

AMSTERDAM (Arrahmah.com) – Anggota legislator Belanda, Geert Wilders (la’natullaah ‘alayh), kembali melancarkan aksinya menyerang Islam. Dengan kejinya Wilders menyamakan Nabi Muhammad (SAW) dengan seekor babi hanya gara-gara sebuah berita yang melaporkan bahwa pemerintah Arab Saudi kembali mensahkan perkawinan antara anak perempuan berusia 10 tahun dengan laki-laki berumur 80 tahun.

Wilders mengatakan pada Menteri Luar Negeri Belanda, Maxime Verhagen, bahwa laki-laki 80 tahun itu seperti seekor babi, tepat seperti Nabi Muhammad (SAW) yang menurutnya “biadab karena menikah dengan seorang gadis berumur enam tahun.”

Wilders menginginkan Verhagen memanggil duta besar Arab Saudi ke Belanda agar Wilders bisa mengekspresikan sentimennya terhadap perbuatan yang menurutnya tidak manusiawi itu.

Wilders senang dengan meningkatnya dukungan Eropa, sebagaimana negaranya, terhadap pernyataannya mengenai teror yang dilakukan oleh muslim. Dua tahun lalu, dia menyebabkan munculnya protes geram dari kalangan muslim ketika dia menyebarkan film berdurasi 15 menit berjudul Fitna, yang menghubung-hubungkan Islam dengan teror.

Arab News, salah satu harian Arab Saudi melaporkan mengenai pengantin perempuan berusia 10 tahun yang dipersunting oleh seorang laki-laki yang disinyalir berusia 80 tahun. Laki-laki itu pun menyangkal pemberitaan media mengenai usianya.

“Perkawinan saya tidak melanggar Syariah,” kata laki-laki yang tidak ingin disebutkan identitasnya itu pada Arab News. “Pengantin perempuan itu menerima saya dan ada ijab qabul dari ayahnya.” (althaf/arbnws/artzshv/arrahmah.com)

AS Gerah, Tuduh Pakistan Modifikasi Misilnya Tanpa Izin

Misil Harpoon Anti-Ship AS

ISLAMABAD (Arrahmah.com) – Berdasarkan laporan mengenai uji coba misil rahasia di Pakistan, Washington menuduh Islamabad memodifikasi misil buatan Amerika tanpa izin.

Menurut para petinggi AS, uji genarasi baru misil Pakistan yang dilakukan pada 23 April lalu merupakan versi terbaru dari misil anti-ship AS yang dijual ke Pakistan untuk alat pertahanan.

Pejabat AS mengklaim bahwa modifikasi tersebut dibuat dalan rangka menambah kemampuan misil dalam menyerang wilayah daratan dan menyebutnya sebagai ancaman baru bagi India, seperti yang dilaporkan oleh New York Times pada Sabtu (29/8).

Misil Harpoon anti-ship ini dijual pada Pakistan oleh mantan presiden AS Ronald Reagen selama Perang Dingin tahun 1980-an.

AS menganggap modifikasi tersebut sebagai pelanggaran terhadap Arms Control Export Act dan mengklaim telah mengirimkan protes diplomatis secara diam-diam terhadap perdana menteri Pakistan, Yusuf Raza Gilani akhir Juni lalu.

Washington percaya bahwa langkah yang diambil Pakistan akan memicu persaingan tingkat lanjut antara kedua negara bertetangga yang memiliki senjata nuklir (India dan Pakistan) itu.

Namun Islamabad menolak tuduhan itu, dan menyebutnya sebagai bagian dari propaganda media AS agar AS menghentikan pemberian bantuan ke negaranya. Tuduhan modifikasi muncul saat pemerintahan Obama tengah mendesak Kongres agar segera mengesahkan $7,5 miliar untuk membantu Pakistan selama lima tahun ke depan.

AS sepertinya takut dengan langkah yang diambil oleh negara ‘kacung’-nya ini. Washington benar-benar menentang uji coba militer Pakistan dan berulang kali meminta pejabat Pakistan untuk memfokuskan perhatian pada upaya untuk memusnahkan mujahidin Taliban daripada mengembangkan persenjataan nuklir dan persenjataan konvensional yang cenderung dilakukan untuk menantang India. (althaf/ap/cbs/rtrs/prtv/arrahmah.com)

Serangan Bom Tewaskan 17 Polisi Boneka Pakistan di Mingora

mingora-bom
Penyerang meledakan diri saat para polisi memberi pelatihan kepada polisi baru

MINGORA (Arrahmah.com) – Sedikitnya 17 polisi boneka Pakistan tewas dalam sebuah serangan martir di pos kepolisian di wilayah baratlaut Pakistan.

Serangan terjadi tepatnya di kota Mingora, Lembah Swat pada Minggu (30/8), merupakan serangan terbesar kedua sejak pemerintah munafik Pakistan mengumumkan keberhasilan dalam operasi militer mereka yang bertujuan “menghabisi” Taliban Pakistan di wilayah Baratlaut Pakistan.

“Para polisi tengah memberikan pelatihan di Mingora ketika seorang pengebom masuk ke dalam pos kepolisian dan meledakan diri di sana,” ujar Qazi Ghulam Farooq seperti yang dilansir AFP.

Mian Iftikhar Hussain, anggota kementrian informasi di provinsi batas baratlaut menambahkan bahwa beberapa polisi baru yang tengah mendapatkan pelatihan juga menjadi korban.

Serangan kali ini terjadi hanya berselang tiga hari dari serangan besar di perbatasan Torkham, celah Khyber, yang membunuh sedikitnya 22 polisi boneka Pakistan, mujahidin Taliban mengklaim bertanggungjawab atas serangan di perbatasan ini.

Hingga saat ini belum ada kelompok yang mengeluarkan statemen bertanggungjawab atas serangan yang terjadi kemarin di pos kepolisian di Mingora.  Namun beberapa pihak menduga Taliban Pakistan yang melakukannya. (haninmazaya/alj/prtv/AFP/arrahmah.com)

Militer Penjajah AS Masih Memegang 9.000 Tahanan Irak

minooie20090831010209859
Para tahanan Irak di Kamp Cropper

BAGHDAD (Arrahmah.com) – Militer penjajah AS hingga kini masih menahan sekitar 9.000 penduduk Irak dalam penjara mereka meskipun pada faktanya mereka harusnya telah dibebaskan di bawah Pakta Keamanan Sementara antara Baghdad dan Washington.

Statemen militer AS mengklaim pada Minggu (30/8) bahwa mereka telah melepas lebih dari 5.000 tahanan Irak sejak awal tahun ini.  Namun bagaimanapun juga, hingga kini masih ada sekitar 8.947 tahanan di tangan mereka.

“Sejak Januari, 1.179 tahanan telah dipindahkan ke tangan pemerintah Irak dan 5.236 telah dibebaskan,” klaim statemen militer AS.

Dalam Pakta Keamanan Sementara antara Irak dan AS yang disetujui pada 2008 silam, data seluruh tahanan dalam penjara AS harusnya telah berpindah ke tangan otoritas Irak.  Namun militer AS tidak berkomentar apapun mengenai para tahanan yang hingga kini masih berada di tangan mereka, entah alasan apa yang akan mereka keluarkan.

Para tahanan tersebut masih berada di Kamp Cropper, Kamp Taji dan Kamp Bucca.

Militer AS mengatakan sekitar 8.947 tahanan yang berada di tangan mereka kini, jauh lebih sedikit dibanding pada tahun 2005 dan menurun drastis dari 27.000 tahanan di tahun 2007. (haninmazaya/arrahmah.com)

Ringkasan Operasi Militer Mujahidin Afghanistan 30 Agustus 2009

Rinkasan-300x197
Mujahidin Imarah Islam Afghanistan berhasil merampas tank musuh

AFGHANISTAN (Arrahmah.com) – Minggu pagi, sedikitnya sebelas tentara penjajah NATO dan dua tentara boneka Afghan yang tengah melakukan patroli rutin berjalan kaki di distrik Arghandab, provinsi Zabul, tewas akibat sebuah ledakan bom.  Seorang mujahid pemberani melancarkan operasi syahid di hadapan mereka.  Seperti biasa, setelah mujahidin melakukan serangan dan berhasil membunuh banyak tentara musuh, tentara musuh melepaskan tembakan ke berbagai arah sebagai pembalasan dendam dan mengenai sipil Afghan. Media-media internasional dan lokal akan melaporkan bahwa serangan bom “bunuh diri” yang dilakukan oleh Taliban telah memakan korban sipil.

Dalam operasi militer lainnya, mujahidin Imarah Islam Afghanistan menyerang konvoy militer gabungan tentara penjajah AS dan tentara boneka Afghan di dekat basis distrik Asmar.  Serangan kali ini berhasil menghancurkan tujuh tank musuh.  Mujahidin menggunakan senjata berat dalam serangannya yang meletuskan pertempuran langsung selama kurang lebih satu jam.  15 tentara penjajah dan boneka tewas dalam pertempuran dan sejumlah besar mereka mengalami luka-luka.  Tentara musuh kemudian membombardir area pertempuran, namun mujahidin tidak mengalami kecelakaan.

Minggu siang di distrik Shiwak, provinsi Paktia, mujahidin Imarah Islam Afghanistan menyerang konvoy militer tentara penjajah AS, empat tank mereka hancur dalam serangan yang dilancarkan mujahidin.  Mujahidin menghancurkan tank musuh menggunakan mortar 83mm yang juga berhasil membunuh sedikitnya 15 tentara penjajah AS yang berada di dalam tank-tank tersebut.

Mujahidin Imarah Islam Afghanistan yang berbasis di Kabul, menyerang bandara Bargram yang dijadikan basisi militer oleh tentara penjajah NATO.  Dua misil menghantam sebuah terminal di bandara tersebut, menyebabkan kerusakan parah.  Namun kubu mujahidin tidak dapat melaporkan jumlah korban tewas atau terluka yang diakibatkan dari serangan ini. (haninmazaya/TUM/arrahmah.com)

Arrahmah Bisa Minta Bantuan Dewan Pers

ibnu-hamad
Ibnu Hamad

JAKARTA (Arrahmah.com) – Polisi telah menggeledah dan menyita alat-alat kerja di kantor Arrahmah.com, situs internet milik Mohammad Jibriel yang diduga sebagai penyalur dana Noordin M Top. Hal ini dinilai pengamat media Ibnu Hamad sama dengan melakukan pemberangusan terhadap sebuah media massa.

Menurut Ibnu, polisi seharusnya bisa memisahkan antara posisi Jibriel yang menjadi tersangka dengan media yang dimilikinya. “Jika tindakan tersebut dilihat dan dikaitkan dengan jurnalisme, maka hal itu sangat disayangkan,” ujarnya saat berbincang dengan INILAH.COM, di Jakarta, Sabtu (29/8).

Meskipun Jibriel merupakan orang yang diduga sebagai seorang “teroris”, namun belum berarti medianya juga media “teroris”. “Ini yang harus dipisahkan. Sebab ini terkait dengan kebebasan pers,” Ibnu beralasan.

Seseorang, lanjut Ibnu, katakanlah dia seorang teroris, namun tetap tidak bisa dikaitkan dengan media massa yang menghasilkan produk jurnalistik yang dimilikinya. Sehingga, tidak bisa serta merta dikatakan Arrahmah.com sebagai media teroris.

Jika memang Arrahmah.com merupakan media massa, maka hak media tersebut untuk menyampaikan pemberitaan yang diinginkannya. “Jadi harus benar-benar dilihat, apa kontennya terkait, mengajak atau kental dengan tindakan terorisme,” ujarnya.

Continue reading “Arrahmah Bisa Minta Bantuan Dewan Pers”

Atas ↑