Cari

Arrahmah.Com

Berita Dunia Islam dan Berita Jihad Terdepan

Tanggal

24/08/2009

Mujahidin Hizbul Islam Tolak Gencatan Senjata Selama Ramadhan

Mujahidin Hizbul Islam Tolak Gencatan Senjata Selama Ramadhan

MOGADISHU (Arrahmah.com) – Mujahidin Somalia dari kelompok Hizbul Islam pada Minggu (23/8) menyatakan menolak seruan pemerintah murtad Somalia untuk melakukan gencatan senjata selama bulan suci Ramadhan.

“Kami tidak akan menerima seruan gencatan senjata,” ujar pemimpin Hizbul Islam, Syekh Hassan Dahir Aweys seperti yang dilansir Reuters.

“Ini adalah bulan suci yang akan membawa kejayaan untuk mujahidin dan kami akan terus memerangi musuh.”

Pernyataan pemimpin Hizbul Islam ini merespon permintaan Presiden munafik Somalia, Sharif Ahmed pada Sabtu (22/8) yang menginginkan gencatan senjata selama bulan Ramadhan.

“Presiden membuat pernyataan ini agar penduduk Somalia dapat menjalankan ibadah dengan tenang, dan kami berharap pihak oposisi dapat menerima ajakan ini,” klaim jurubicara kepresidenan, Abdulkadir Osman.

“Kami akan mengintensifkan perang suci melawan pemerintahan boneka dan sekutu asing mereka walaupun selama bulan suci Ramadhan,” uajr Aweys.

“Mereka menyebar lebih banyak lagi tentara asing di Somalia dan menjadikan Somalia semakin memburuk, tapi kami tidak akan pernah menghentikan peperangan melawan mereka sampai mereka meninggalkan daratan kami,” lanjutnya.

Alasan pemerintah meminta gencatan senjata untuk membiarkan penduduk menjalankan ibadah dengan tenang hanyalah tameng semata, karena mujahidin tidak pernah menyerang sipil Somalia dan menjadikan mereka target apalagi jika mereka keluar rumah menuju masjid untuk menjalankan ibadah.

“Kami akan meningkatkan serangan melawan tentara asing,” ujar Bare Adan Khoje, salah satu komandan Al-shabaab.

“Seruan para munafikin bukan untuk menghormati datangnya bulan suci Ramadhan, tetapi dibuat untuk memerangi saudara kami, para mujahid asing dan untuk bersiap-siap mempersenjatai diri serta melakukan serangan terhadap kami,” lanjutnya. (haninmazaya/arrahmah.com)

“Ramadhan Sangat Berat Tanpa Mereka”

“Ramadhan Sangat Berat Tanpa Mereka”Almaza Samuni selalu menunggu-nunggu datangya bulan suci Ramadhan, waktu favoritnya di setiap tahunnya.  Namun tahun ini Ramadhan sangat berbeda.

“Aku sedih karena ibuku tidak lagi disampingku untuk membuat makanan santap sahur dan berbuka,” ujar anak piatu tersebut.

Samuni, 13, biasanya membantu ibunya memasak untuk persiapan berbuka untuk dirinya dan enam saudaranya, kini mereka semua telah tiada, mereka gugur dalam serangan brutal tentara zionis Israel pada Desember silam.

Samuni kini hidup di kamp-kamp pengungsian di Jalur Gaza. Setiap harinya selama Ramadhan ini, yang dimulai pada hari Sabtu di Gaza, ia menghabiskan masa hanya bersama ayahnya, yang masih terbaring sakit akibat luka-luka yang dialaminya sejak Israel menyerang.

“Ramadhan sangat berat tanpa mereka,” ujar Samuni dengan nada rendah.

Ayahnya, Ibrahim, berkata sambil berbaring di tempat tidurnya di kamp pengungsian, Ramadhan membuka luka hatinya dan mengingatkannya akan peristiwa yang telah merenggut nyawa istri dan enam orang anaknya.

“Istriku, anakku, saudara kandungku dan pamanku seluruhnya telah tiada,” ujarnya sambil terisak.

Lebih dari 1.400 Muslim sipil Gaza termasuk ratusan anak-anak mejadi korban kebiadaban tentara zionis Israel dan lebih dari 5.450 mengalami luka-luka dalam serangan kurang lebih tiga pekan tersebut, yang dilakukan dari arah darat, laut dan udara.

Tidak jauh dari tenda Samuni, terdapat tenda dimana Dalal Abu Aisha hidup, ia juga mengalami hal yang serupa.

Gadis berumur 14 tahun ini satu-satunya yang selamat ketika tank Israel menghantam rumahnya.

Ia sendirian melewati waktu sahur dan berbuka yang biasanya dilakukan di sebuah meja bundar yang dikelilingi oleh ibu dan tiga saudaranya.

Sejak penyerangan yang dilakukan zionis Israel, Dalal menjadi pemurung, ia tidak mengeluarkan kata-kata apapun dari mulutnya.

“Dia selalu terlihat menggagu,” ujar Umm Adel, bibi Dalal yang kini memeliharanya.

“Kehidupan Dalal sangat berat,sama seperti anak-anak lainnya yang kehilangan saudara dan orang tua mereka.” (haninmazaya/IOL/arrahmah.com)

Lagi, Tentara Penjajah AS Bunuh Sipil Irak

Lagi, Tentara Penjajah AS Bunuh Sipil Irak

DIYALA (Arrahmah.com) – Tentara penjajah AS kembali berulah, mereka membunuh sipil Irak setelah menyerang salah satu rumah sipil di wilayah timur provinsi Diyala, Sabtu (22/8).

Pemilik rumah tewas dalam serangan brutal tentara AS kal ini dan salah satu anaknya mengalami luka serius, ketika tentara penjajah AS menghancurkan pintu rumah dan memaksa masuk ke rumah tersebut yang berada di desa Mullah Huwaish.

Seorang anak yang tengah mengalami luka-luka ditangkap oleh tentara kafir AS.

Kejadian ini hanya berjarak satu minggu setelah sebelumnya tentara kafir AS membunuh tiga bocah Irak yang sedang menggembala di wilayah utara Irak.

Laporan penyerangan terhadap sipil Irak oleh tentara penjajah AS meningkat sejak 30 Juni silam sejak AS meninggalkan kota-kota utama di Irak dan “keamanan” diambilalih oleh tentara nasional Irak.

Militer penjajah AS belum merilis statemen apapun terkait dua penyerangan yang dilakukan tentara AS terhadap sipil Irak. (haninmazaya/prtv/arrahmah.com)

Mullen : Taliban Semakin “Memusingkan”

Mullen : Taliban Semakin “Memusingkan”WASHINGTON (Arrahmah.com) – Petinggi militer kafir AS, Mike Mullen mengatakan delapan tahun perang di Afghanistan ternyata tidak mampu “menghabisi” Al-Qaeda beserta ancaman-ancamannya untuk AS, penduduk AS pun mulai berteriak untuk meninggalkan perang di sana.

Salah satu bawahan Mike Mullen mengatakan bahwa kemungkinan besar Afghanistan dapat kembali dikuasai oleh tentara “ekstrimis”.

Komentar Mullen datang setelah ABC News mengadakan poling di minggu ini dan lebih dari 51 persen peserta meyakini perang di Afghanistan bukanlah perang bermanfaat.

Al-Qaeda masih sangat mampu, sangat fokus, ujar Mullen.  Ia menambahkan bahwa sangat memungkinkan, organisasi ini masih terus memberikan pelatihan dan dukungan dana serta rekrutmen untuk banyak organisasi “ekstrim” lainnya.

Mullen menekankan bahwa perang kini tengah berproses untuk melihat hasil dan memang membutuhkan waktu lama, dan negeri tersebut (Afghanistan-red) harus sadar bahwa dirinya belum kehilangan Taliban.

Mullen juga mengakui bahwa Taliban semakin jauh lebih baik dan semakin “memusingkan”.  Penambahan pasukan AS sepertinya tidak berpengaruh bagi mereka. (haninmazaya/arrahmah.com)

Atas ↑