Cari

Arrahmah.Com

Berita Dunia Islam dan Berita Jihad Terdepan

Tanggal

19/08/2009

Jundu Ansarullah Meminta Para Pendukungnya Agar Melawan Penangkapan Yang Dilakukan Hamas

Jundu Ansarullah Meminta Para Pendukungnya Agar Melawan Penangkapan Yang Dilakukan Hamas

YERUSALEM (Arrahmah.com) – Mujahidin Jundu Ansarullah di Jalur Gaza meminta para anggotanya untuk melawan penangkapan pada hari Selasa (18/8), beberapa hari setelah angkatan bersenjata Hamas membunuh 24 anggotanya yang mendeklarasikan Emirat Islam di Palestina.

Syaikh Abdul Latif Abu Moussa, pimpinan Jundu Ansarullah, salah satu kelompok mujahidin yang selama ini dikaitkan dengan Al-Qaidah, membuat sebuah deklarasi pendirian Emirat Islam dan penegakan hukum-hukum Islam pada hari Jumat lalu di sebuah masjid di kota Rafah. Merasa jadi ancaman bagi kekuasaannya di Gaza, angkatan bersenjata Hamas kemudian melakukan tindakan kekerasan dan membunuh Abu Moussa dan 23 pengikutnya.

Dalam pernyataannya yang diumumkan pada hari Selasa (18/8), Jundu Ansarullah menyeru anggotanya untuk menggunakan kekuatan jika angkatan bersenjata Hamas mencoba menahan mereka.

“Orang-orang Hamas terus mengejar para pengikut kami di Jalur Gaza, merampok rumah-rumah mereka, namun hal itu tidak akan pernah berarti apa-apa karena para pejuang kami tidak akan membiarkannya begitu saja.”

Kelompok ini menolak tuduhan bahwa kelompoknya menerima dukungan dari Zionis Israel ataupun salah seorang tokoh terkuat Fatah, Muhammad Dahlan.

“Semua bantuan finansial bagi kami datang dari kelompok-kelompok Sunni yang ada di Palestina dan luar negeri secara suka rela.”

Jundu Ansarullah pun mencela Hamas dengan menyebutnya sebagai boneka demokrasi yang tidak bisa tidak terikat dengan kepentingan orang-orang kafir.

Pertempuran antara Jundu Ansarullah dan Hamas merupakan pertempuran paling mematikan yang terjadi antara Hamas, gerakan nasionalis Islam dengan kelompok-kelompok mujahidin yang berbasis jihad dan penerapan hukum-hukum Islam. (Althaf/mn/arrahmah.com)

Iklan

Pernyataan Sikap Majelis Mujahidin: Pasca peledakan bom di Hotel JW Marriot dan Ritz Carlton

Pernyataan Sikap Majelis Mujahidin: Pasca peledakan bom di Hotel JW Marriot dan Ritz CarltonPASCA peledakan bom di Hotel JW Marriot dan Ritz Carlton, 17 Juli 2009, Densus 88 antiteror memburu para tersangka teroris. Tragisnya, akibat kecerobohan terjadilah berbagai kasus salah tangkap, salah tembak, dan salah bunuh. Seperti dibunuhnya Ibrahim di Temanggung yang diduga Nurdin M. Top, ditembaknya Air Setyawan dan Eko yang diduga akan membom rumah presiden SBY di Cikeas. Sehingga menimbulkan ketakutan yang meluas, terutama masyarakat yang merasa terancam oleh sikap represif aparat keamanan. Oleh karena itu Majelis Mujahidin perlu mengeluarkan pernyataan sikap guna mendudukkan persoalan secara obyektif dan proporsional.

Memperhatikan:

  1. Keresahan masyarakat dalam persoalan terorisme, karena setiap kali muncul aksi teror selalu dikaitkan dengan faham keagamaan dan gerakan Islam yang berjuang menegakkan syariat Islam. Aparat keamanan sudah bertindak terlalu jauh dengan memeriksa wanita bercadar dan menciduk kelompok pendakwah.
  2. Pernyataan bernada SARA Pangdam IV Diponegoro Mayjen Haryadi Soetanto Senin, (17/8) di Mapolda Jateng, yang menyatakan: “Jika ada orang asing memakai sorban, jubah serta berjenggot, laporkan saja ke pihak keamanan. Masyarakat harus lebih peka terhadap hal-hal seperti itu”.
  3. Tindakan melanggar hukum, seperti pembunuhan tersangka teroris dengan berpijak pada slogan, “Bila tidak didahului maka teroris akan mendahului membunuh polisi’, menyebabkan aparat keamanan bertindak brutal dalam penanganan terorisme. Inilah cara berfikir teroris yang digunakan Densus 88, lalu apa bedanya polisi dan teroris? Dalam hal ini, rakyat memerlukan kepastian hukum terhadap kasus terorisme yang digolongkan sebagai extra ordinary crime (kriminal luar biasa).

Menimbang :

  1. Sikap over acting Densus 88, menyebabkan keresahan yang meluas di masyarakat, terutama umat Islam di desa-desa, sehingga melarang anak-anaknya mengikuti pengajian karena khawatir jadi obyek rekrutmen teroris.
  2. Tuntutan rasa keadilan umat Islam terhadap perlakuan pemerintah, khususnya pihak intelijen, kepolisisan dan Densus 88 yang bersikap tidak manusiawi dalam mempertontonkan aksi antiterornya.
  3. Tidak adanya perlindungan HAM sebagaimana telah diratifikasi oleh pemerintah Indonesia untuk menegakkan keadilan dan perlindungan hukum bagi warganya. 4. Pidato Presiden SBY menyambut delapan windu (64 tahun) kemerdekaan RI, 15 Agustus 2009 yang menegaskan, bahwa akar terorisme di Indonesia adalah kemiskinan, keterbelakangan dan ketidakadilan di berbagai wilayah dunia. “Terhadap itu semua, pembangunan yang kita lakukan justru bertujuan mengatasi kemiskinan, keterbelakangan, dan ketidakadilan,” tegasnya

Memutuskan :

  1. Menuntut DPR RI untuk memanggil presiden guna mempertanggungjawabkan kegagalannya menghentikan terorisme di Indonesia yang disebabkan tiga hal di atas. Juga memanggil Kapolri, karena membiarkan aksi pemberantasan terorisme tanpa prikemanusiaan dan melanggar HAM.
  2. Menuntut Kepala daerah seluruh Indonesia untuk tidak mengeluarkan peraturan ataupun kebijakan yang bersifat provokatif, menghambat umat Islam menjalankan ajaran agamanya, dan menghasut sesama warga negara untuk saling mencurigai berdasarkan identitas agama seperti sorban, jenggot, cadar, celana komprang, meniru perlakuan intelijen Amerika CIA terhadap rakyat beragama Islam.
  3. Menyeru umat Islam bangsa Indonesia untuk bersikap tegas menolak stigmatisasi terorisme dengan ajaran Islam maupun ayat-ayat jihad di dalam Al-Qur’anul Karim. 4. Menuntut transparansi dan keberanian untuk melakukan uji sahih terhadap langkah-langkah Pemerintahan SBY menangani kasus terorisme di Indonesia, dalam suatu dialog publik dengan Majelis Mujahidin.

Jogjakarta, Sya’ban 1430 H/19 Agustus 2009 M

Lajnah Tanfidziyah Majelis Mujahidin

Irfan S. Awwas                                                   M. Shabbarin Syakur

(Ketua)                                                             (Sekretaris)

Menyetujui Amir Majelis Mujahidin

(Drs. Muhammad Thalib)

Syahidnya Syaikh Maqdisi dan Pengkhianatan Hamas

Syahidnya Syaikh Maqdisi dan Pengkhianatan HamasJum’at, 14 Agustus 2009, Masjid Ibnu Taimiyyah, Rafah, Gaza, Palestina. Ketika itu, sholat Jum’at baru saja akan dimulai. Syekh Abdul Latif Musa, alias Syekh Abu Al Nur Al Maqdisi berdiri di atas mimbar. Beliau mengenakan jubah putih, berlapis gamis coklat keemasan, dengan janggut tebal, menambah kharisma ulama paruh baya tersebut. Sejenak Ia pun membacakan secarik kertas yang berada di tangannya.

“Kami deklarasikan lahirnya Emirat (Negara) Islam Palestina” ujarnya di hadapan jama’ah sholat Jum’at yang segera menyambutnya dengan pekikan takbir membahana. Sementara itu, empat orang berpakaian hitam, mengenakan tutup kepala, dan satu orang mengenakan rompi yang sudah dipasangi dengan bom, bersenjata lengkap berjaga-jaga. Mereka adalah pasukan Jundu Ansharullah, sekaligus pengawal Syekh Abdul Latif Musa. Beliau melanjutkan pidatonya dan bertanya kepada para jama’ah. “Pada siapa anda takut?” Amerika? Inggris? Perancis? Uni Eropa? Anda sebaiknya takut hanya kepada Allah,” ujarnya lagi berapi-api.


Mujahidin Jundu Ansharullah Sedang Mengawal Syaikh Abu Noor Al Maqdisi (rahimahullah)

Selepas sholat Jum’at, Syekh dan para pengawalnya meluapkan kegembiraan dan rasa syukur atas deklarasi Imarah Islam Palestina dengan berkeliling di sekitar Masjid. Sebagian jamaah dan warga sekitar berpartisipasi dengan mengacungkan dan mengepalkan tangan seraya bertakbir. Beberapa bocah bahkan antusias ikut berparade, berdampingan dengan beberapa pejuang Jundu Ansharullah yang bersenjata lengkap, sebagian dari mereka mengenakan penutup kepala bertuliskan kalimat syahadat. Sebuah pemandangan yang mengharukan.

Tiba-tiba terdengar letusan tembakan susul menyusul. Polisi Hamas, menyerang Masjid Ibnu Taimiyyah tersebut karena menganggap deklarasi Imarah Islam Palestina yang dilakukan Syekh Abdul Latif Musa bersama Jundu Ansharullah adalah sesuatu yang dilarang. Pertempuran sengitpun tidak terhindari hingga malam hari. Pasukan Jundu Ansharullah balas menyerang Hamas. Mereka sudah bersumpah akan balas menyerang Hamas jika mereka diserang. Syekh Abdul Latif Musa bahkan baru saja mengatakan sebelumnya :

“Siapapun yang menumpahkan darah kami, darahnya akan kami tumpahkan juga.!. Jika mereka (Hamas) mendekati masjid mereka akan tahu bahwa hari-hari mereka akan menjadi semakin pendek.”

Pertempuran pun pecah dan berlangsung selama kurang lebih 7 jam. Syekh Abdul Latif Musa alias Syekh Abu Al Nur Al Maqdisi syahid Insya Allah. Sementara itu, 24 orang lainnya termasuk 6 polisi Hamas tewas, dan lebih dari 150 orang mengalami luka-luka. Dunia pun gempar. Kaum Muslimin berduka. Pertempuran ini menyisakan sekian tanda tanya akan nasib perjuangan jihad kaum Muslimin di Palestina. Apakah ini menandakan babak baru jihad Palestina ?

Jundu Ansharullah & Syekh Abu Al Nur Al Maqdisi

Syekh Abu Al Nur Al Maqdisi adalah Syekh Abdul Latif Musa, pimpinan Jundu Ansharullah atau Tentara Penolong Allah, jama’ah jihad yang baru saja berdiri dan berafiliasi ke Al Qaeda. Syekh Abdul Latif Musa adalah seorang dokter sekaligus ulama yang tinggal di jalur Gaza Selatan, kota Rafah. Dari tempat tinggalnya inilah, Syekh Abdul Latif Musa, atau Syekh Abu Al Nur Al Maqdisi mendeklarasikan Imarah Islam Palestina, sebuah negara berdaulat dengan penerapan syariat Islam secara kafah.

Jundu Asharullah didirikan pada bulan November 2008, di wilayah selatan Gaza, dengan tujuan “Berjuang Dalam Jihad Dengan Aturan Allah”. Jama’ah jihad ini juga menyerukan untuk kembali mengikuti pemahaman para Salafus Sholeh dalam seluruh hal, termasuk berpolitik.

Logo Jundhu Ansharullah
Logo Mujahidin Jundu Ansharullah

Lambang atau logo Jundu Ansharullah adalah sebuah AK 47 yang ujungnya berkibar bendera Islam dengan kalimat syahadat. Di bagian bawah terdapat dua bilah pedang yang mengapit sebuah lingkaran bertuliskan Allah, Rosul, Muhammad dengan latar belakang peta dunia berwarna hijau. Lingkaran bertuliskan Allah, Rosul, Muhammad ini mirip dengan bendera Daulah (Negara) Islam Irak. Di bawah pedang terdapat khat Arab bertuliskan Jundu Ansharullah,Jundu Ansharullah menyatakan dalam situsnya bahwa mereka akan berjuang hingga bendera persatuan tegak, bendera Islam tentunya, dan agar ajaran Nabi Muhammad SAW mencapai kemenangan. Jundu Ansharullah berkeyakinan hanya syariat Islam satu-satunya sumber perundang-undangan hingga siapa pun yang keluar dari syariat Islam adalah murtad!

Jundu Ansharullah juga memiliki keinginan mulia, yakni ingin menyatukan seluruh mujahidin yang ada di Palestina, termasuk Hamas dan Jihad Islam serta para tahanan dari Muslim liberal yang ada di penjara-penjara Israel.

Mereka pada awalnya hanya beroperasi di Rafah dan Khan Younis. Seiring waktu, gerakan mereka cepat berkembang dan menyebar di seluruh wilayah Gaza. Hingga saat ini, Jundu Ansharullah telah memiliki sekitar 500 mujahidin, termasuk beberapa mujahidin asing yang ikut bergabung.

Pada tanggal 8 Juni lalu, mujahidin Jundu Ansharullah menjadi perhatian publik atas serangan spektakuler mereka terhadap Israel di persimpangan perbatasan perlintasan Karni. Dalam aksi tersebut, tiga mujahidin Jundu Ansharullah tertembak syahid oleh pasukan Israel.

Keinginan Jundu Ansharullah untuk mendirikan Imarah Islam Palestina di jantung kota Baitul Maqdis (Yerusalem) sebenarnya sudah dirilis di situs dan forum Jihadis. Di situs itu pula diumumkan bahwa Syekh Abdul Latif Musa sebagai pemimpin Jundu Ansharullah. Beliau mengatakan :

“Para tentara Tauhid tidak akan istirahat..sampai semua tanah kaum muslimin terbebaskan dan sampai Masjid Al-Aqsha bersih dari penodaan yang dilakukan orang Yahudi terkutuk.”

Syekh Abdul Latif Musa, adalah imam di Masjid Ibnu Taimiyyah, Rafah, dimana Imarah Islam Palestina dideklarasikan. Beliau juga menjadikan Masjid tersebut sebagai basis pertahanan Jundu Asharullah dan berjanji akan melawan Hamas jika mereka mendekati masjid. Syekh Abdul Latif Musa telah memberikan peringatan kepada Hamas atas keputusan mereka yang akan mengambil alih masjid. Syekh mengatakan : “Jika mereka mendekati masjid mereka akan tahu bahwa hari-hari mereka akan menjadi semakin pendek. “ Beliau mengatakan bahwa Jundu Ansharullah tidak akan memulai untuk menyerang Hamas, akan tetapi akan balas menyerang jika diserang. “Siapapun yang menumpahkan darah kami, darahnya akan kami tumpahkan juga.!”

Syekh Abdul Latif Musa juga mengatakan dan menyemangati semua orang yang memiliki senjata untuk bergabung dengan Jundu Ansharullah dan melaksanakan keputusan yang akan dikeluarkan secara rutin setiap pelaksanaan sholat Jumat. Jundu Ansharullah mengutuk demokrasi dan menganggapnya sebagai sesuatu yang dilarang dalam ajaran Islam karena mengikuti hukum manusia bukan hukum Allah.

Antara Jundu Ansharullah dan Hamas

Mengapa Hamas terusik dengan kehadiran Jundu Ansharullah ?

Pejabat Hamas menyebut Jundu Ansharullah sebagai “buron” atas serangkaian serangan bom terhadap beberapa Warnet di Gaza yang dianggap sebagai sarang amoral, dan sebuah penyerangan pada sebuah pesta pernikahan yang dihadiri oleh pihak keluarga dari pimpinan Fatah tepi Barat, Muhammad Dahlan.

Lima puluh orang terluka dalam serangan tersebut, namun Jundu Ansharullah menolak bertanggung jawab atas serangan itu. Pihak Fatah menuduh dan menyalahkan Hamas sebagai dalang serangan tersebut. Sebuah kejadian yang masih diselimuti misteri dan belum bisa dipastikan pihak mana yang benar.

Hamas menamakan mujahidin Jundu Ansharullah dengan kelompok Takfir (kelompok yang mengkafirkan orang lain) dan juga kelompok perusuh. Hal ini sebagaimana peryataan Departemen Kesehatan Palestina kepada koresponden InfoPalestina bahwa “Hasil korban kontak senjata antara polisi Jalur Gaza dengan kelompok Takfir, mencapai 14 korban meninggal.

Dalam versi Hamas, Jundu Ansharullah yang memulai tembakan sehingga menghasilkan baku tembak yang juga melukai 120 orang lainnya dan menewaskan seorang komandan Brigade Izuddin Al Qossam, Muhammad Shamali, 30 tahun.

InfoPalestina sebagai situs pro Hamas menyatakan bahwa kelompok perusuh (Jundu Ansharullah) yang memulai melepaskan tembakan dan menolak menyerahkan diri saat aparat keamanan memintanya untuk menghindari jatuhnya korban. Setelah itu kelompok perusuh juga dianggap melepaskan tembakan ke arah warga sipil yang menyebabkan salah satu aparat keamanan meninggal dunia.

Situs itu juga memberitakan bahwa Syekh Abdul Latif Musa, Imam Masjid sekaligus pimpinan Jundu Ansharullah mengumumkan berdirinya entitas ilegal dalam khutbahnya yang mengkafirkan Hamas dan menuduhnya sudah murtad. Jundu Ansharullah juga dikatakan menembaki pejalan kaki yang melintas di masjid sehingga beberapa orang terluka. Kemudian aparat keamanan Hamas terus mengepung masjid dan meminta Jundu Ansharullah untuk menyerahkan diri dan mematuhi hukum tanpa perlawanan. Namun permintaan itu disambut dengan tembakan membabi buta sehingga jumlah korban bertambah.

InfoPalestina kembali mengabarkan bahwa orang-orang bersenjata ini (Jundu Ansharullah) meminta salah satu komandan Al-Qassam di Rafah, Muhammad Shamali untuk menjadi penengah. Namun setelah melihat sang komandan datang, kelompok bersenjata ini melepaskan pelontar roket jenis RPG sehingga ia gugur syahid.

Dikabarkan akhirnya Hamas berhasil menguasai lokasi kejadian dan aparat keamanan Hamas mengejar kelompok perusuh dan menguasai tempat-tempat yang dijadikan pertahanan mereka. Lokasi kejadian sudah steril dan beberapa lainnya sudah ditangkap.

Ehab Ghasen, juru bicara Departemen Dalam Negeri (Depdagri) Palestina menegaskan bahwa peristiwa kontak senjata ini berakhir dengan dikuasainya wilayah yang menjadi perlindungan kelompok Takfir (Jundu Ansharullah). Ia juga mengatakan bahwa lima anggota polisi meninggal dunia saat menjalankan tugasnya.

Gencar dan kerasnya perlakuan Hamas kepada Jundu Ansharullah disebabkan Hamas menolak deklarasi berdirinya Imarah Islam Palestina oleh Syekh Abdul Latif Musa, pimpinan Jundu Ansharullah. Hamas tidak mengizinkan siapa pun di Jalur Gaza menerapkan hukum dengan tangannya sendiri, karena menurut Hamas penegakan hukum adalah wewenang aparat keamanan.

Mendagri Palestina, Fatih Hammad, yang merupakan salah satu menteri Hamas, mengatakan bahwa pihaknya tidak akan membiarkan kelompok manapun “menyabotase” hukum secara paksa.

Juru bicara Hamas, Dr. Sami Abu Zuhri, dalam keterangan khusus kepada InfoPalestina (14/8) bahkan mengatakan bahwa deklarasi yang dilakukan oleh Syekh Abdul Latif Musa merupakan kesalahan berfikir yang tidak ada hubungannya dengan pihak luar. Ia juga menekankan bahwa tidak diperkenankan kepada siapapun untuk menerapkan hukum dengan caranya sendiri. Sebab masalah ini tanggung jawab pihak keamanan. Sebelumnya, pihak Depdagri menegaskan bahwa siapa saja yang melanggar hukum dan membawa senjata untuk melakukan kerusuhan, maka akan ditindak dan ditahan.

Peryataan resmi pemerintah Palestina disampaikan oleh Ismail Haniya yang mengatakan, kami tidak akan mengizinkan pengacau keamanan kembali beraksi di Gaza. Ia mengisyaratkan adanya sekelompok orang yang menyempal dari barisan Palestina dan mengancam nyawa orang tak berdosa, disamping membuat hukum sendiri.

Sementara itu, juru bicara pemerintah Palestina, Thahir Nunu dalam konfrensi persnya Jum’at (14/8) mengatakan, semua pihak harus tunduk pada peraturan yang berlaku. Tidak boleh ada orang yang berada di atas peraturan. Nunu menjelaskan, akhir-akhir ini ada sekelompok orang yang menamakan dirinya Salafi Jihadiyah yang dipimpin oleh seorang yang bernama, Abdullatif Musa. Ia melakukan berbagai kejahatan terhadap rakyat Palestina. Seperti meledakkan acara pernikahan, merampas hak milik warga dan mengancam keselamatan mereka. Mereka juga berupaya membuat undang-undang sendiri.

Nunu mengungkapkan, kelompok ini telah membuat kekacauan dan telah keluar dari koridor nasional dan Islam. Kelompok inipun telah keluar dari perlawanan terhadap penjajah Israel, saat terjadinya perang dengan Zionis. Ia menegaskan, “Kami tidak pernah menolong orang kafir untuk memerangi kafir lainya”, sebagaimana mereka tuduhkan.

Benarkah semua informasi tersebut ? Sekarang, saatnya kita membandingkan perjuangan Jundu Ansharullah dengan Hamas tanpa meninggalkan prinsip tabayyun dan tetap mengedepankan kepentingan Izzul Islam wal Muslimin.

Hamas, Takfir dan Demokrasi

Jundu Ansharullah mengecam Hamas karena dianggap gagal dalam menerapkan syariat Islam secara kafah di Gaza. Karena itulah mereka kemudian mendeklarasikan Imarah Islam Palestina, dengan harapan syariat Islam secara kafah dapat direalisasikan. Mereka juga tidak setuju dengan gerak dan sikap Hamas yang semakin jauh terperosok dalam kubangan demokrasi.

Al Qaeda melalui Syekh Aiman Az Zawahiri sudah berulangkali menasehati Hamas, bahkan sampai mengeluarkan sebuah statemen yang cukup keras kepada Hamas agar  tidak mengambil jalan damai, jalan parlemen, jalan demokrasi, dan hanya menggunakan jalan suci jihad fie sabilillah untuk membebaskan tanah Palestina.


Brigade Izzuddien Al Qassam, Sayap Militer Hamas

Syekh Abu Umar Al Baghdady, Amirul Mu’minin Daulah Islam Iraq, pernah berpesan kepada Brigade Izuddin Al Qassam, sayap jihad Hamas, agar memisahkan diri dari Hamas. Beliau mengatakan :

“Anggota Brigade al-Qassam yang ikhlas harus mengumumkan pemisahan mereka dari gerakan Hamas, dan mengumumkan keterpisahan mereka dari kepemiminan politiknya yang telah rusak dan menyimpang.”

Beliau melanjutkan :

“Kami tahu bahwa banyak pemuda-pemuda di dalam tubuh al-Qassam, dan juga beberapa tokoh dan pemimpinnya, mereka merasa sesak melihat penyimpangan yang dilakukan oleh para pemimpin politik mereka. Andaikata tidak kami temukan penyimpangan yang sangat jauh dari syari’ah rabbul ‘alamin (aturan Tuhan pencipta alam) niscaya kami tidak menyerukan kepada para pemuda al-Qassam yang ikhlas untuk membangkang terhadap pemimpin politik mereka.”
Dosa-dosa Hamas, terutama sebagaimana ditunjukkan oleh para pemimpin tertinggi mereka, sudah sangat banyak dan sangat prinsip. Hamas di bawah kendali Ismail Haniya dikenal sangat ‘lunak’ dan rela bernegoisasi dengan pihak mana pun, termasuk kaum kafir. Hamas, juga pernah bernegoisasi dengan pihak syiah Iran, dan memuji Ayatullah Khoimeni dan Ali Khomeini. (lihat lengkap di http://www.youtube.com/watch?v=a33itaDX18k )

Bahkan, sehari setelah Hamas menggagalkan pendirian Imarah Islam Palestina, Khalid Misy’al, petinggi Hamas lainnya, berencana untuk berdialog musuh utama Islam, yakni dengan presiden Amerika terpilih, Barack Obama, sebagaimana dilaporkan harian Qatar, Al Watan. Misy’al menilai bahwa kebijakan Obama lebih baik daripada mantan presiden sebelumnya, George W. Bush, dan dia pun menolak bahwa Hamas akan menegakkan aturan Islam yang sangat ketat di Jalur Gaza, dengan dalih bahwa agama tidak bisa ditegakkan dengan kekerasan dan paksaan.


Khalid Misy’al Bermesraan dengan Ayatullah Ali Khomeini, Pimpinan Syi’ah Iran, Na’udzubillah

Jejak keterpurukan Hamas dalam lumpur demokrasi dan pemilu sudah berlangsung lama. Hamas mulai terjebak untuk ikut sistem pemilu demokrasi kufur, pada pemilihan parlemen pada tahun 2006. Hamas, terutama sayap politiknya semakin terpedaya dan terpukau dengan kemenangan yang mereka peroleh setelah endapatkan 76 dari 132 kursi yang diperebutkan.

Pimpinan Hamas, Khalid Misy’al, dalam sebuah wawancara dengan Koran Rusia, Nezavisimaya Gazeta, pada tanggal 13 Februari 2006 menyatakan kemungkinan Hamas untuk hidup berdampingan dengan Israel dengan beberapa syarat. Syarat itu antara lain pengakuan batas wilayah 1949, penarikan Israel dari semua wilayah Palestina yang diduduki termasuk Tepi Barat dan Yerusalem Timur. Selain itu Israel juga harus mengakui hak-hak warga Palestina, termasuk hak untuk kembali ke tanah airnya.

Sepak terjang Hamas yang berkubang dalam sistem kafir demokrasi inilah yang menjadi penyebab Hamas di cap kafir. Keharaman demokrasi merupakan hal yang umum dan maklum dalam masalah dien (agama Islam) yang dalil-dalilnya sudah dijelaskan oleh para ulama. Hal ini pulalah yang disampaikan oleh Jundu Ansharullah, melalui pemimpinnya, Syekh Abdul Latif Musa. Namun peryataan dan peringatan keras kepada Hamas itu ditanggapi lain, bahkan Hamas balas mencap Jundu Ansharullah sebagai kelompok Takfir, yakni kelompok yang mudah mengkafirkan orang lain.

Tentu saja, ummat bisa melihat dan memperhatikan secara seksama permasalahan ini secara adil, dan menilai pihak manakah yang lebih dekat kepada kebenaran. Tuduhan takfir yang diucapkan Hamas dan Haniya tentu saja tidak berdalil.  Jundu Ansharullah secara pasti diketahui berisi orang-orang yang sangat membenci demokrasi dan sangat wajar jika seorang yang beriman menentang demokrasi karena demokrasi merupakan hukum kufur. Jadi, Hamas yang seharusnya intropeksi diri serta mau menerima kritikan yang bermaksud untuk menyelamatkan mereka sendiri di hadapan Allah SWT kelak. Mengapa Hamas tetap memilih jalan demokrasi dan rela berunding dengan musuh-musuh mereka, lalu lebih memilih untuk memerangi saudara muslim, sesama mujahidin ?


Syaikhul Mujahid, Abu Muhammad Al Maqdisi (hafizhahullah)

Syekh Abu Muhammad Al Maqdisi, ulama mujahid dan pembela tauhid abad ini merasa shok, sedih, dan terkejut dengan berita syahidnya Syekh Abdul Latif Musa atau Syekh Abu Al Nur Al Maqdisi, pimpinan Jundu Ansharullah. Beliau bahkan langsung mengeluarkan sebuah artikel khusus untuk menjelaskan peristiwa tersebut dengan judul “Mengapa Anda Membunuh Seorang Laki-laki Hanya Karena Ia Mengatakan Bahwa Tuhan Saya Adalah Allah ?”

Artikel yang disebarluaskan dalam bahasa Arab dan Inggris melalui forum jihad Ansar tersebut menunjukkan betapa herannya Syekh Abu Muhammad Al Maqdisi atas sikap dan tindakan Hamas yang rela membunuh saudara Muslimnya, bahkan seorang ulama dan para mujahid yang berada di dalam masjid, hanya karena mereka menjelaskan dan mendeklarasikan hal-hal yang telah ditetapkan syariat! Dan atas semua itu, Hamas hanya mengklaim bahwa tindakannya adalah benar karena mereka pemilik otoritas, administrasi, dan kepemimpinan diktator di Jalur Gaza. Di akhir tulisannya, Syekh Abu Muhammad Al Maqdisi mendoakan agar Syekh Abdul Latif Musa syahid, begitu juga dengan mujahidin yang terbunuh pada peristiwa Jum’at 14 Agustus 2009 lalu.

Jihad Membebaskan Tanah Suci Palestina

Lalu bagaimana perkembangan jihad selanjutnya di bumi Palestina ?

Pihak Jundu Ansharullah, melalui sebuah pesan yang diposting di situs jihad Al Qaeda berjanji akan membalas kematian 24 orang anggota mereka, termasuk pimpinan Jundu Asharullah, Syekh Abdul Latif Musa yang tertembak pada bentrokan bersenjata dengan Hamas. “Perang tetap pada jalannya”, demikian ungkap mereka.

Bertajuk  “Pedang Keadilan Islam”, Jundu Ansharullah bersumpah akan membalas kematian anggota dan pimpinan mereka. “Kami katakan kepada masyarakat yang menjadi saksi mata kejahatan ini bahwa hal ini belum berakhir, dan perang tetap pada jalannya,” kata isi pesan tersebut. Mereka juga memberi peringatan kepada penduduk di jalur Gaza untuk menjauhi kantor-kantor pemerintahan Hamas dan kantor pasukan keamanan Hamas.

“Kami serukan kepada masyarakat untuk menjauhi masjid-masjid yang dihadiri oleh para pemimpin “Kafir” Ismail Haniyah dan para menteri serta anggota legislatifnya, yang membuat undang-undang yang bertentangan dengan aturan Allah,” kata pesan itu selanjutnya.

Sementara itu, pihak Hamas sendiri tidak menyesal dan tidak ada keinginan untuk dialog dengan Jundu Ansharullah yang dianggapnya sebagai pihak pengacau. Dalam sebuah peryataan resminya yang dikutip oleh InfoPalestina (16/8) Hamas mengatakan ; “Kami sangat mendukung langkah-langkah pasukan keamanan Palestina yang mencegah penyebaran kesesatan di masyarakat muslim yang agung ini. Hamas menyerukan tindakan tegas pada mereka yang mengganggu keamanan, stabilitas dan kedamaian masyarakat.” Tidak membiarkan adanya senjata kecuali senjata perlawanan untuk melawan penjajah dan membela tanah air dan aqidah.

Nampaknya energi perjuangan jihad di Palestina saat ini masih akan berkecamuk diantara Jundu Ansharullah dengan Hamas, sebelum akhirnya berpusat dan diarahkan ke musuh utama kaum Muslimin, yakni yahudi Israel, laknatullah!

Seluruh kaum Muslimin lebih menginginkan bersatunya seluruh mujahidin di Palestina untuk kemudian berjihad bersama menggempur habis-habisan Israel. Mereka yakin, hanya dengan jihadlah bumi Palestina yang suci akan kembali ke pangkuan kaum Muslimin, bukan dengan cara yang lain.

Amirul Mukminin Daulah Islam Iraq, Syekh Abu Umar Al Baghdady pernah mengatakan:

“Adapun tentang peranan Negara Islam di bumi dua sungai untuk membebaskan Palestina, maka kami berharap kepada Allah, dan juga memohon kepadaNya agar bisa seperti negara yang dipimpin oleh Nuruddin asy-Syahid. Negara itu merupakan batu loncatan untuk mengembalikan al-Aqsha kepada pangkuan ummat Islam. Kemudian muridnya, Shalahuddin sang Penakluk berhasil memasuki Palestina di dalam perang Hitthin, sebagaimana al-Faruq Umar bin Khaththab berhasil melakukan hal itu. Maka sesungguhnya kami pun berdo’a kepada Allah, dan bercita-cita untuk menjadikan Negara Islam Iraq sebagai batu loncatan untuk mengembalikan Palestina ke pangkuan ummat Islam.”

Amirul Mukminin Imarah Islam Afghanistan, Mullah Muhammad Umar, juga berpesan :

“Kami harap umat Islam bisa mengesampingkan semua halangan yang ada selama ini. Kita semua wajib berjihad dan membantu saudara kita di Palestina, Iraq dan Afghanistan.”

Singa Islam, pimpinan Al Qaeda, Syekh Usamah bin Ladin juga mengeluarkan pesan jihad yang paling ditunggu dalam audio berdurasi 22 menit yang dirilis oleh sayap media Al Qaeda, As Sahab Media. Dalam pesan tersebut Syekh Usamah menyampaikan pesan jihad kepada seluruh kaum Muslimin untuk menghentikan agresi Israel ke Gaza.

“Maka yang wajib adalah tahridh (menyemangati)  terhadap jihad yang hukumnya sudah fardhu ain, mendaftar para pemuda untuk bergabung dalam pasukan-pasukan jihad fi sabilillah, melawan aliansi zionis salibis dan antek-anteknya di Kawasan. Bukan menyalurkan energi para pemuda dengan turun ke jalan-jalan untuk melakukan demonstrasi-demonstrasi tanpa senjata.”

Syekh Usamah dalam risalahnya tersebut mengomentari pelbagai cara dan tuntutan yang dilakukan oleh sebagian besar kaum Muslimin dan sebagiannya adalah menyimpang, lalu memberikan solusi yang benar sesuai syari’at Islam.

“Meskipun terdapat banyak jalan menyimpang, namun di sana ada satu jalan lurus untuk merebut kembali Al-Aqsha dan Palestina, yaitu jihad fi sabilillah, seperti yang telah kami singgung tadi.”

Beliau juga menyinggung mereka yang mencukupkan diri dengan hanya membebankan tanggung jawab masalah Palestina hanya kepada penguasa dan ulama.

“Mencukupkan diri membebankan tanggung jawab kepada penguasa dan ulama, setelah itu berpangku tangan dari jihad, tidaklah membebaskan kalian dari tanggung jawab. Tidak lain itu juga merupakan jalan untuk melarikan diri. Perintah Allah di dalam Al-Quranul Karim untuk berjihad di jalan-Nya sudah jelas, baik berjihad dengan jiwa maupun harta, hingga kebutuhan (jihad) tercukupi.”

Terakhir beliau berpesan kepada kaum Muslimin Palestina.

“Saudara-saudaraku di Palestina…Berkali-kali kalian menanggung kesusahan seperti yang dialami bapak-bapak kalian selama sembilan dekade ini, dan sesungguhnya kaum Muslimin bersimpati terhadap kalian karena apa yang mereka saksikan dan mereka dengar. Sedangkan kami, mujahidin, juga bersimpati kepada kalian. Dan simpati kami lebih besar, karena mujahidin juga mengalami kehidupan sama dengan yang kalian alami. Yang mereka rasakan lebih susah dari apa yang kalian rasakan. Mereka dibombardir sebagaimana kalian dibombardir, dengan pesawat-pesawat yang sama. Mereka kehilangan orang-orang tercintanya sebagaimana kalian kehilangan. Maka segala puji bagi Allah, kita adalah milik Allah dan kepada-Nya saja kita akan kembali.”

Akhirnya, kembali Hamas harus dinasehati secara keras. Ini adalah waktu dan saat-saat untuk memilih bagi Hamas, apakah akan berpihak kepada tauhid yang murni, atau kepada demokrasi yang palsu. Hamas harus tegas dan jelas dalam memilih, apakah ingin berdiri di bawah bendera tauhid atau berdiri di bawah bendera demokrasi, sehingga rela menumpahkan darah saudara Muslimnya, dengan alasan nasionalis sempit produk demokrasi. Hamas harus kembali ke khittah perjuangannya dahulu, jihad fie sabilillah mengusir seluruh orang-orang yahudi Israel dari bumi suci Palestina.

Wallahu’alam bis showab!

By: M. Fachry
Arrahmah.Com International Jihad Analys

Ar Rahmah Media Network
http://www.arrahmah.com
The State of Islamic Media
© 2009 Ar Rahmah Media Network

Inilah 4 Orang Yang Akan Membuat Mabes Polri Kembali Sibuk

Inilah 4 Orang Yang Akan Membuat Mabes Polri Kembali Sibuk

JAKARTA (Arrahmah.com) – Mabes Polri, Rabu (19/8), mengumumkan empat orang yang diduga terlibat dalam pengeboman Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton di Mega Kuningan, Jakarta Selatan, 17 Juli lalu.

Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Nanan Sukarna dalam konferensi pers di Mabes Polri, menyatakan keempat orang tersebut memiliki peran berbeda dalam menjalankan aksi pengeboman.

Berikut empat daftar tersangka teroris yang dirilis Mabes Polri:

Saefudin Zuhri bin Djaelani alias Ustaz Syaifudin Zuhri, alias Udin, alias Soleh. Syaifudin beralamat di Perum Telaga Kahuripan, Parung, Bogor, Jawa Barat, dengan tinggi badan sekira 150 centimeter dan bentuk kepala bulat.

Muhamad Syahrir alias Aing. Sesuai dengan identitas di Kartu Tanda Penduduk Syahrir lahir di Jakarta, 25 Juni 1968 dengan alamat Kompleks Garuda, Blok C1 nomor 6, Melayu Naga, Teluk Naga, Tangerang, Banten. Tinggi 165 centimeter dan bentuk kepala bulat.

Bagus Budi Pranoto, lahir di Kudus 2 November 1979, dengan alamat Desa Klisat, Mijen, RT 08/01, Kecamatan Kaliwungu, Kudus, Jawa Tengah. Tinggi badan 160 centimeter dan bentuk kepala lonjong.

Terakhir, Aryo Sudarso, alias Suparjo Dwi Anggoro, alias Aji, alias Dayat, alias Mistam Husamudin. Aryo memiliki dua identitas KTP, pertama beralamat di Cakung Timur, Kampung Pisangan, Kelurahan Penggilingan. Tempat dan tangal lahir, Tegal, 22 Januari 1973.

Satu KTP lain kelahiran Kendal, 22 Maret 1973, dengan alamat Desa Sidokumpul, Kecamatan Patean, Kendal, Jateng. Tinggi badan sekira 160 centimeter dan bentuk kepala oval.

“Syaifudin Zuhri diduga terlibat merekrut bomber. Budi Pranoto pernah divonis 3 tahun 6 bulan karena kasus terorisme pada 2004,” ungkap Nanan.

Dia juga meminta masyarakat yang menemukan mereka dapat menghubungi Siaga Bareskrim atau Divisi Humas Mabes Polri, atau kepolisian setempat. (okz/arrahmah.com)

Empat Personil Keamanan Pakistan Tewas Terkena Ledakan

Empat Personil Keamanan Pakistan Tewas Terkena Ledakan

MIRANSAH (Arrahmah.com) – Sekurangnya empat orang personil keamanan Pakistan tewas setelah sebuah kendaraan meledak dan merusak pos pengecekan milik pihak keamanan Pakistan di wilayah barat laut.

Ledakan terjadi pada Kamis (19/8) di sekitar Miransah, kota utama di distrik Waziristan Utara.

“Empat personil pasukan keamanan terbunuh dan delapan orang lainnya cedera dalam aksi pemboman di pos pengecekan Isha,” kata salah seorang pejabat keamanan.

“Pembom menabrakkan kendaraannya ke pos keamanan, dan kemudian mobil itu meledak,” lanjutnya.

Insiden tersebut juga segera dikonfirmasi oleh pihak intelejen dan petugas keamanan lainnya. (Althaf/prtv/arrahmah.com)

Israel Semakin Banyak Mencaplok Tanah Palestina

Israel Semakin Banyak Mencaplok Tanah Palestina

TEPI BARAT (Arrahmah.com) – Kaum Zionis Yahudi (la’natullah ‘alayh) mengatakan akan secepatnya menyita 28,4 ha tanah milik kaum muslimin Palestina yang terletak di kota Ya’bad, sebelah utara Tepi Barat, untuk kepentingan militernya.

Kantor urusan sipil Palestina menyatakan pada hari Selasa (18/8) bahwa tanah yang akan segera dikuasai oleh Israel itu letaknya bersebelahan dengan Shaqed (pemukiman ilegal bangsa Yahudi), sebelah barat Jenin, sebagaimana dilaporkan dalam harian Ma’an.

Kira-kira 10% pemukiman tersebut dibangun di lahan privat warga Palestina, dan sisanya dibangun di tanah umum pedesaan Ya’bad, kata warga.

Pemimpin wilayah Ya’bad, Walid Abbadi, menuturkan bahwa tanah itu pun adalah tanah milik pribadi. Kebanyakan lahannya ditanami oleh pohon zaitun.

Berdasarkan keterangan Abbadi, semua pemilik tanah telah bertindak untuk membuktikan keabsahan hak mereka atas tanah mereka sendiri. Namun, sayangnya, ketidakadilan selalu menimpa kaum muslimin Palestina. (Althaf/prtv/arrahmah.com)

Jundu Ansarullah Membantah Segala Fitnah yang Ditujukan Untuk Kelompoknya

Jundu Ansarullah Membantah Segala Fitnah yang Ditujukan Untuk Kelompoknya

GAZA (Arrahmah.com) – Beberapa hari lalu, berita mengejutkan datang dari Palestina.  Setelah mendeklarasikan berdirinya Imarah Islam di Gaza di sebuah masjid dekat perbatasan Rafah pada jumat (14/8), kelompok mujahidin Jundu Ansarullah mendapat serangan dari tentara dan polisi Hamas.  Dalam peristiwa ini, amir Jundu Ansarullah, Syeikh Abdel-Latif al-Mousa (Abu Noor al-Maqdisi) syahid (Insha Allah) terkena tembakan.

Hamas menyerang Jundu Ansarallah karena kelompok ini dinilai menyalahi aturan, dengan mendirikan Imarah Islam di Gaza, berarti Jundu Ansarallah menentang hukum yang berlaku, begitu menurut Hamas.  Beberapa petinggi Hamas mengatakan kelompok ini sebagai kelompok “pengacau” yang ingin menyabotase hukum.  Bahkan Hamas mengatakan bahwa kelompok ini sebagai kelompok takfiri, dan harus segera diberantas.

Selain itu, Hamas juga menyalahkan Jundu Ansarallah terkait peristiwa pemboman di sebuah pesta pernikahan di Palestina beberapa bulan lalu.  Terkait hal ini, Jundu Ansarallah mengeluarkan statemen resmi yang dirilis di situs Resmi Jundu Ansharullah dan telah diterjemahkan oleh redaksi arrahmah.com sebagai berikut :

Mujahidin Berlepas Diri dari Ledakan-ledakan yang Ditujukan terhadap Kaum Muslimin

{ Dan barangsiapa yang mengerjakan kesalahan atau dosa, kemudian dituduhkannya kepada orang yang tidak bersalah, maka sesungguhnya ia telah berbuat suatu kebohongan dan dosa yang nyata. (An-Nisa: 112) }

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, shalawat dan salam atas utusan Allah. . .

Saudara Kami Kaum Muslimin yang mulia. . .

Kami tegaskan kepada saudara kami kaum Muslimin, bahwa Jama’ah Jundu Ansharullah dalam naungan Baitul Maqdis, berlepas diri secara total dari ledakan yang terjadi dalam acara pernikahan di kota Khan Yunis khususnya, dan seluruh peledakan dalam negri umumnya.

Dan kami tegaskan bahwa tujuan utama dari kabar-kabar seperti ini yang ditujukan kepada Jama’ah Jundu Ansharullah adalah untuk merusak citra Mujahidin, yang telah berulang kali menyatakan bahwa tujuan Jihad mereka adalah meninggikan kalimat Allah dan menolong nabi-Nya – shalawat dan salam atasnya –,  membebaskan para tahanan kaum muslimin, dan menyatukan para mujahid ummat ini.

Berdasarkan hal-hal tersebut, kami menegaskan sebagai berikut:

Pertama: Kami dalam Jama’ah Jundu Ansharullah berlepas diri secara total dari perbuatan-perbuatan seperti ini yang merusak Islam dan kaum Muslimin dan merusakan citra jihad kami yang diberkati.

Kedua: Bahwa menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran wajib atas setiap muslim bahkan ia adalah sumber kebaikan ummat ini, sebagaimana firman Allah ta’ala:
{ Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar,. . . (Ali Imran: 110) }, dan firman-Nya juga: { Serulah [manusia] kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (An Nahl: 125) }

Ketiga: Bahwasanya kami benar-benar menjaga dari pertumpahan darah kaum muslimin dan menghindari fitnah yang nampak maupun tidak.

Keempat: Kami menyeru kepada seluruh ummat ini dan para ulamanya untuk melaksanakan kewajiban mereka untuk membenarkan yang haq dan menyalahkan kebatilan, dan menasihati para pemuda, mengajak serta mengajarkan kepada mereka tentang agama mereka.

Kelima: Kami menyeru kepada para pemuda ummat ini agar bersegera menuju ke medan-medan Jihad, memerangi musuh-musuh Allah, dan menyingkirkan musuh yang menjajah negeri-negeri kaum muslimin, dan berjihad di jalan Allah untuk membebaskan tempat isra’ rasulullah s.a.w.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah berkata: “Tiada yang lebih wajib setelah iman kepada Allah dari menyingkirkan musuh yang menjajah negeri-negeri kaum muslimin.” Dan ini tidak akan sempurna kecuali jika bersatunya hati para muwahhidin (orang yang bertauhid) dan terkonsentrasi upaya-upaya mereka.

Keenam: Kami katakan kepada kaum Mukminin agar mereka mengecek dan mengkonfirmasi sebelum masuk dalam urusan kehormatan dan darah saudara mereka para mujahidin. Allah berfirman: { Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (Al Hujurat: 6)  }

Ketujuh: Kami katakan kepada munafiqin dan murjifin yang selalu ada di mana pun dan kapan pun, kami katan kepada mereka, segeralah bertaubat kepada Allah sebelum ruh kalian dicabut sedangkan kalian dalam kondisi seperti ini – tidak mau menolong agama Allah dan mencerca para penolongnya –.

Kedelapan: Terakhir kami tegaskan bahwa kami akan tetap teguh –dengan izin Allah– atas agama kami, dan atas apa yang Allah janjikan kami atasnya sehingga kalimat Allah menjadi tinggi dan kalimat orang-orang kafir menjadi rendah, atau kami semua hancur dan kami mempersembahkan ruh kami dan harta kami dengan harga murah di jalan Allah.

Ujian dan cobaan adalah salah satu sunnatullah (ketetapan Allah), agar Allah mengetahui orang-orang yang benar di antara kita dan pembohong, dan bahwa manusia diuji sesuai dengan tingkat iman mereka, dan sungguh para nabi dan nabi kita yang utama – shalawat dan salam atasnya –, mereka adalah manusia yang paling berat ujiannya.

Allah berfirman:  { Alif laam miim (1) Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan [saja] mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? (2) Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (3) (Ar-Ruum) }

Dan firman-Nya juga: { Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan [begitu saja], sedang Allah belum mengetahui [dalam kenyataan] orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi teman yang setia selain Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (At Taubah: 16) }

Kami memohon kepada Allah agar meneguhkan kami atas kebenaran, dan mewafatkan kami dalam keadaan diridhai-Nya.

Allah maha besar dan kemuliaan hanya milik Allah, Rasul-Nya, dan kaum Mukminin.

Jama’ah Jundu Ansharullah
Dalam Naungan Baitul Maqdis
2 Sya’ban 1430 H / 24 Juli 2009 M

Semoga peristiwa ini dapat memberi pelajaran kepada ummat dan ummat dapat membedakan mana yang haq dan bathil.  Perjuangan mengembalikan kemuliaan ummat harus diperjuangkan di atas manhaj yang benar dan dengan thariqoh (metode) yang benar pula.  Sejatinya, memperjuangkan kemuliaan ummat dan tegaknya syariat Islam dengan berkompormi terhadap hukum kufur (demokrasi) tidak akan pernah menemukan keberhasilan, bahkan menjauhkan pejuangnya dari Qur’an dan Sunnah karena harus mengkompromikan segala hal dengan hukum buatan manusia yang berlaku. Wallahualam

(haninmazaya/POJ/fadly/arrahmah.com)

Kegembiraan Ramadhan Yang Terenggut Di Jalur Gaza

Kegembiraan Ramadhan Yang Terenggut Di Jalur Gaza

Ihab Al-Ashqar, seorang remaja Gaza berusia 14 tahun, tersenyum pahit saat menjelaskan mengapa ia tidak merasakan kegembiraan menyambut datangnya bulan suci Ramadhan.

“Semua perbatasan ditutup. Mereka (Israel) sedang membunuh kami perlahan,” katanya Ihab pedih.

Sebagaimana hampir 1,6 juta orang di Gaza, Ashqar kehilangan kegembiraan bahwa Ramadhan adalah bulan istimewa bagi seluruh muslim tiap tahunnya.

Tahun ini, bulan suci Ramadhan mendatangi Gaza yang sedang dilingkupi oleh barbarisme perang Israel dan tercekik oleh pengepungan bangsa Zionis.

“Hati kami dan rumah kami disesaki duka dan kesedihan,” kata Huda Al-Astal membatin.

“Hidup kami merana. Kami hampir tidak dapat bernafas.”

Israel telah mengisolasi wilayah Gaza dan penduduknya dari dunia sejak Hamas terpilih untuk berkuasa pada tahun 2006, serta menutup semua perbatasan.

Israel juga menghalangi bantuan kemanusiaan yang terdiri dari barang-barang yang sangat jauh dari membahayakan seperti keju, sikat gigi, pasta gigi, sabun, dan tisu toilet.

Bahkan warga Palestina di Jalur Gaza harus rela menikmati shaumnya di bawah bayang-bayang kegelapan karena Israel terus-menerus memblokir pengiriman bahan bakar.

“Bahkan kami tidak memiliki penerangan,” salah seorang ibu menggerutu.

“Kami mungkin tidak akan bisa bertahan.”

Kejadian ini sungguh mengharukan seharusnya bagi kaum muslimin di negeri-negeri lainnya.

“Biasanya menjelang Ramadhan, orang-orang pergi ke pasar untuk membeli seluruh kebutuhan mereka satu bulan penuh,” ujar Mohammed Farag, salah seorang pedagang.

“Namun tahun ini, kami memiliki sedikit sekali persediaan barang untuk dijual, dan orang-orang pun tidak memiliki uang untuk membelinya.”

Seperti yang dialami oleh Abu Mohamed Al-Shawwa. Ia berjalan menyusuri pasar untuk mencari keperluan yang akan dibeli untuk keluarganya dengan uang seadanya.

“Harga-harga semakin membubung tinggi,” katanya putus asa.

“Bahkan yang saya berikan pada keluarga saya tahun lalu, sepertinya tidak dapat saya berikan pada Ramadhan tahun ini.”

Jumlah pengangguran di Jalur Gaza saat ini melebihi 60% dan Bank Dunia memperkirakan bahwa dua per tiga populasi di wilayah ini harus hidup di bawah garis kemiskinan. Lebih dari satu juta orang bertahan dengan pasokan makanan dari PBB.

Nihad Al-Helw, ibu delapan orang anak yang suaminya kehilangan pekerjaan akibat penjajahan Israel mengatakan bahwa dirinya yakin akan mendapatkan makanan untuk berbuka.

“Saya hanya berharap anak saya memperoleh satu jenis makanan saja untuk disantap.”

Anaknya, We’aam, sudah mengerti bahwa ia tidak mungkin menemukan daging, ikan, dan buah dalam menu makannya.

Namun yang paling menyakitkan baginya adalah bahwa ia tidak akan mendapat lampu warna-warni yang biasa dibelikan ayahnya tiap kali Ramadhan tiba.

“Ini akan menjadi Ramadhan yang paling menyedihkan seumur hidup saya.” kata We’aam sambil menangis. (Althaf/IOL/arrahmah.com)

Jurubicara TTP Ditangkap Mengatakan Baitullah Mehsud Telah Meninggal?

Jurubicara TTP Ditangkap Mengatakan Baitullah Mehsud Telah Meninggal?

ISLAMABAD (Arrahmah.com) –  Jurubicara Taliban Pakistan (TTP), Maulvi Umar dikabarkan tertangkap pada Selasa (18/8) kemarin.  Setelah tertangkapnya Maulvi Umar, beberapa media memberitakan bahwa dalam sebuah interogasi yang dilakukan kepadanya, dia mengatakan amir TTP telah meninggal dalam serangan misil beberapa minggu lalu di wilayah Waziristan Selatan.  Benarkah berita ini?

Media melaporkan bahwa maulvi Umar, yang ditangkap di dekat perbatasan Pakistan-Afghanistan, mengonfirmasikan kematian Beitullah Mehsud, amir Taliban Pakistan dalam serangan misil 5 Agustus silam.

“Agen intelijen memberikan informasi bahwa Maulvi Umar mengonfirmasikan kematian Beitullah Mehsud saat ia diinterogasi,” ujar Mian Iftikhar Hussain, Menteri Informasi untuk wilayah Batas Barat Laut (NWFP).

Padahal beberapa waktu lalu, para petinggi Taliban Pakistan telah mengeluarkan statemen bahwa amir mereka masih hidup dan dalam keadaan baik.  Statemen tersebut dikeluarkan resmi oleh Taliban Pakistan sekaligus membantah propaganda yang mengatakan bahwa Beitullah Mehsud telah meninggal.

Mungkin ini adalah propaganda lain yang disebarkan para munafikin untuk melemahkan semangat jihad mujahidin Taliban Pakistan.  Karena berita ini tidak keluar langsung dari mulut Maulvi Umar, melainkan dari mulut para agen intelijen yang menginterogasinya. Wallahualam. (haninmazaya/arrahmah.com)

Atas ↑