Tulisan ditandai ‘Inggris’
Geert Wilders-Parlemen Inggris, ‘Nonton Bareng’ Film Fitna
LONDON (Arrahmah.com) – Politisi Belanda yang sangat anti-Islam, Geert Wilders, tiba di Inggris pada hari Jumat (5/3) di tengah-tengah pesta kemenangan pemilu yang akan membuatnya kembali memasuki pemerintahan dalam hitungan bulan.
Setelah dilarang untuk datang beberapa waktu lalu oleh Jacqui Smith, mantan Sekretaris Negara, kali ini sebaliknya, dia diundang untuk datang ke parlemen Inggris oleh Lord Pearson dari Rannoch, para pemimpin UKIP, untuk mempertontonkan film kontroversial Fitna. Hal ini telah memicu kemarahan meluas karena Wilders benar-benar melakukan pelecehan terhadap isi Al Quran.
Film yang yang dirilis pada tahun 2008 itu disaksikan oleh lebih dari 60 orang, termasuk empat orang anggota majelis tinggi Inggris.
Sesaat kemudian, di hadapan para wartawan, WIlders memaparkan bahwa Islam adalah ideologi totalitarian dan membuat pernyataan yang isinya menghina Rasulullaah Muhammad SAW.
Pada saat yang sama, dia mengatakan dia berharap untuk menjadi perdana menteri setelah pemilu 9 Juni mendatang, meskipun para analis politik Belanda mengatakan ini harapannya itu sulit untuk diwujudkan.
Jika terpilih, Wilders mengatakan berjanji akan menutup semua sekolah-sekolah Islam, melarang pembangunan masjid baru, dan mengusir muslim Belanda jika mereka memiliki kewarganegaraan ganda. (althaf/daily/alj/arrahmah.com).
Lagi, Tentara Salibis Inggris Tumpas Di Afghanistan

Para Tentara Salibis 'Pemberani' Inggris
KABUL (Arrahmah.com) - Sebuah bom tepi jalan kembali mengakhiri hidup salah seorang tentara salibis Inggris di selatan Afghanistan. Kematiannya ini menyebabkan Inggris harus kehilangan 211 personil militernya yang ditugaskan untuk ‘menangani’ konflik perang di Afghanistan.
Menteri pertahanan Inggris mengatakan pada Kamis (3/9) bahwa tentaranya tewas setelah kendaraan yang ia tumpangi terkena ledakan di provinsi Helmand.
Juru bicara Satuan Tugas Inggris di Helmand mengkonfirmasi insiden tersebut, dengan mengatakan bahwa militernya “ditimpa kesedihan mendalam atas kematian tentara pemberani ini.”
Pemberontakan sudah menghebat di provinsi timur dan selatan Afghanistan, di mana tentara asing kelabakan karena telah kehilangan beberapa basisnya yang telah direbut oleh mujahidin Taliban beberapa lalu.
Saat ini terdapat lebih dari 100.000 orang tentara salibis internasional di Afganistan. Angkatan perang yang dipimpin oleh AS ini telah kehilangan 77 orang tentara selama Agustus. Dan jumlah ini menjadi rekor bulan dengan tingkat kematian tertinggi dari pihaknya sejak melakukan invasi pada 2001. (althaf/prtv/xh/arrahmah.com)
Lagi, NATO Harus Hadapi Bulan Mematikan Dalam Peperangannya

Kematian Tentara NATO Yang Terus Meningkat
KABUL (Arrahmah.com) - Aksi pemboman mujahidin kembali menewaskan empat pasukan NATO, dua orang berkewarganegaraan Amerika dan dua orang dari Inggris. Insiden kematian tentara ‘penjaga keamanan dunia’ itu menutup bulan yang mematikan bagi angkatan perang AS serta sangat menampar bagi panglima NATO yang begitu percaya diri dengan strategi barunya untuk menyerang mujahidin Taliban.
Militer AS mengungkapkan dua tentaranya yang terbunuh pada Senin (31/8) dalam pemboman terpisah di selata Afghanistan, namun tidak memberikan keterangan yang terperinci mengenai insiden tersebut. Kematian dua orang tentara itu menjadikan jumlah tentara AS yang tewas di Afghanistan selama bulan Agustus mencapai 47 orang, lebih banyak ketimbang bulan lalu yang pernah diklaim sebagai bulan paling mematikan bagi mereka.
Di London, Menteri Pertahanan Inggris mengatakan bahwa dua tentaranya pun terbunuh pada hari yang sama oleh sebuah bom saat melakukan patroli di utara Lashkar Gah, kota selata Afghanistan dimana Perdana Menteri Gordon Brown memberikan kunjungan tiba-tiba minggu akhir minggu lalu dan berjani akan membantu angkatan perangnya yang sedang mati-matian bertaruh di Afghanistan.
Jumlah korban dari pihak AS terus-menerus bertambah sejak Barack Obama memerintahkan 21.000 pasukan tambahan untuk Afghanistan, mengganti fokus perang terhadap ‘terorisme’ dari Irak ke negara yang bertetangga dengan Pakistan ini.
Sejak bantuan tambahan tersebut mulai tiba musim semi yang lalu, tingkat kematian tentara Amerika sudah meningkat dari enam kasus pada April, 12 kasus pada Mei, 24 kasus pada Juni, hingga lebih dari 40 kasus pada dua bulan selanjutnya karena tentara AS memaksakan diri untuk memasuki zona kekuasaan Taliban.
“Situasi di Afganistan sangat serius, tetapi keberhasilan masih tetap bisa diwujudkan dan perlu adanya perbaikan strategi operasi dan komitmen masing-masing pihak, dan tentunya kesatuan dalam upaya kita di Afghanistan,” kata McChrystal dalam pernyataan yang dipublikasikan hari Senin (31/8).
McChrystal tidak secara langsung meminta lebih banyak tambahan tentara tetapi diperkirakan akan melakukan hal tersebut beberapa minggu yang akan datang, kata dua orang pejabat NATO yang tidak ingin diketahui identitasnya. (althaf/ap/dawn/arrahmah.com)
Brown Akan Melakukan Rekonsiliasi Dengan Taliban?

Gordon Brown dan Pasukan Inggris Di Afghanistan
KABUL (Arrahmah.com) – Perdana menteri Inggris, Gordon Brown, mengungkapkan strategi barunya dalam perang Afghanistan pada hari Sabtu (29/8), termasuk proses rekonsiliasi yang kontroversial dengan mujahidin Taliban dan mempercepat pelatihan angkatan perang Afghan agar bisa menggantikan pasukan NATO.
Di tengah-tengah surutnya dukungan publik terhadap perang Afghanistan, Brown memanfaatkan kunjungannya ke basis militer Inggris di provinsi Helmand untuk memberikan informasi pembuka mengenai strateginya itu yang diklaim akan mampu meminimalisasi jumlah korban dari pihak Inggris.
Salah satu sumber terdekat Brown mengusulkan negosiasi dengan mujahidin Taliban dan membujuk mereka agar mengubah keberpihakan menjadi salah satu komponen kunci bagi usaha perang Inggris. Ia menambahkan, “Semakin banyak rekonsiliasi, semakin baik.”
Brown pun menyarankan agar pelatihan angkatan perang Afghan dipercepat dalam satu tahun untuk mengambil alih tugas dari pasukan NATO yang kemungkinan besar akan pulang dalam waktu dekat. (althaf/guard/arrahmah.com)
Brown Berjanji Akan Memberikan Bantuan Lebih Banyak Untuk Memerangi Taliban

Brown di Basis Militer Tentara Inggris di Afghanistan
KABUL (Arrahmah.com) – Perdana Menteri Inggris, Gordon Brown melakukan kunjungan dadakan, mendatangi kamp militer tentara kafir Inggris di Afghanistan, berjanji akan memberikan bantuan lebih untuk para tentaranya untuk memerangi mujahidin Taliban yang telah menyebabkan meningkatnya jumlah korban tewas di kubu tentara Inggris beberapa bulan terakhir.
Di basis militer Inggris di Lashkar Gah, ia menjanjikan akan memberikan lebih banyak perlengkapan perang dan senjata yang dibutuhkan untuk mengatasi meningkatnya serangan bom ranjau.
“Mereka tahu alasan kita, mengapa kita ada di sini, adalah untuk membawa ‘kestabilan’ untuk Afghanistan, Taliban tak akan kembali memimpin, tidak ada tempat untuk Al-Qaeda di Afghanistan,” ujarnya optimis.
Sementara itu, seorang tentara Inggris kembali menjadi santapan bom ranjau yang telah dipersiapkan mujahidin di Ghresk, provinsi Helmand, di hari yang sama dimana Gordon Brown melakukan kunjungan. (haninmazaya/arrahmah.com)
Inggris Kucurkan 1 Miliar Dolar Untuk Pakistan

Perdana Menteri Inggris, Gordon Brown, dan Presiden Pakistan, Asif Ali Zardari, yang terlihat sangat akrab
LONDON (Arrahmah.com) - Tak mau kalah dengan sekutunya, Amerika Serikat, Inggris pun akan memberikan 665 juta pound (setara dengan $1,08 miliar) sebagai dana bantuan untuk membantu Pakistan menstabilisasi daerah perbatasan yang sarat konflik dan untuk menangkal penyebab munculnya ‘ekstrimisme’, kata perdana menteri Inggris, Gordon Brown, pada hari Jumat (28/8).
Brown mengkonfirmasi mengenai pendanaan Inggris ini pada pertemuannya dengan presiden munafik Pakistan Asif Ali Zardari, yang terus menekankan dalihnya tiap kali bertemu dengan para pejabat Barat untuk meningkatkan kemampuan Pakistan dalam memerangi mujahidin.
Inggris memiliki kurang lebih 9.000 pasukan yang tengah ditempatkan di Afghanistan. Menurut Brown, tiga per empat rencana para mujahidin disusun di Pakistan.
Dalam pertemuannya, dua orang penguasa itu mendiskusikan usaha untuk mendorong aktivitas ekonomi di Pakistan dan untuk memasarkan berbagai macam produk Pakistan ke pasar Eropa. Selain itu, mereka pun mendiskusikan mengenai pengembalian imigran gelap Pakistan yang ada di Inggri serta mengenai kelanjutan hubungan Pakistan dengan India.
Inggris dan Pakistan pada Mei berjanji untuk melakukan kerja sama yang lebih erat dalam menangkal ‘terorisme’ dan mengembangkan perekonomian.
Inggris pun menyatakan akan membantu Pakistan dalam bidang pendidikan dengan menyediakan buku-buku pelajaran bagi anak-anak sekolah di wilayah perbatasan Pakistan dan membantu 300.000 remaja perempuan dari kalangan tak mampu untuk melanjutkan pendidikannya.
Inggris dan Amerika Serikat saat ini tengah mengadopsi pendekatan baru terhadap Afghanistan dan Pakistan dengan cara memberikan ‘dukungan’ terhadap pembangunan negara-negara tersebut, tanpa mengenyampingkan fokus untuk menyingkirkan mujahidin al Qaidah dan Taliban di perbatasan kedua negara. (althaf/rtrs/arrahmah.com)
Inggris Akan Tinggal Di Afghanistan Selama Satu Generasi

Inggris Akan Tinggal Di Afghanistan Selama Satu Generasi
KABUL (Arrahmah.com) - Duta besar Inggris untuk Afghanistan, Mark Sedwill, memperkirakan bahwa keberadaan negaranya di Afghanistan setidaknya membutuhkan waktu satu generasi hingga selesai.
“Kami akan memperkirakan keberadaan Inggris di sini (Afghanistan), untuk menyelesaikan permasalahan di negeri ini setidaknya butuh waktu hingga satu generasi,” ujar Sedwill pada Rabu (26/8), dan menambahkan bahwa pihaknya akan berperan aktif dalam pelatihan dan pembinaan untuk selama bertahun-tahun.
Namun, ia memperlihatkan harapan agar militer Inggris tidak lagi berkecimpung di medan perang dalam tiga atau lima tahun.
“Saya berharap pasukan Inggris tidak lagi harus terlibat dalam pertempuran tiga atau lima tahun dari sekarang karena sudah seharusnya angkatan perang Afghan membiasakan diri agar kemudian memiliki kemampuan yang cukup besar dan cakap untuk menerima tugas tersebut,” katanya.
Komentar duta besar ini muncul seiring dengan mencuatnya opini dari mayoritas warganegara Inggris yang menentang keterlibatan negara mereka dalam perang Afghanistan. Berdasarkan atas survei terakhir, dua per tiga warga negara Inggris yang dimintai pendapat menganggap peperangan tersebut tidak akan pernah menghentikan agenda perang melawan terorisme yang dipimpin oleh AS. (Althaf/arrahmah.com)