Tulisan ditandai ‘Afghanistan’
Holbrook Ragukan Komitmen Pakistan
WASHINGTON (Arrahmah.com) - Utusan khusus AS, Richard Holbrooke, mengatakan dalam sebuah wawancara dengan Financial times bahwa ia ragu apakah Pakistan benar-benar melawan mujahidin di Afghanistan.
Komentar ini diungkapkan Holbrooke sehubungan dengan isu penangkapan komandan mujahidin Afganistan Mullah Abdul Ghani Baradar.
Dia mengatakan tidak siap untuk menilai apakah hubungan antara Amerika Serikat dan Pakistan telah memburuk setelah penangkapan Baradar.
Holbrooke menolak mengatakan apakah AS semakin memperoleh informasi intelejen yang lebih baik dari interogasi bersama (AS-Pakistan) terhadap Mullah Baradar. Tapi dia mengatakan dia tidak memiliki masalah dengan penolakan Pengadilan Tinggi Lahore atas permintaannya pekan lalu untuk mentransfer Baradar ke Afghanistan.
Mengenai operasi militer di Afghanistan, Holbrooke mengatakan Amerika dan sekutu-sekutunya menghadapi tugas “menakutkan” di Afghanistan dan menurutnya terlalu dini untuk memprediksi bagaimana situasi akan berubah. (althaf/dawn/arrahmah.com)
12 Tentara Jerman Tewas Akibat Serangan Balasan Atas Kekejian NATO Di Kunduz

Tentara Salibis Jerman Dan Tank Militernya Jadi Santapan Bom Tepi Jalan Mujahidin Afghanistan
KABUL (Arrahmah.com) – Dua belas tentara salibis Jerman tewas akibat sebuah ledakan bom tepi jalan di Afghanistan, satu hari setelah NATO, lagi-lagi, melakukan aksi brutalnya menyerang penduduk sipil dari udara dan menyebabkan 150 orang tewas.
Serangan yang menimpa konvoi tentara salibis internasional itu terjadi di wilayah yang sama di utara Afghanistan dimana sebelumnya tentara Jerman melakukan pemboman atas dua truk bahan bakar yang mereka klaim telah dibajak mujahidin Taliban.
Ada sekitar 150 penduduk sipil, kebanyakan adalah anak-anak dan remaja, yang menjadi korban insiden yang terjadi di dekat basis militer Jerman, di desa Haji Abdur Rahman, distrik Ali Abad, provinsi Kunduz, pada hari Jumat (4/9) malam.
Saksi mengatakan penduduk desa sedang berlarian mengambil bahan bakar dari truk tak berpemilik yang terletak di dekat tempat tinggal mereka. Mereka sedang sibuk mengambil bahan bakar, saat ‘pasukan penjaga keamanan dunia’ itu mengarahkan serangan besar-besarannya ke arah truk.
Serangan itu tentu saja memicu munculnya protes baru atas jatuhnya korban dari kalangan sipil di tangan tentara Barat selama delapan tahun peperangan di Afganistan. Namun hal itu tidak pernah membuat angkatan perang salibis jera. Selama mereka dibiarkan melancarkan invasinya, tidak akan pernah terwujud sedikitpun ‘ketenangan’ dan ‘keamanan’ bagi Afghanistan.
Dalam sebuah surat yang dilayangkan di salah satu website pada hari Sabtu (5/9), Imarah Islam Afghanistan mengutuk serangan tersebut dan menegaskan bahwa rezim pemerintahan boneka Afghan terlibat.
“Insiden provinsi Kunduz ini terjadi ketika menteri pertahanan boneka Afghan memfitnah Mujahidin telah membunuh ratusan orang bulan lalu. Dia juga memfitnah Mujahidin terlibat dalam beberapa ledakan dan peristiwa yang direncanakan sebelumnya, yang sebenarnya dilakukan oleh tangan-tangan para agen intelejen mereka sendiri.”
“Sebelumnya para penguasa munafik ini mengklaim peristiwa Kunduz diakibatkan oleh truk tangki yang meledak karena pertengkaran antar para penduduk yang berebut bahan bakar. Namun usaha kerasnya untuk menyembunyikan peristiwa ini gagal ketika juru bicara NATO menegaskan berita pemboman dilakukan oleh pihaknya.”
Imarah Islam Afghanistan pun menegaskan insiden Kunduz ini sebagai kejahatan yang terang-terangan dan rangkaian dari genosida yang sering dilakukan oleh pasukan internasional, serta tidak bisa sama sekali dijustifikasi sebagai sebuah bentuk kekhilafan dari mereka.
“Kami mengingatkan para pelaku peristiwa ini: pemerintahan Obama, pimpinan NATO, serta rezim Kabul pasca pemilihan bahwa anda tidak akan pernah dapat melemahkan keputusan siapapun yang sudah memutuskan untuk meneruskan perjuangan mereka demi tegaknya sistem Islam dan kemerdekaan Afghan. Berbagai macam kejahatan mereka yang muncul akhir-akhir ini (termasuk dibeberkannya perilaku layaknya hewan yang dilakukan oleh tentara bayaran penjaga kedubes AS di Kabul) hanya membuka selubung ketidakmanusiawian yang sudah mereka simpan dan sembunyikan dari mata dunia internasional hingga saat ini.” (althaf/sky/tum/arrahmah.com)
Gates Berusaha Hilangkan Keprihatinan Mengenai Perang Afghanistan

Robert Gates dan Mike Mullen
WASHINGTON (Arrahmah.com) – Di tengah-tengah keraguan warga AS mengenai misi negaranya di Afganistan, orang nomor satu di Pentagon mengatakan bahwa dia sama sekali tidak berpikir untuk memerintahkan tentaranya meninggalkan negara yang rusak karena peperangan itu.
“Kami sadar akan hal tersebut, kami mengerti bagaimana keprihatinan banyak warga Amerika di negara tersebut, tetapi kami kira kami memiliki sumber daya dan pendekatan yang benar untuk mulai membuat kemajuan,” kata Robert Gates pada konferensi pers di Pentagon hari Kamis (3/9) bersama dengan panglima tinggi militer Laksamana Michael Mullen.
“Wajar jika warga Amerika enggan membiarkan anak-anaknya ada di tengah-tengah pertempuran yang penuh dengan resiko,” lanjutnya.
“Namun sedikitpun saya tidak pernah berpikir sekarang bukan saat yang tepat untuk keluar dari Afghanistan.”
Gates menyatakan bahwa AS tidak akan dapat mengalahkan al Qaidah tanpa peranan dan keterlibatan tentara asing lainnya di Afganistan, mengindikasikan bahwa keberadaan AS kecenderungan akan diperpanjang di negara yang bertetangga dengan Pakistan tersebut.
Namun, Gates mengingatkan pihaknya memiliki waktu yang tidak banyak untuk mewujudkan keberhasilan strategi perang baru Barack Obama di Afghanistan.
Sikap ini dimunculkan oleh para petinggi AS seiring dengan hasil jajak pendapat yang dilakukan oleh Washington Post-ABC News yang menemukan bahwa 60 persen warga Amerika tidak menyepakati kebijakan perang Obama di Afghanistan.
Gates pun menekankan saat ini AS memiliki cukup sumber daya di lapangan untuk mengimplementasikan strategi baru Obama terhadap Afghanistan.
Ungkapannya pun muncul seiring dengan meningkatnya perlawanan mujahidin di provinsi timur dan selatan yang telah menyebabkan tentara salibis asing kehilangan banyak basisnya di Afghanistan.
Ada sekitar lebih dari 101.000 personil angkatan perang internasional di Afghanistan. Dan selama bulan Agustus lalu, mereka harus kehilangan 77 pasukannya. Jumlah tersebut adalah jumlah kematian terbanyak selama satu bulan sejak AS memulai invasinya tahun 2001.
Kiprah negara adidaya yang berdalih “perang melawan terorisme” serta mewujudkan stabilitas keamanan ini ternyata tidak terbukti sedikit pun. Bahkan yang terjadi justru sebaliknya. Rakyat Afghan malah merasakan keberadaan para tentara salibis itu semakin memunculkan banyak teror dan menyebabkan mereka selalu terancam. (althaf/prtv/arrahmah.com)
Mullen Indikasikan AS Tinggal Lebih Lama Di Afghanistan
Laksmana Michael Mullen
WASHINGTON (Arrahmah.com) - Laksamana Michael Mullen mengatakan bahwa AS tidak akan dapat mengalahkan al Qaidah tanpa dukungan angkatan bersenjata internasional lainnya di Afghanistan. Pernyataannya ini mengindikasikan bahwa sangat besar kemungkinan AS memperlama ‘kiprahnya’ di negara konflik tersebut.
Berbicara dalam sebuah perjumpaan pers pada hari Kamis (3/9) kemarin bersama dengan pimpinan Departemen Pertahanan AS, Robert Gates, Mullen menyatakan, “Waktu tidak sedang memihak kami.”
Mullen mengatakan Pentagon menyadari bahwa harus ada kecenderungan bahwa agenda perang di Afganistan adalah sesuatu yang sangat urgen, namun ia menambahkan bahwa tidak ada prospek bahwa tentara AS bisa menarik diri dari negara tersebut.
Pimpinan Kepala Staf Bersama ini pun menyatakan bahwa saat ini penting bagi tentara AS untuk tetap tinggal di medan perang.
“Saya tentu tidak berpikir saat ini tepat untuk AS pergi (dari Afghanistan).”
Komentar Mullen ini muncul di tengah-tengah dugaan bahwa Jenderal Stanley McChrystal, panglima angkatan perang AS dan NATO di Afganistan, akan meminta lebih banyak tentara tambahan serta dana untuk menangani konflik yang kemungkinan akan datang selanjutnya. (althaf/prtv/arrahmah.com)
Lagi, Tentara Salibis Inggris Tumpas Di Afghanistan

Para Tentara Salibis 'Pemberani' Inggris
KABUL (Arrahmah.com) - Sebuah bom tepi jalan kembali mengakhiri hidup salah seorang tentara salibis Inggris di selatan Afghanistan. Kematiannya ini menyebabkan Inggris harus kehilangan 211 personil militernya yang ditugaskan untuk ‘menangani’ konflik perang di Afghanistan.
Menteri pertahanan Inggris mengatakan pada Kamis (3/9) bahwa tentaranya tewas setelah kendaraan yang ia tumpangi terkena ledakan di provinsi Helmand.
Juru bicara Satuan Tugas Inggris di Helmand mengkonfirmasi insiden tersebut, dengan mengatakan bahwa militernya “ditimpa kesedihan mendalam atas kematian tentara pemberani ini.”
Pemberontakan sudah menghebat di provinsi timur dan selatan Afghanistan, di mana tentara asing kelabakan karena telah kehilangan beberapa basisnya yang telah direbut oleh mujahidin Taliban beberapa lalu.
Saat ini terdapat lebih dari 100.000 orang tentara salibis internasional di Afganistan. Angkatan perang yang dipimpin oleh AS ini telah kehilangan 77 orang tentara selama Agustus. Dan jumlah ini menjadi rekor bulan dengan tingkat kematian tertinggi dari pihaknya sejak melakukan invasi pada 2001. (althaf/prtv/xh/arrahmah.com)
Swedia: NATO Tidak Memiliki Strategi Jalan Keluar Di Afghanistan

Pasukan NATO Di Afghanistan
STOCKHOLM (Arrahmah.com) – Menteri Luar Negeri Swedia, Carl Bildt, mengisyaratkan bahwa AS dan sekutu Eropanya, dengan ribuan tentara di Afganistan, tidak mempunyai “strategi jalan keluar.”
“Tidak ada batas waktu, jelaslah bahwa tidak ada satupun yang memiliki strategi jalan keluar,” kata Bildt sebelum meninggalkan Kabul setelah kunjungan dua harinya ke Afganistan.
“Orang-orang Afghan itu mempunyai keyakinan bahwa kami akan tinggal lebih lama bersama dengan mereka,” tambah Bildt.
Tetapi, seorang diplomat tertinggi mengungkapkan keprihatinan tentang situasi yang terus memburuk di Afghanistan, sembari menambahkan bahwa kelihatannya tidak ada pemecahan militer yang cukup jitu atas konflik yang berlangsung selama satu dekade tersebut.
“Ini bukan konfli yang bisa dimenangkan oleh militer sendiri,” kata pejabat Swedia, yang juga menjadi negara pemimpin Uni Eropa.
Akhir-akhir ini ada sekitar 101.000 tentara internasional di Afghanistan. Dari AS, ada lebih dari 77.000 pasukan hingga bulan Agustus kemarin.
Laporan sebelumnya yang diluncurkan sebelum bulan Juli, dimana 76 pasukan ISAF tewas dalam pertempuran, memperlihatkan semakin buruknya situasi di negara tersebut.
Tekanan pun semakin membebani AS dan sekutunya untuk segera memulangkan para tentaranya sebelum korban dari pihak mereka semakin bertambah, karena itu artinya, kerugian yang harus mereka tanggung pun semakin besar. (althaf/prtv/arrahmah.com)
Lagi, NATO Harus Hadapi Bulan Mematikan Dalam Peperangannya

Kematian Tentara NATO Yang Terus Meningkat
KABUL (Arrahmah.com) - Aksi pemboman mujahidin kembali menewaskan empat pasukan NATO, dua orang berkewarganegaraan Amerika dan dua orang dari Inggris. Insiden kematian tentara ‘penjaga keamanan dunia’ itu menutup bulan yang mematikan bagi angkatan perang AS serta sangat menampar bagi panglima NATO yang begitu percaya diri dengan strategi barunya untuk menyerang mujahidin Taliban.
Militer AS mengungkapkan dua tentaranya yang terbunuh pada Senin (31/8) dalam pemboman terpisah di selata Afghanistan, namun tidak memberikan keterangan yang terperinci mengenai insiden tersebut. Kematian dua orang tentara itu menjadikan jumlah tentara AS yang tewas di Afghanistan selama bulan Agustus mencapai 47 orang, lebih banyak ketimbang bulan lalu yang pernah diklaim sebagai bulan paling mematikan bagi mereka.
Di London, Menteri Pertahanan Inggris mengatakan bahwa dua tentaranya pun terbunuh pada hari yang sama oleh sebuah bom saat melakukan patroli di utara Lashkar Gah, kota selata Afghanistan dimana Perdana Menteri Gordon Brown memberikan kunjungan tiba-tiba minggu akhir minggu lalu dan berjani akan membantu angkatan perangnya yang sedang mati-matian bertaruh di Afghanistan.
Jumlah korban dari pihak AS terus-menerus bertambah sejak Barack Obama memerintahkan 21.000 pasukan tambahan untuk Afghanistan, mengganti fokus perang terhadap ‘terorisme’ dari Irak ke negara yang bertetangga dengan Pakistan ini.
Sejak bantuan tambahan tersebut mulai tiba musim semi yang lalu, tingkat kematian tentara Amerika sudah meningkat dari enam kasus pada April, 12 kasus pada Mei, 24 kasus pada Juni, hingga lebih dari 40 kasus pada dua bulan selanjutnya karena tentara AS memaksakan diri untuk memasuki zona kekuasaan Taliban.
“Situasi di Afganistan sangat serius, tetapi keberhasilan masih tetap bisa diwujudkan dan perlu adanya perbaikan strategi operasi dan komitmen masing-masing pihak, dan tentunya kesatuan dalam upaya kita di Afghanistan,” kata McChrystal dalam pernyataan yang dipublikasikan hari Senin (31/8).
McChrystal tidak secara langsung meminta lebih banyak tambahan tentara tetapi diperkirakan akan melakukan hal tersebut beberapa minggu yang akan datang, kata dua orang pejabat NATO yang tidak ingin diketahui identitasnya. (althaf/ap/dawn/arrahmah.com)
Ringkasan Operasi Militer Mujahidin Afghanistan 31 Agustus 2009

Peta Afghanistan
AFGHANISTAN (Arrahmah.com) – Senin sekitar pukul 8.00 waktu setempat, mujahidin Imarah Islam Afghanistan melalui remot kontrol meledakan sebuah bom ranjau dan berhasil menghancurkan satu tank milik tentara penjajah NATO di daerah lucknow, provinsi Khost. Dalam ledakan, tank tersebut hancur sempurna dan enam tentara penjajah di dalamnya tewas ditempat.
Senin siang, mujahidin Imarah Islam Afghanistan meledakan sebuah pos pemeriksaan tentara boneka Afghan. Ledakan berhasil membuat kehancuran di pos tersebut namun tidak diketahui jumlah korban terluka atau tewas dalam serangan ini.
Senin siang, sedikitnya 12 tentara penjajah NATO tewas dalam serangan bom ranjau di Arghandab. Menurut laporan, ledakan yang menargetkan para tentara penjajah ini terjadi saat mereka tengah melakukan patroli rutin berjalan kaki.
Masih di hari yang sama, mujahidin Imarah Islam Afghanistan yang berbasis di provinsi Uruzgan berhasil menghancurkan sebuah tank milik tentara penjajah NATO melalui ledakan bom ranjau di daerah Khurma Saydan Manda ketika para tentara penjajah tersebut melakukan konvoy. Empat tentara penjajah tewas seketika dan tiga lainnya mengalami luka-luka.
Dalam operasi lainnya, mujahidin Imarah Islam Afghanistan di provinsi Ghazni melaporkan bahwa mereka berhasil menghancurkan sebuah kendaraan militer milik polisi boneka Afghan dalam sebuah serangan. Lima polisi boneka Afghan ikut tewas dalam serangan tersebut. Kubu mujahidin tidak mengalami kecelakaan.
Mujahidin Imarah Islam Afghanistan di provinsi Wardak menyerang konvoy kendaraan pengangkut logistik untuk tentara asing di Afghanistan di daerah Mali Khel, distrik Sayed Abad. Serangan terjadi di jalan raya Kabul-Kandahar, dengan enam kendaraan pengangkut suplai dan logistik yang menjadi targetnya. Dalam serangan kali ini, kubu mujahidin tak mengalami kecelakaan. (haninmazaya/TUM/arrahmah.com)
Brown Akan Melakukan Rekonsiliasi Dengan Taliban?

Gordon Brown dan Pasukan Inggris Di Afghanistan
KABUL (Arrahmah.com) – Perdana menteri Inggris, Gordon Brown, mengungkapkan strategi barunya dalam perang Afghanistan pada hari Sabtu (29/8), termasuk proses rekonsiliasi yang kontroversial dengan mujahidin Taliban dan mempercepat pelatihan angkatan perang Afghan agar bisa menggantikan pasukan NATO.
Di tengah-tengah surutnya dukungan publik terhadap perang Afghanistan, Brown memanfaatkan kunjungannya ke basis militer Inggris di provinsi Helmand untuk memberikan informasi pembuka mengenai strateginya itu yang diklaim akan mampu meminimalisasi jumlah korban dari pihak Inggris.
Salah satu sumber terdekat Brown mengusulkan negosiasi dengan mujahidin Taliban dan membujuk mereka agar mengubah keberpihakan menjadi salah satu komponen kunci bagi usaha perang Inggris. Ia menambahkan, “Semakin banyak rekonsiliasi, semakin baik.”
Brown pun menyarankan agar pelatihan angkatan perang Afghan dipercepat dalam satu tahun untuk mengambil alih tugas dari pasukan NATO yang kemungkinan besar akan pulang dalam waktu dekat. (althaf/guard/arrahmah.com)
Ringkasan Operasi Militer Mujahidin Afghanistan 30 Agustus 2009

Mujahidin Imarah Islam Afghanistan berhasil merampas tank musuh
AFGHANISTAN (Arrahmah.com) – Minggu pagi, sedikitnya sebelas tentara penjajah NATO dan dua tentara boneka Afghan yang tengah melakukan patroli rutin berjalan kaki di distrik Arghandab, provinsi Zabul, tewas akibat sebuah ledakan bom. Seorang mujahid pemberani melancarkan operasi syahid di hadapan mereka. Seperti biasa, setelah mujahidin melakukan serangan dan berhasil membunuh banyak tentara musuh, tentara musuh melepaskan tembakan ke berbagai arah sebagai pembalasan dendam dan mengenai sipil Afghan. Media-media internasional dan lokal akan melaporkan bahwa serangan bom “bunuh diri” yang dilakukan oleh Taliban telah memakan korban sipil.
Dalam operasi militer lainnya, mujahidin Imarah Islam Afghanistan menyerang konvoy militer gabungan tentara penjajah AS dan tentara boneka Afghan di dekat basis distrik Asmar. Serangan kali ini berhasil menghancurkan tujuh tank musuh. Mujahidin menggunakan senjata berat dalam serangannya yang meletuskan pertempuran langsung selama kurang lebih satu jam. 15 tentara penjajah dan boneka tewas dalam pertempuran dan sejumlah besar mereka mengalami luka-luka. Tentara musuh kemudian membombardir area pertempuran, namun mujahidin tidak mengalami kecelakaan.
Minggu siang di distrik Shiwak, provinsi Paktia, mujahidin Imarah Islam Afghanistan menyerang konvoy militer tentara penjajah AS, empat tank mereka hancur dalam serangan yang dilancarkan mujahidin. Mujahidin menghancurkan tank musuh menggunakan mortar 83mm yang juga berhasil membunuh sedikitnya 15 tentara penjajah AS yang berada di dalam tank-tank tersebut.
Mujahidin Imarah Islam Afghanistan yang berbasis di Kabul, menyerang bandara Bargram yang dijadikan basisi militer oleh tentara penjajah NATO. Dua misil menghantam sebuah terminal di bandara tersebut, menyebabkan kerusakan parah. Namun kubu mujahidin tidak dapat melaporkan jumlah korban tewas atau terluka yang diakibatkan dari serangan ini. (haninmazaya/TUM/arrahmah.com)