Arrahmah.Com

Berita Dunia Islam dan Berita Jihad Terdepan

Archive for the ‘Ramadhan’ Category

Program Sederhana Ramadhan Ala Syekh Abdullah Azzam

Syekhul Mujahid, Abdullah Azzam

Syekhul Mujahid, Abdullah Azzam

Syekhul Mujahid, Syekh Abdullah Azzam dalam bukunya At Tarbiyah Al Jihadiyah wal Bina, memberikan nasehat dan beberapa tips untuk mengisi bulan Ramadhan agar lebih bermakna. Berikut penuturan Beliau.

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (Yaitu) beberapa hari tertentu. Maka barangsiapa di antara kamu sakit  atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa),maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin. Tetapi barang siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan , maka itu lebih baik baginya, dan puasamu itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” ( QS.Al Baqarah : 183-184)

Baca entri selengkapnya »

Written by arrahmahcom

25/08/2009 at 10:38 am

Ditulis dalam Berita, Muhasabah, Ramadhan

Info Kegiatan JAMASBA Ramadhani 1430 H‏ (Bantul)

Info Kegiatan JAMASBA Ramadhani 1430 H‏ (Bantul)

Panitia Ramadhan JAMASBA Bantul insya Allah akan menyelenggarakan beberapa kegiatan, di antaranya bedah buku tiap hari Ahad pagi selama Ramadhan jam 08.00 – 11.00 WIB bertempat di Masjid JAMASBA Bantul. Lihat peta di sini.

Adapun untuk hari Ahad tanggal 23 Agustus 2009 insya Allah akan membedah

Written by arrahmahcom

24/08/2009 at 11:02 pm

NU: “SMS Premium Call” Ramadhan adalah Judi

NU: “SMS Premium Call” Ramadhan adalah Judi

SURABAYA (Arrahmah.com) – Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur menilai kuis berhadiah melaui SMS atau “SMS Premium Call” di televisi selama Ramadhan adalah judi.

“Itu karena harga normal SMS hanya Rp150, tapi dijual Rp2.000, lalu kelebihannya dijadikan hadiah,” kata Rais Syuriah PWNU Jatim, KH Miftachul Akhyar kepada ANTARA News di Surabaya, Senin (24/8).

Menurut pengasuh Pesantren Miftachussunnah, Kedungtarukan, Surabaya itu, hadiah yang menggiurkan seperti mobil atau haji membuat banyak orang yang tertarik dengan keberuntungan itu.

“Cara seperti itu merupakan judi, karena ada unsur untung-untungan dan ada unsur tipuan, karena pengelola SMS itu pasti untung lebih besar lagi hingga miliaran rupiah,” katanya.

Bahkan, katanya, bila fasilitas “premium call” itu digunakan menjawab kuis, maka ada uang yang masuk ke penyelenggara kuis, karena untuk menjawab kuis dibutuhkan waktu tiga menit.

Ia menilai televisi selama Ramadhan merupakan media massa yang patut disikapi secara hati-hati, karena bila tidak mampu menahan diri, akan membuat orang yang berpuasa tidak berzikir.

“Kalau kita seharian tidak tidur dan hanya nonton televisi, maka kita mungkin akan tergolong orang yang berpuasa, tapi tidak mendapatkan apa-apa, kecuali lapar dan haus,” katanya.

Ditanya cara mengantisipasi keinginan menonton televisi, ia mengatakan televisi tidak harus dimatikan, asalkan umat Islam yang berpuasa dapat mengendalikan diri.

“Kita harus tahu batas dengan menonton televisi yang berkaitan dengan tayangan yang menambah ilmu agama kita, sedangkan sisanya tetap digunakan untuk bekerja dan beribadah, termasuk membaca Al Quran,” katanya.

Ia mengatakan cara menonton televisi dengan tahu batas itu merupakan hal yang penting, mengingat Ramadhan merupakan bulan “obral” pahala dari Allah SWT.

“Kalau kita menonton televisi terus, kita akan rugi besar, karena pahala benar-benar diobral Allah SWT selama ramadhan, misalnya ibadah wajib dihitung hingga 70 kali lipat, sedangkan ibadah sunah dihitung sebagai ibadah wajib,” katanya.

Namun, katanya, orang yang berpuasa dengan mengendalikan diri dalam keseharian merupakan kelompok minoritas, karena mayoritas orang yang berpuasa justru hanya mendapatkan lapar dan haus. (antara/arrahmah.com)

Written by arrahmahcom

24/08/2009 at 2:20 pm

Ditulis dalam Berita, Lokal, Ramadhan

Indahnya Ramadhan di Baitullah Mekkah Al Mukarramah

Mekkah (arrahmah.com) – Malam pertama Ramadhan, Mekkah diguyur hujan. Ruthab muda menggugah selera. Ramadhan antara Mekkah dan Madinah, begitu indah dan khusu’. Berbekal kamera HP koresponden Arrahmah.com di Saudi Arabia mempersembahkan gambar-gambar eksklusif suasana Ramadhan di Mekkah dan Madinah. Selamat Menikmati…!


Susana Mendung, Hujan diawal Ramdhan


kaum Muslimin dari berbagai negara sedang menikmati Hidangan Berbuka Puasa


Diluar pintu masjidil Haram, Menunggu Sholat


suasana setelah selesai solat Maghrib, Para petugas kebersihan membersihkan sekitar ka’bah.


suasana setelah selesai solat Maghrib, Para petugas kebersihan membersihkan sekitar ka’bah.


Santai sambil mebaca kitabullah…


Ruthob Muda, dingin nan enak..enak banget tau..smile


Masjidil Haram yg Indah


Suasana senja sebelum Berbuka Puasa..

Makanan berbuka di Mekkah, Ruthab dan Air Zam -  Zam

Semoga Allah memberikan kita Rezeki Untuk Umrah dan Haji Ke Baitullah satu Saat Nanti, Insya Allah…Jangan Lupa Berdoa Buat para Mujahidin dan Kaum Muslimin Di Seluruh dunia. (Prince of Jihad)

Written by arrahmahcom

24/08/2009 at 2:03 pm

Mujahidin Hizbul Islam Tolak Gencatan Senjata Selama Ramadhan

Mujahidin Hizbul Islam Tolak Gencatan Senjata Selama Ramadhan

MOGADISHU (Arrahmah.com) - Mujahidin Somalia dari kelompok Hizbul Islam pada Minggu (23/8) menyatakan menolak seruan pemerintah murtad Somalia untuk melakukan gencatan senjata selama bulan suci Ramadhan.

“Kami tidak akan menerima seruan gencatan senjata,” ujar pemimpin Hizbul Islam, Syekh Hassan Dahir Aweys seperti yang dilansir Reuters.

“Ini adalah bulan suci yang akan membawa kejayaan untuk mujahidin dan kami akan terus memerangi musuh.”

Pernyataan pemimpin Hizbul Islam ini merespon permintaan Presiden munafik Somalia, Sharif Ahmed pada Sabtu (22/8) yang menginginkan gencatan senjata selama bulan Ramadhan.

“Presiden membuat pernyataan ini agar penduduk Somalia dapat menjalankan ibadah dengan tenang, dan kami berharap pihak oposisi dapat menerima ajakan ini,” klaim jurubicara kepresidenan, Abdulkadir Osman.

“Kami akan mengintensifkan perang suci melawan pemerintahan boneka dan sekutu asing mereka walaupun selama bulan suci Ramadhan,” uajr Aweys.

“Mereka menyebar lebih banyak lagi tentara asing di Somalia dan menjadikan Somalia semakin memburuk, tapi kami tidak akan pernah menghentikan peperangan melawan mereka sampai mereka meninggalkan daratan kami,” lanjutnya.

Alasan pemerintah meminta gencatan senjata untuk membiarkan penduduk menjalankan ibadah dengan tenang hanyalah tameng semata, karena mujahidin tidak pernah menyerang sipil Somalia dan menjadikan mereka target apalagi jika mereka keluar rumah menuju masjid untuk menjalankan ibadah.

“Kami akan meningkatkan serangan melawan tentara asing,” ujar Bare Adan Khoje, salah satu komandan Al-shabaab.

“Seruan para munafikin bukan untuk menghormati datangnya bulan suci Ramadhan, tetapi dibuat untuk memerangi saudara kami, para mujahid asing dan untuk bersiap-siap mempersenjatai diri serta melakukan serangan terhadap kami,” lanjutnya. (haninmazaya/arrahmah.com)

Written by arrahmahcom

24/08/2009 at 8:25 am

“Ramadhan Sangat Berat Tanpa Mereka”

leave a comment »

“Ramadhan Sangat Berat Tanpa Mereka”Almaza Samuni selalu menunggu-nunggu datangya bulan suci Ramadhan, waktu favoritnya di setiap tahunnya.  Namun tahun ini Ramadhan sangat berbeda.

“Aku sedih karena ibuku tidak lagi disampingku untuk membuat makanan santap sahur dan berbuka,” ujar anak piatu tersebut.

Samuni, 13, biasanya membantu ibunya memasak untuk persiapan berbuka untuk dirinya dan enam saudaranya, kini mereka semua telah tiada, mereka gugur dalam serangan brutal tentara zionis Israel pada Desember silam.

Samuni kini hidup di kamp-kamp pengungsian di Jalur Gaza. Setiap harinya selama Ramadhan ini, yang dimulai pada hari Sabtu di Gaza, ia menghabiskan masa hanya bersama ayahnya, yang masih terbaring sakit akibat luka-luka yang dialaminya sejak Israel menyerang.

“Ramadhan sangat berat tanpa mereka,” ujar Samuni dengan nada rendah.

Ayahnya, Ibrahim, berkata sambil berbaring di tempat tidurnya di kamp pengungsian, Ramadhan membuka luka hatinya dan mengingatkannya akan peristiwa yang telah merenggut nyawa istri dan enam orang anaknya.

“Istriku, anakku, saudara kandungku dan pamanku seluruhnya telah tiada,” ujarnya sambil terisak.

Lebih dari 1.400 Muslim sipil Gaza termasuk ratusan anak-anak mejadi korban kebiadaban tentara zionis Israel dan lebih dari 5.450 mengalami luka-luka dalam serangan kurang lebih tiga pekan tersebut, yang dilakukan dari arah darat, laut dan udara.

Tidak jauh dari tenda Samuni, terdapat tenda dimana Dalal Abu Aisha hidup, ia juga mengalami hal yang serupa.

Gadis berumur 14 tahun ini satu-satunya yang selamat ketika tank Israel menghantam rumahnya.

Ia sendirian melewati waktu sahur dan berbuka yang biasanya dilakukan di sebuah meja bundar yang dikelilingi oleh ibu dan tiga saudaranya.

Sejak penyerangan yang dilakukan zionis Israel, Dalal menjadi pemurung, ia tidak mengeluarkan kata-kata apapun dari mulutnya.

“Dia selalu terlihat menggagu,” ujar Umm Adel, bibi Dalal yang kini memeliharanya.

“Kehidupan Dalal sangat berat,sama seperti anak-anak lainnya yang kehilangan saudara dan orang tua mereka.” (haninmazaya/IOL/arrahmah.com)

Written by arrahmahcom

24/08/2009 at 8:21 am

Dokka Umarov : Ramadhan Adalah Waktu Terbaik Untuk Jihad!

Dokka Umarov : Ramadhan Adalah Waktu Terbaik Untuk Jihad!(Arrahmah.com) – Dengan nama Allah, yang Maha Pengasih dan Penyayang.  Segala puji hanya milik Allah, yang menciptakan ummat Muslim sedunia dan memberkahi kita dengan jihad, memberikan kita kesempatan untuk meraih Jannah.

Semoga keberkahan selalu tercurah untuk para pemimpin jihad di seluruh dunia, Nabi Muhammad SAW, keluarganya, para sahabatnya dan seluruh manusia yang mengikuti jejaknya hingga Hari Akhir.

Ramadhan kembali hadir, bulan yang penuh pengampunan, rahmat dari Allah SWT.  Dan bagian terbaik untuk mengisi bulan ini bagi ummat Islam yang beriman adalah berperang (jihad) di jalan Allah.

Hari ini, tidak ada lagi tempat di tiap sudut bumi dimana darah seorang Muslim tidak terjatuh.  Musuh semakin brutal, licik dan jahat.  Muslim semakin terhina, agama Allah semakin berada di belakang, hukum-hukumnya tak lagi digunakan.  Kebohongan, kedustaan semakin memiliki kekuatan.

Kita menyaksikan kebenaran dari perkataan Rasulullah SAW, yang memperingatkan kita bahwa akan ada waktu dimana musuh akan menyerang Muslim, seperti kumpulan orang yang lapar dan bertemu dengan sepiring makanan, mereka berteriak meminta pertolongan, namun alasan yang dilontarkan para Muslim yang lemah, mereka melupakan jumlah mereka yang sangat besar, lebih mencintai hidup dan takut akan mati.

Obat dari penyakit lemah dan penghinaan terhadap Islam adalah dengan Jihad, jalan yang lurus untuk mengembalikan agama Allah, Tuhan semesta alam, menghancurkan tirani dan mengembalikan keadilan.

Kami yakin, kemenangan dan kekalahan hanya dari Allah.  Kewajiban kita adalah melaksanakan perintahNYA, mengharap hanya padaNYA dan meminta pertolonganNYA.

Saya ucapkan selamat kepada seluruh Muslim di dunia dengan hadirnya Ramadhan, bulan yang penuh dengan berkah dan ampunan dari Allah.  Pedang dan peperangan sebagai penyembuh untuk hati mereka yang beriman.

Sendiri, dalam kelompok, jamaah, unit, dan pasukan, jangan pernah lelah dan teruslah memerangi musuh sampai Allah memerintahkan untuk memberikan kemenangan!

Ramadhan adalah waktu terbaik untuk berjihad!

Allahu Akbar!

Amir Imarah Islam Kaukakus
Dokka Umarov (Dokka Abu Usman)

(haninmazaya/arrahmah.com)

Written by arrahmahcom

23/08/2009 at 10:49 am

Keistimewaan Bulan Ramadhan

Keistimewaan Bulan RamadhanAlhamdulillah.

Ramadhan termasuk bulan arab yang dua belas. Ia adalah bulan nan agung dalam agama Islam. Dia berbeda dengan bulan-bulan lainnya karena sejumlah keistimewaan dan keutamaan yang  ada padanya. Di antaranya yaitu:

1.      Allah Azza wa Jalla menjadikan puasa (di Bulan Ramadhan) merupakan rukun keempat di antara Rukun Islam. Sebagaimana firman-Nya:

( شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدىً لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْه) سورة البقرة: 185

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu”.(SQ. Al-Baqarah: 185)

Terdapat riwayat shahih dalam dua kitab shahih; Bukhari, no. 8, dan Muslim, no. 16 dari hadits Ibnu Umar, sesungguhnya Nabi sallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:

بني الإسلام على خمس شهادة أن لا إله إلا الله , وأن محمدا عبد الله ورسوله , وإقام الصلاة , وإيتاء الزكاة ، وصوم رمضان , وحج البيت.

“Islam dibangun atas lima (rukun); Bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah melainkan Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadan dan haji ke Baitullah.”

2.      Allah menurunkan Al-Qur’an (di dalam Bulan Ramadan).

Sebagaimana firman Allah Ta’ala pada ayat sebelumnya,

( شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدىً لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ )

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)”. (QS. Al-Baqarah: 185)

Allah Ta’ala juga berfirman:

( إنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ ) سورة القدر: 1

“Sesungguhnya Kami turunkan (Al-Qur’an) pada malam Lailatur Qadar.”

3.      Allah menetapkan Lailatul Qadar pada bulan tersebut, yaitu malam yang lebih baik dari seribu bulan, sebagaimana firman Allah:

( إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ . وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ . لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ . تَنَزَّلُ الْمَلائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ . سَلامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ ) سورة القدر: 1-5

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam kemuliaan, Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?  Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al-Qadar : 1-5).

Dan firman-Nya yang lain:

( إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ ) سورة الدخان: 3

“sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi[1369] dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.” (QS. Ad-Dukhan: 3).

Allah telah mengistimewakan bulan Ramadhan dengan adanya Lailaul Qadar. Untuk menjelaskan  keutamaan malam yang barokah ini, Allah turunkan surat Al-Qadar, dan juga banyak hadits yang menjelaskannya, di antaranya Hadits Abu Hurairah radhialahu ’anhu, dia berkata: Rasulullah sallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:

أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ فَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ , تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ , وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ , وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ , لِلَّهِ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ, مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ ” رواه النسائي ( 2106 ) وأحمد (8769) صححه الألباني في صحيح الترغيب ( 999 ) .

“Bulan Ramadhan telah tiba menemui kalian, bulan (penuh) barokah, Allah wajibkan kepada kalian berpuasa. Pada bulan itu pintu-pintu langit dibuka, pintu-pintu (neraka) jahim ditutup, setan-setan durhaka dibelenggu. Padanya Allah memiliki malam yang lebih baik dari seribu bulan, siapa yang terhalang mendapatkan kebaikannya, maka sungguh dia terhalang (mendapatkan kebaikan yang banyak).” (HR. Nasa’I, no. 2106, Ahmad, no. 8769. Dishahihkan oleh Al-Albany dalam Shahih At-Targhib, no. 999)

Dari hadits Abu Hurairah radhiallahu ’anhu, dia berkata, Rasulullah sallallahu ’alaihi wa sallam  bersabda:

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ . (رواه البخاري، رقم 1910، ومسلم، رقم  760 )

“Barangsiapa yang berdiri (menunaikan shalat) pada malam Lailatul Qadar dengan (penuh) keimanan dan pengharapan (pahala), maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari, no. 1910, Muslim, no. 760).

4.      Allah menjadikan puasa dan shalat  yang dilakukan dengan keimanan dan mengharapkan (pahala) sebagai sebab diampuninya dosa. Sebagaimana telah terdapta riwayat shahih dalam dua kitab shahih; Shahih Bukhori, no. 2014, dan shahih Muslim, no. 760, dari hadits Abu Hurairah radhiallahu ’anhu, sesungguhnya Nabi sallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:

من صام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه

“Barangsiapa yang berpuasa (di Bulan) Ramadhan (dalam kondisi) keimanan dan mengharapkan (pahala), maka dia akan diampuni dosa-dosa yang telah lalu”.

Juga dalam riwayat Bukhari, no. 2008, dan Muslim, no. 174, Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ومن قام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه

”Barangsiapa yang berdiri (menunaikan shalat) di bulan Ramadan dengan iman dan mengharap (pahala), maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni”.

Umat islam telah sepakat (ijma) akan sunnahnya menunaikan qiyam waktu malam-malam Ramadhan. Imam Nawawi telah menyebutkan bahwa maksud dari qiyam di bulan Ramadhan adalah shalat Taraweh, Artinya dia mendapat nilai qiyam dengan menunaikan shalat Taraweh.

5.       Allah (di bulan Ramadhan) membuka  pintu-pintu surga, menutup pintu-pintu neraka dan membelenggu setan-setan. Sebagaimana dalam dua kitab shahih, Bukhari, no. 1898, Muslim, no. 1079, dari hadits Abu Hurairah radhiallahu ’anhu, dia berkata: Rasulullah sallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:

إذا جاء رمضان فتحت أبواب الجنة , وغلقت أبواب النار , وصُفِّدت الشياطين

“Ketika datang (bulan) Ramadan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu”.

6.      Pada setiap malam (bulan Ramadan) ada yang Allah bebaskan dari (siksa) neraka. Diriwayatkan Ahmad (5/256) dari hadits Abu Umamah, sesungguhnya Nabi sallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:

لله عند كل فطر عتقاء. (قال المنذري: إسناده لا بأس به، وصححه الألباني في صحيح الترغيب، رقم 987)

“Pada setiap (waktu) berbuka, Allah ada orang-orang yang dibebaskan (dari siksa neraka)” (Al-Munziri berkata: ”Sanadnya tidak mengapa”, dishahihkan oleh Al-Albany dalam shahih At-Targhib, no. 987)

Diriwayatkan dari Bazzar (Kasyf, no. 962), dari hadits Abu Said, dia berkata: Rasulullah sallallahu’alaihi wasallan bersabda:

إن لله تبارك وتعالى عتقاء في كل يوم وليلة _ يعني في رمضان _ , وإن لكل مسلم في كل يوم وليلة دعوة مستجابة “

“Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta’ala memberikan kebebasan dari siksa neraka pada setiap malam –yakni di bulan Ramadan- dan sesungguhnya setiap muslim pada waktu siang dan malam memiliki doa yang terkabul (mustajabah)”.

7.       Puasa pada bulan Ramadan (merupakan) sebab terhapusnya dosa-dosa yang lampau sebelum Ramadan jika menjauhi dosa-dosa besar. Sebagaimana terdapat riwayat dalam shahih Muslim, no. 233, sesungguhnya Nabi sallallahu’alaihi wasallam bersabda:

الصلوات الخمس , والجمعة إلى الجمعة , ورمضان إلى رمضان , مكفرات ما بينهن إذا اجتنبت الكبائر

“Dari shalat (ke shalat) yang lima waktu, dari Jum’at ke Jum’at, dari Ramadan ke Ramadhan, semua itu dapat menghapuskan (dosa-dosa) di antara waktu tersebut, jika menjauhi dosa-dosa besar.”

8.       Puasa (di bulan Ramadan) senilai puasa sepuluh bulan. Yang menunjukkan hal itu, adalah riwayat dalam shahih Muslim, no. 1164, dari hadits Abu Ayub Al-Anshary, dia berkata:

من صام رمضان , ثم أتبعه ستا من شوال كان كصيام الدهر

“Barangsiapa yang berpuasa (pada bulan Ramadhan) kemudian diikuti (puasa) enam (hari) pada bulan Syawwal, maka hal itu seperti puasa setahun”.

Juga diriwayatkan oleh Ahmad, no. 21906, sesunggunya Nabi sallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:

من صام رمضان فشهر بعشرة أشهر ، وصيام ستة أيام بعد الفطر فذلك تمام السنة

“Siapa yang berpuasa (pada bulan) Ramadan, maka satu bulan sama seperti sepuluh bulan. Dan (siapa yang berpuasa setelah itu) berpuasa selama enam hari sesudah Id (Syawal), hal itu (sama nilainya dengan puasa) sempurna satu tahun”.

9.      Orang yang menunaikan qiyamul lail (Taraweh) bersama imam hingga selesai, dicatat baginya seperti qiyamul lail semalam (penuh). Sebagaimana terdapat riwayat dari Abu Daud, no. 1370 dan lainnya dari hadits Abu Dzar radhiallahu ’anhu, dia berkata: Rasulullah sallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Bahwasiapa menunaikan qiyamul lail bersama imam hingga selesai, dicatat baginya (pahala) qiyamul lail semalam (penuh)”. (Dishahihkan oleh Al-Albany dalam kitab ‘Shalat Taraweh’,  hal. 15)

10.  Melaksanakan umrah pada bulan Ramadan, (pahalanya) seperti haji. Diriwayatkan oleh Bukhari, no. 1782, dan Muslim, no. 1256, dari Ibnu Abbas radhiallahu ’anhuma, dia berkata: Rasulullah sallallahu ’alaihi wasallam bersabda kepada wanita dari Anshar: ”Apa yang menghalangi anda melaksanakan haji bersama kami?” Dia berkata: ”Kami hanya mempunyai dua ekor onta untuk menyiram tanaman. Bapak dan anaknya menunaikan haji dengan membawa satu ekor onta dan kami ditinggalkan satu ekor onta untuk menyiram tanaman.” Beliau bersabda: “Jika datang bulan Ramadan tunaikanlah umrah, karena umrah (di bulan Ramadhan) seperti haji”. Dalam riwayat Muslim: “(seperti) haji bersamaku”.

11.  Disunnahkan i’tikaf, karena Rasulullah sallallahu ’alaihi wa sallam senantiasa melaksanakannya, sebagaimana dalam hadits Aisyah radhiallahu ’anha, sesungguhnya Nabi sallallahu ’alaihi wa sallam biasanya beri’tikaf pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan hingga Allah ta’ala mewafatkannya, kemudian istri-istrinya beri’tikaf (sepeninggal) beliau”. (HR. Bukhari, no. 1922,  Muslim, no. 1172).

12.  Sangat dianjurkan sekali pada bulan Ramadan tadarus Al-Qur’an dan memperbanyak tilawah. Cara tadarus Al-Qur’an adalah dengan membaca (Al-Qur’an) kepada orang lain dan orang lain membacakan (Al-Qur’an) kepadanya. Dalil dianjurkannya (adalah): “Sesungguhnya Jibril bertemu Nabi sallallahu ’alaihi wa sallam setiap malam di bulan Ramadhan dan membacakan (Al-Qur’an) kepadanya”. (HR. Bukhari, no. 6, dan Muslim, no. 2308). Membaca Al-Qur’an dianjurkan secara mutlak, akan tetapi pada bulan Ramadan sangat ditekankan.

13.  Dianjurkan di bulan Ramadhan memberikan buka kepada orang yang berpuasa, berdasarkan hadits Zaid Al-Juhany radiallahu ’anhu berkata, Rasulullah sallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: ”Barangsiapa memberi buka (kepada) orang yang berpuasa, maka dia (akan mendapatkan) pahala seperti orang itu, tanpa mengurangi pahala orang berpuasa sedikit pun juga”. (HR.Tirmizi, no. 807,  Ibnu Majah, no. 1746, dinyatakan shahih oleh Al-Albany dalam shahih Tirmizi, no. 647).

Wallahu’alam .

Written by arrahmahcom

23/08/2009 at 10:29 am

Presiden Munafik Somalia Meminta Gencatan Senjata Dilakukan Selama Ramadhan

Presiden Munafik Somalia Meminta Gencatan Senjata Dilakukan Selama Ramadhan

MOGADISHU (Arrahmah.com) – Dengan dimulainya bulan suci Ramadhan, presiden munafik Somalia, Sharif Ahmed meminta kepada lawannya (mujahidin-red) untuk merebahkan senjata mereka dan melakukan gencatan senjata.

Ia mengatakan kepada BBC, bahwa dialog (pembicaraan damai) merupakan satu-satunya alternatif untuk permasalahan di Somalia dan ia menambahkan bahwa dirinya siap melakukan pembicaraan damai dengan para “militan” suatu saat nanti.

Di hari pertama Ramadhan (22/8), terjadi pertempuran di salah satu pos pemeriksaan di luar Mogadishu antara mujahidin Al-Shabaab dengan tentara pro-pemerintah.

Written by arrahmahcom

23/08/2009 at 7:35 am

Ditulis dalam Berita, International, Ramadhan

RAMADHAN & JIHAD

RAMADHAN & JIHADMarhaban Ya Ramadhan. Rasulullah SAW. selalu memotivasi para sahabat dengan kabar gembira akan datangnya Ramadhan, sebagaimana sabdanya, “Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, rajanya bulan, sambut dan hormatilah Ramadhan.” Lintasan sejarah Islam berbicara, terdapat hubungan yang penting antara jihad dan Ramadhan. Selama kehidupan Rasulullah saw., dua buah peperangan terjadi di bulan Ramadhan, yang pertama adalah Perang Badar yang terjadi di tahun kedua setelah hijrah, dan yang kedua Penaklukan Mekkah (futuh Makkah) sekitar 6 tahun kemudian.

Bahkan, setelah kehidupan Rasulullah SAW, bulan Ramadhan tetap menjadi bulan konfrontasi militer penting bagi kaum muslimin. Beberapa kejadian penting yang berhubungan antara bulan Ramadhan dan jihad terus terjadi dalam kehidupan bersejarah kaum muslimin. Tentunya, Allah SWT yang paling mengetahui hikmah yang besar mengapa bulan Ramadhan begitu memiliki kaitan erat dengan jihad. Pastinya, Allah SWT sajalah yang mengetahui hikmah itu semua dan memberikan indikasi dan tanda-tanda tersebut, yakni kaitan antara Ramadhan dan jihad kepada kaum muslimin.

Untuk memahami lebih dalam hubungan ini maka seseorang haruslah memahami esensi jihad sebaik dia memahami esensi shaum (berpuasa di bulan Ramadhan). Jihad adalah aktualisasi dari ibadah seorang muslim untuk membuktikan tidak ada kecintaan baginya kecuali hanya Allah SWT saja, Rasulullah SAW, dengan upaya sekuat tenaga untuk menggapai Ridho Ilahi.

Seorang Mujahid dengan bersungguh-sungguh memberikan semua apa pun miliknya di dunia, termasuk hidupnya, ini merupakan bukti bahwa dia sungguh-sungguh ikhlas beribadah hanya kepada Allah SWT. semata. Dia tidak memiliki keinginan lain, selain Allah SWT. Dia tidak menyembah materi apa pun dalam kehidupannya, keinginannya, dan semua semata-mata ditujukan untuk menggapai keridloan-Nya. Inilah tujuan seorang Mujahid dan tidak ada selain itu.

Untuk beberapa alasan, banyak muslim tidak mampu melakukan keikhlasan dalam beribadah tersebut. Mereka masih membutuhkan atau mengharapkan sesuatu yang lain meskipun mereka tahu bahwa mereka adalah hamba Allah SWT, mereka masih lebih mementingkan pekerjaan, keluarga, kesehatan, dan segala sesuatu yang merupakan kenikmatan dunia. Salah satu jalan untuk mencapai tingkat ketulusan ibadah tersebut adalah taqwa, sebagaimana firman Allah SWT.

“Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (QS 2 : 183)

Perintah Jihad dan Ramadhan

Dalam bulan yang diberkahi ini, dimana seluruh kaum muslimin berlomba-lomba untuk mencapai derajat taqwa, yakni mengerjakan seluruh perintah Allah SWT. dan meninggalkan seluruh larangan-Nya, maka kita akan sama-sama melihat berapa banyak atau seberapa besar kaum muslimin (selain mengerjakan perintah puasa) telah melaksanakan perintah jihad ? Atau membantu jihad ? Untuk membantu anak-anak dari ummat ini, khususnya mereka yatim piatu dari para syuhada ? Padahal perintah jihad sama wajibnya dengan perintah puasa Ramadhan.

Bayangkan, jika setiap wanita muslim di saat bulan Ramadhan ini menyisihkan uangnya Rp. 50.000 untuk diinfaqkan fi Sabilillah! Bayangkan, jika setiap ikhwah tidak menghabiskan waktu di setiap bulan Ramadhannya kecuali melakukan i’dad atau jihad fi sabilillah! Atau, jika itu tak terbayangkan, maka bayangkanlah mereka sedang duduk-duduk di rumah dan berfikir “Suatu hari nanti saya akan berjihad, tetapi hari ini anak saya masih terlalu kecil, istri saya tidak setuju, dan ibu saya sudah tua.”

Padahal, di masa keemasan sejarah Islam dahulu, bulan Ramadhan selalu berkaitan dengan jihad fi sabilillah. Rasulullah SAW dan para sahabatnya — yang mana mereka adalah umat Islam terbaik — tidak pernah meninggalkan kewajiban jihad, termasuk jihad tholab (jihad atas inisiatif kaum muslimin).

Buktinya Nabi SAW sendiri memerangi bangsa Arab kemudian memerangi Romawi di Tabuk, Rasulullah SAW sendiri telah melakukan 19 kali perang ghozwah, 8 diantaranya beliau terjun langsung di dalamnya. Adapun utusan dan sariyah-sariyah yang beliau tidak turut di dalamnya, jumlahnya mencapai 36 kali menurut riwayat Ibnu Ishaq, sedangkan yang lain berpendapat lebih dari itu.

Setelah itu, sepeninggal Rasulullah SAW para sahabat berperang menyerang bangsa Rum, Persi, Turki, Mesir, Barbar dan lain sebagainya, sampai-sampai ini sudah menjadi perkara yang maklum. Lalu, mengapa tradisi Islam ini tidak berlanjut kepada sebagian besar kaum muslimin saat ini. Ada apa dengan ummat Islam ?

Kita tentunya sudah tidak asing lagi dengan hadits tentang ‘penyakit ummat’ dewasa ini, yakni wahn, sebagaimana sabda Rasulullah saw.tentang al wahn yakni : “Cinta dunia dan tidak suka dengan perang.” Hadits shohih, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ahmad.

Abu Bakar Ash-Shiddiiq Radhiyallahu‘anhu  mengatakan pada khotbahnya yang pertama kali (ketika diangkat menjadi Kholifah)

:“Tidaklah sebuah kaum meninggalkan jihad kecuali mereka pasti hina.” Dan demi Allah sungguh dia benar.”

Perintah jihad juga dilaksanakan agar kita tidak terkena sifat orang-orang munafiq, sebagaimana sabda Beliau saw. :

“Barang siapa yang mati dan belum berperang dan belum membisikkan hatinya untuk

berperang, ia mati di atas salah satu cabang kemunafikan.” (HR. Muslim)

“Aku diutus dengan pedang menjelang hari Kiamat sehingga Allah diibadahi sendirian dan tidak ada ” sekutu bagiNya, dan dijadikan rizkiku di bawah naungan tombakku, dan dijadikan kehinaan bagi orang yang menyelisihi perintahku, dan barang siapa yang menyerupai sebuah kaum maka dia dari golongan mereka…(HR Ahmad)

“Apabila kalian telah berjual beli dengan cara al-‘ienah, mengikuti ekor-ekor sapi, rela dengan pertanian dan kalian meninggalkan jihad Allah pasti menimpakan kepada kalian kehinaan yang tidak akan di angkat dari kalian sampai kalian kembali kepada dien kalian.” (HR Abu Daud)

Apakah sikap Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu terhadap orang-orang murtad dan terhadap pasukan Usamah Radhiyallahu ‘anhu merupakan sikap fanatik yang dibenci atau teguh pendirian?! Ketika beliau mengatakan: “Demi Alloh! Seandainya mereka tidak menunaikan kepadaku ‘inaaq (seekor kambing betina sebagai zakat ternak-pent.) dan dalam riwayat lain ‘iqool (zakat unta dan kambing-pent.) yang pernah mereka tunaikan kepada Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pasti aku perangi mereka lantaran mereka tidak menunaikannya ….” (HR Bukhari) .

Dan ketika beliau berkata: “Demi (dzat) yang tidak ada ilaah selainNya, seandainya anjing-anjing membawa lari kaki-kaki istri-istri Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam aku tidak akan menarik kembali pasukan Usamah yang telah disiapkan oleh Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan tidak akan aku turunkan bendera yang telah ditegakkan Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam .” Seandainya terjadi pada kalian apa yang telah terjadi pada pada beliau maka apakah kalian akan tetap teguh sebagaimana beliau ataukah “setiap zaman itu mempunyai rijaal (pelaku-pelakunya sendiri)?” apakah hukum jahiliyah yang kalian kehendaki sedangkan nas-nas kalian selewengkan?!

Bukankah Islam itu: kamu serahkan ketundukanmu kepada Robbul ‘Alamiin!? Dialah yang menentukan kemaslahatan, bukan kamu, demi Allah alangkah baiknya Roofi’ Ibnu Khojiij, seorang sahabat yang mempunyai pandangan yang tajam ketika beliau mengatakan: “…. Suatu hari datang kepada kami seorang dari pamanku lalu dia mengatakan: “Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam melarang sesuatu yang bermanfaat bagi kami, dan ketaatan kepada Allah dan RasulNya itu lebih bermanfaat bagi kami, kami dilarang muhaaqolah pada (hasil) bumi….” Al-Muhaaqolah adalah jual beli tanaman sebelum ia layak (dipanen).

Dan alangkah bijaksananya sebuah kalimat -seandainya kita memahaminya- yang mengatakan: “Sesungguhnya beban-beban Qu’uud (duduk) dari jihad yang berupa kerugian dan darah itu berlipat ganda dari pada beban-beban melaksanakan jihad.”

Dengan kata lain, ada rahasia dan hikmah yang besar pada firman Allah SWT yang memerintahkan puasa sama persis redaksinya dengan firman Allah SWT yang memerintahkan jihad:

“Telah diwajibkan kepada kalian berperang.”

“Telah diwajibkan kepada kalian puasa.”

Maka apakah kita ingin beriman kepada sebagian isi Al-Qur’an dan ingkar kepada sebagian yang lain ?

Wallahu’alam bis showab! Marhaban Yaa Ramadhan…!

(arrahmah/almuhajirun)

Written by arrahmahcom

22/08/2009 at 12:51 pm

Ditulis dalam Berita, Muhasabah, Ramadhan

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.